Di sebuah ruangan konferensi pers di bilangan Jakarta Selatan, Jumat sore, suasana terasa berbeda. Cahaya lampu tidak menyala terlalu terang, seolah menghormati kesunyian yang hadir di antara deretan kursi. Di tengah meja panjang, sebuah mikrofon dibiarkan terpasang di stand kosong, dan di sampingnya tergeletak sebuah topi khas berwarna gelap yang begitu dikenal penggemarnya. Tidak ada yang perlu ditanya lagi; kehadiran benda sederhana itu sudah cukup mengisahkan. Ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang yang datang bukan sekadar untuk sebuah pengumuman acara, melainkan untuk menyaksikan momen mengharukan ketika Glenn Fredly, sang anak Ambon yang pergi dua tahun lalu, secara batiniah diajak kembali ke Timur.
Proyek "Glenn Fredly Kembali ke Timur" bukanlah konser biasa atau reuni yang terencana dalam hitungan minggu. Ini adalah sebuah perjalanan panjang yang lahir dari kerinduan, dari luka yang perlahan diubah menjadi doa, dan dari tekad kuat untuk memastikan bahwa mimpi seseorang tidak mati bersama tubuhnya. Setiap orang yang hadir di ruangan itu tampak membawa beban sendiri; ada yang membawa kenangan pribadi, ada yang membawa rasa syukur, dan ada pula yang berusaha keras menahan air mata ketika aroma kopi khas Maluku—kesukaan Glenn—dihidangkan di sudut ruangan.
Mimpi yang Kembali Menyala
Di balik layar proyek megah ini, tim yang pernah bekerja langsung dengan Glenn menceritakan betapa berliku proses perjalanannya. Mereka harus berjuang menyatukan arsip-arsip lama yang tersimpan dalam kotak-kotak karton sederhana di sebuah studio rekaman. Di antara not balok dan lirik yang tercoret tangan, mereka menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada emas: catatan kecil Glenn tentang keinginannya membangun sekolah musik di Papua dan Maluku. "Kami menemukan secarik kertas yang ditulisnya pada 2019. Di situ dia bilang, 'Timur bukan hanya tempatku dilahirkan, tapi tempatku ingin mati berkarya,'" ujar salah satu kurator proyek, suaranya bergetar di antara dengar sunyi.
Kisah itu langsung mengubah konsep awal yang sederhana menjadi sebuah misi. Bukan lagi sekadar mengenang, tetapi menghidupkan kembali semangat yang sempat terhenti. Para musisi yang akan tampil dalam proyek ini bukan dipilih karena popularitasnya, melainkan karena kedalaman hubungan mereka dengan Glenn dan pemahaman mereka akan apa arti Timur bagi sang maestro. Setiap nama yang disebutkan dalam konferensi pers itu bukan daftar bintang tamu, melainkan daftar sahabat yang pernah berbagi panggung, air mata, dan tawa dengannya.
Di Balik Layar Kerinduan
Yang paling menyentuh hati adalah ketika sang adik naik ke podium. Dengan suara yang tenang namun penuh tekad, ia menceritakan betapa keluarga sempat ragu ketika ide ini pertama kali muncul. "Kami takut dipandang mencari untung dari kepergiannya. Tapi kemudian kami sadar, kakak pergi dengan begitu banyak mimpi yang belum sempat diwujudkan. Kalau bukan kami yang melanjutkannya, siapa lagi?" ucapnya. Kalimat itu membuka bendungan rasa. Beberapa wartawan yang biasanya keras dalam bertanya terlihat menyeka sudut mata mereka.
"Glenn selalu bilang, Timur itu bukan sekadar arah mata angin. Baginya, Timur adalah napas, adalah ibu yang selalu menariknya pulang. Kali ini, kami yang membawa napasnya kembali ke sana."
Proyek ini juga akan menggandeng perajin dan musisi dari berbagai daerah di Indonesia timur. Tidak ada konsep megah yang menjauhkan dari akar; justru yang diusung adalah kesederhanaan yang dulu selalu Glenn junjung. Panggung akan didominasi elemen kayu dan anyaman khas Nusantara, lighting tidak dibuat bombastis, dan setiap lagu akan diaransemen dengan sentuhan alat musik tradisional dari Maluku hingga Papua. Semua adalah bentuk cinta yang ingin memastikan bahwa Glenn pulang dengan cara yang paling hangat.
Bangkit dalam Melodi dan Doa
Ketika sesi tanya jawab usai, layar besar di belakang podium menyala. Bukan trailer konser yang ditampilkan, melainkan video arsip pribadi: Glenn sedang duduk di teras rumah sederhana di Ambon, memetik gitar sambil tersenyum ke arah kamera. Angin laut tampak menerbangkan rambutnya, dan di matanya terpancar cinta yang begitu dalam untuk tanah kelahirannya. Tidak ada yang bersuara. Yang terdengar hanya isakan pelan dan desiran napas orang-orang yang merasa didatangi oleh roh kebaikan sang legenda.
Seorang rekan musisi yang duduk di barisan depan kemudian berdiri dan berkata, "Ini bukan tentang mengubur kenangan. Ini tentang membiarkan inspirasi itu terus tumbuh. Glenn sudah menunjukkan kepada kita bahwa musik bisa menjadi doa, dan doa bisa menjadi perubahan." Proyek "Kembali ke Timur" rencananya akan berkeliling ke beberapa kota di Indonesia timur, membawa beasiswa musik untuk anak-anak kurang mampu, serta merekam ulang beberapa lagu klasik Glenn dengan aransemen yang lebih dekat dengan bumi Papua dan Maluku.
Konferensi pers itu ditutup dengan pembacaan doa bersama. Bukan doa untuk seorang yang telah tiada, melainkan doa agar perjalanan pulang ini menjadi berkah. Ketika semua orang bangkit dari kursi mereka, topi di atas meja itu diangkat dengan hormat oleh seorang kru muda. Ia membawanya keluar ruangan dengan hati-hati, seolah menuntun sang legenda untuk benar-benar bangkit dan berjalan bersama mereka menuju Timur. Di luar, senja Jakarta terbenam dengan warna oranye yang membara—mirip dengan warna langit di Ambon yang selalu Glenn rindukan. Dan di saat itulah, semua yang hadir merasa yakin: Glenn Fredly memang telah kembali ke Timur, bukan untuk pergi, melainkan untuk tinggal selamanya di hati negeri ini.
Comments (0)