Di tengah pesatnya era digital dan kemudahan mengakses musik lewat platform streaming online, sebuah tren unik justru mencuri perhatian publik. Format audio fisik lawas seperti kaset pita, compact disc (CD), hingga piringan hitam (vinyl) kini kembali diburu dan digandrungi oleh kalangan anak muda, khususnya Generasi Z dan Milenial.
Tak hanya menjadi barang pajangan bernilai estetika tinggi, media rilisan fisik ini kembali difungsikan sebagaimana mestinya: diputar dan dinikmati secara utuh. Fenomena ini menandai pergeseran gaya konsumsi musik yang kini lebih menghargai proses kurasi ketimbang kepraktisan algoritma instan.
Kronologi Kebangkitan Tren Rilisan Fisik di Kalangan Remaja
Kembalinya popularitas format audio lawas ini tidak terjadi dalam semalam. Ada serangkaian proses dan dinamika tren yang membentuk antusiasme anak muda hingga hari ini:
- Awal Mula Tren Vintage (2020–2022): Rasa jenuh terhadap aktivitas serba digital selama masa pembatasan sosial mendorong banyak pemuda mencari hobi alternatif, mulai dari kamera analog hingga berburu kaset pita di pasar loak seperti Blok M Square dan Jalan Surabaya Jakarta.
- Musisi Populer Merilis Format Kaset dan CD (2023): Sejumlah musisi independen maupun label besar global dan lokal mulai merilis album baru dalam bentuk kaset dan CD edisi terbatas (limited edition), memicu antusiasme penggemar fanatik untuk mengoleksinya.
- Kelahiran Komunitas Kolektor Muda (2024–Sekarang): Pasar rilisan fisik kini diramaikan oleh gelaran record store day lokal dan pameran pop culture yang mayoritas pengunjungnya berusia 17 hingga 28 tahun.
"Mendengarkan kaset pita itu ada seninya tersendiri. Kita diajak menikmati album dari lagu pertama sampai terakhir tanpa tergoda untuk menekan tombol skip seperti di aplikasi streaming," ungkap Dimas (22), seorang mahasiswa dan kolektor kaset asal Jakarta Selatan.
Faktor Pemicu Kaset dan CD Kembali Diburu
Ada beberapa alasan mendasar mengapa format fisik kembali memikat hati generasi yang lahir di era serba internet:
- Sensasi Kepemilikan yang Nyata: Layanan streaming hanya menyewakan hak dengar lagu. Sebaliknya, membeli CD atau kaset memberikan hak kepemilikan utuh atas karya musik beserta booklet lirik, poster, dan artwork aslinya.
- Karakteristik Suara yang Khas: Suara desis lembut (tape hiss) dari kaset pita dan kehangatan audio analog dinilai memberikan karakter suara organik yang tidak bisa ditiru oleh file digital terkompresi.
- Gaya Hidup dan Estetika Retro: Kehadiran pemutar CD portabel, Walkman jadul, hingga boombox retro dianggap sebagai bagian dari identitas fashion dan dekorasi kamar yang fotogenik di media sosial.
Tren ini membuktikan bahwa kehadiran teknologi modern tidak serta-merta mematikan medium konvensional. Rilisan fisik kini menemukan ruang baru sebagai simbol apresiasi seni yang mendalam sekaligus jembatan nostalgia bagi generasi masa kini.
Comments (0)