Di bawah sorot lampu teater yang mulai meredup, seorang gadis berbalut kostum panggung berdiri mematung. Jemarinya mengepal, menahan gemetar yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipi yang biasanya merona cerah di atas panggung. Malam itu bukanlah pertunjukan biasa. Malam itu, Gendis Mayrannisa menyampaikan satu keputusan yang akan mengubah segalanya: ia pamit.
Ratusan pasang mata yang memadati teater langsung hening. Suara isak tangis dari barisan penonton mulai terdengar, bercampur dengan tepuk tangan yang terdengar berat, seolah setiap tepukan adalah ungkapan terima kasih yang terlalu besar untuk diutarakan dengan kata-kata. Di panggung yang sama tempat ia menari dan bernyanyi selama bertahun-tahun, Gendis berdiri sebagai pusat dari sebuah perpisahan yang begitu personal dan menyentuh.
Comments (0)