Aug 25, 2026
entertainment

Festival Bedhayan 2026: Air Mata dan Mimpi di Balik Tarian Sakral

Di sebuah kamar berukuran tiga kali empat meter di pinggiran Kota Solo, Kirana Larasati (19) menekuk lututnya perlahan. Jemarinya membentuk sikap tangan yang nyaris sempurna, sementara kipas kecil di ...

Festival Bedhayan 2026: Air Mata dan Mimpi di Balik Tarian Sakral

Di sebuah kamar berukuran tiga kali empat meter di pinggiran Kota Solo, Kirana Larasati (19) menekuk lututnya perlahan. Jemarinya membentuk sikap tangan yang nyaris sempurna, sementara kipas kecil di tangan kirinya bergetar mengikuti irama gending yang mengalun dari telepon genggam butut. Sudah dua tahun ia mengulang gerakan yang sama, malam demi malam, demi satu panggung yang selama ini hanya berani ia datangi dalam mimpi: Festival Bedhayan 2026.

"Nenek pernah bilang, menari bedhaya itu bukan soal indah. Ini soal hati yang ikhlas larut dalam irama," tutur Kirana, matanya berkaca-kaca. Bagi gadis yang besar di kampung batik Laweyan itu, bedhaya bukan sekadar tarian. Ia adalah warisan yang ditinggalkan almarhum neneknya, seorang penari keraton pada masanya. Warisan yang kini ia jaga dengan segenap jiwa.

Panggung yang Dinanti Ribuan Penari Muda

Festival Bedhayan 2026 digelar meriah di Kota Surakarta, menghadirkan puluhan sanggar dari berbagai penjuru Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga para perantau yang pulang khusus demi acara ini. Sejak pagi, kawasan festival dipadati penari muda bersanggul gelung dan berkain jarik, berbaur dengan orang tua yang setia mendampingi. Aroma melati berpadu dengan alunan gamelan, menciptakan suasana magis yang sulit dilukiskan kata-kata.

Di balik layar, suasana jauh lebih emosional. Para penari saling merapikan selendang, menguatkan genggaman tangan, bahkan berpelukan menahan tangis sebelum naik panggung. Bagi banyak dari mereka, festival ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang penuh pengorbanan.

"Ada yang menabung setahun hanya untuk kostum. Ada yang latihan sepulang kerja sampai tengah malam. Semua demi beberapa menit di atas panggung ini," ujar Sinta Maharani, salah satu pelatih sanggar yang telah dua puluh tahun membina penari muda.

Perjalanan Sunyi di Balik Gemulai Gerakan

Kisah Kirana hanyalah satu dari ratusan kisah mengharukan di festival ini. Sejak ayahnya tiada, ia hidup sederhana bersama ibunya yang berjualan jamu keliling. Biaya latihan dan kostum tari kerap menjadi beban. Namun ibunya tak pernah melarang. "Ibu bilang, selama kaki masih bisa bergerak, jangan pernah berhenti menari," kenang Kirana.

Momen paling menyentuh terjadi ketika namanya dipanggil ke atas panggung. Di barisan penonton, ibunya duduk dengan mata berbinar, memegang foto mendiang suaminya. Saat gending mulai mengalun dan Kirana bergerak gemulai, perempuan paruh baya itu tak kuasa menahan air mata.

"Saya seperti melihat ibu mertua saya hidup kembali. Gerakannya sama. Hatinya sama. Saya bangga, Nak Kirana tidak menyerah," ucap ibu Kirana dengan suara bergetar.

Menjaga Api Tradisi di Tengah Deru Zaman

Di tengah gempuran hiburan digital, keberadaan tarian bedhaya yang sakral dan penuh filosofi menghadapi tantangan besar. Minat generasi muda sempat menurun, dan banyak sanggar kecil berjuang bertahan. Namun festival ini menjadi bukti bahwa api tradisi itu belum padam. Ia justru menyala kembali di tangan anak-anak muda.

"Bedhaya mengajarkan kesabaran, kerendahan hati, dan keikhlasan. Nilai-nilai itu tidak lekang oleh zaman. Selama masih ada anak muda yang mau belajar, tradisi ini akan terus hidup," tutur seorang sesepuh penari keraton yang hadir memberikan wejangan kepada para peserta.

Panitia penyelenggara menyebut antusiasme peserta tahun ini meningkat dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Banyak wajah baru, banyak sanggar muda, dan banyak cerita inspirasi yang lahir dari panggung sederhana ini.

Mimpi yang Akhirnya Menemukan Panggungnya

Bagi Kirana, malam itu bukan akhir, melainkan awal. Ia bermimpi suatu hari bisa membuka sanggar kecil di kampungnya, mengajari anak-anak tetangga menari tanpa memungut biaya. "Nenek menari untuk keraton. Saya ingin menari untuk kampung saya," katanya tersenyum.

Ketika lampu panggung perlahan padam dan tepuk tangan membahana, Kirana menunduk dalam. Di dadanya, ada rasa yang tak sanggup ia jelaskan, campuran lega, haru, dan syukur. Sebuah momen mengharukan yang akan ia kenang seumur hidupnya.

Festival Bedhayan 2026 mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun bagi para penjaga tradisi seperti Kirana, panggung itu adalah rumah. Tempat mimpi diperjuangkan, air mata dihapus, dan warisan leluhur terus dihidupkan dengan cinta.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User