Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, Fauzan Zidni duduk termenung. Sebatang pena di genggamannya berputar perlahan, seolah mencari ritme dari denyut nadi yang baru saja berubah. Di atas meja kayu sederhana, setumpuk naskah film independen dari berbagai pelosok Nusantara menatapnya dalam diam. Malam itu, setelah pengumuman resmi menempatkannya sebagai Ketua Badan Perfilman Indonesia untuk periode 2026-2029, ia tidak merayakan kemenangan dengan pesta. Sebaliknya, ia memilih berduaan dengan bayang-bayang para sineas yang perjalanannya ia kenal betul. Sebuah tanggung jawab besar baru saja menempel di bahunya, dan ia tahu, ini bukan tentang jabatan, melainkan tentang mimpi ribuan orang.
Sebuah Tanggung Jawab di Bahu yang Baru
Perjalanan Fauzan ke kursi kepemimpinan BPI tidak digambarkannya sebagai puncak gemilang. Bagi pria yang telah lama berkutat di balik layar industri perfilman tanah air, pengangkatan tersebut justru menjadi momen mengharukan yang mengingatkannya akan janji-janji sederhana pada para pembuat film. Dari jendela ruangannya, ia memandang jalanan kota yang mulai sepi, lalu teringat wajah-wajah kru film yang pernah berjuang menyiapkan katering sendiri karena anggaran minim, atau sutradara muda yang rela tidur di lantai studio demi sebuah adegan impian.
Bagi Fauzan, memimpin BPI 2026-2029 bukanlah soal kekuasaan administratif. Ini adalah kesempatan untuk menyentuh ujung-ujung cerita yang selama ini hanya bergaung di telinga komunitas kecil. Ia ingin mengisahkan kembali makna perfilman Indonesia, bukan sebagai komoditas semata, melainkan sebagai wadah bagi mereka yang punya mimpi besar namun berangkat dari latar yang sangat sederhana. Setiap keputusan yang akan ia ambil, katanya, harus berpihak pada manusia di balik kamera.
"Saya tidak merasa menang. Saya merasa dipilih untuk membawa beban yang lebih berat. Di balik setiap film Indonesia, ada air mata, ada perjuangan, ada kisah seseorang yang bangkit dari kegagalan. Saya tidak bisa mengecewakan mereka."
Di Balik Layar Pasar yang Terus Berjuang
Ketika pembicaraan beralih soal rencana memperluas pasar film Indonesia, Fauzan tidak langsung menyebut angka target penonton atau strategi distribusi yang kaku. Matanya berbinar-binar seolah sedang melihat sesuatu yang jauh di balik angka-angka tersebut. Bagi Fauzan, pasar yang sehat adalah pasar yang mampu menampung beragam suara, mulai dari film komersial besar hingga karya-karya yang lahir dari dapur produksi sederhana di pinggiran kota.
Ia mengisahkan betapa menyentuhnya melihat film-film dari daerah-daerah terpencil yang memiliki kualitas narasi luar biasa, namun terhenti karena tidak memiliki jaringan distribusi. Perluasan pasar, menurutnya, bukan hanya soal menambah jumlah layar di pusat-pusat perbelanjaan megah. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan untuk memastikan bahwa seorang penonton di ujung timur maupun barat Indonesia bisa merasakan getaran cerita dari kampung halamannya sendiri, di layar lebar, dengan bangga.
Fauzan percaya bahwa inspirasi terbesar industri ini bukan datang dari puncak, melainkan dari akar. Ia berencana menjadikan BPI sebagai jembatan yang menghubungkan para sineas lokal dengan ekosistem yang lebih luas. Baginya, setiap tiket yang terjual adalah sebuah pengakuan, dan setiap pengakuan adalah bentuk cinta pada perjuangan kreator.
"Kita sering bicara soal pasar seolah itu hanya angka dan grafik. Tapi pasar film adalah hati penonton. Kita harus berjuang agar film Indonesia tidak hanya hidup di ibu kota, tapi juga bernapas di setiap sudut negeri. Itu mimpi yang sederhana, tapi butuh kerja keras besar."
Mimpi Oscar, Bukan Sekadar Piala
Di tengah percakapan yang hangat, Fauzan kemudian menyebut sebuah kata yang selama ini menjadi gairah sekaligus beban bagi banyak insan perfilman: Oscar. Namun, cara ia menyampaikan target tersebut jauh dari retorika kemenangan yang seringkali terdengar angkuh. Suasana ruangan sekejap terasa lebih hening, seolah kata itu membawa bobot sejarah panjang. Bagi Fauzan, pencapaian puncak seperti Oscar bukanlah tujuan akhir yang megah, melainkan momen untuk menghormati perjalanan panjang para sineas Indonesia yang telah berkarya dalam sunyi.
Ia mengingat kembali kisah-kisah inspirasi para pembuat film yang rela mengorbakan waktu, tenaga, dan harta demi sebuah adegan yang mungkin hanya berdurasi beberapa detik di layar. Air mata yang jatuh di lokasi syuting, tawa renyah yang pecah setelah take terakhir yang melelahkan, serta bangkitnya semangat setiap kali sebuah proyek terancam gagal. Semua itu, katanya, adalah bahan bakar yang sebenarnya mendorong ambisi besar perfilman Indonesia untuk bersaing di panggung dunia.
Oscar, dalam pandangannya, adalah bentuk penghargaan untuk perjuangan yang tak terhitung jumlahnya itu. Bukan untuk membuat Indonesia terlihat besar di mata dunia, tapi untuk mengatakan pada para sineas di rumah bahwa mimpi mereka valid, bahwa kisah mereka layak didengar, dan bahwa bangkit dari setiap kegagalan adalah hal yang menyentuh hati siapa pun, di mana pun mereka berada.
"Kita ingin ke Oscar bukan karena ingin pamer. Kita ingin ke sana karena ada ribuan sineas di negeri ini yang sudah terlalu lama berkarya dalam diam. Mereka pantas melihat bendera kita berkibar di sana. Itu akan menjadi momen mengharukan bagi kita semua, bukan hanya untuk saya sebagai ketua, tapi untuk setiap orang yang pernah berjuang di balik layar."
Malam semakin larut, dan setumpuk naskah di meja kayu sederhana itu masih menunggu. Namun kini, di bawah lampu temaram, Fauzan Zidni tampak lebih ringan. Bukan karena bebannya berkurang, melainkan karena ia telah menemukan kembali alasan mengapa ia memulai semua ini: untuk manusia, untuk kisah, dan untuk mimpi-mimpi sederhana yang bersinar paling terang di tengah kegelapan.
Comments (0)