Aug 26, 2026
entertainment

Evolusi TULOLA: Ketika Perhiasan Menyimpan Cerita Hidup

Di tengah riuh rendah Jakarta yang tak pernah tidur, ada ruang yang lebih hening pada akhir Juli 2026. Di dalamnya, cahaya lampu temaram jatuh di atas kotak-kotak kaca berisi benda-benda yang tak lazi...

Evolusi TULOLA: Ketika Perhiasan Menyimpan Cerita Hidup

Di tengah riuh rendah Jakarta yang tak pernah tidur, ada ruang yang lebih hening pada akhir Juli 2026. Di dalamnya, cahaya lampu temaram jatuh di atas kotak-kotak kaca berisi benda-benda yang tak lazim. Bukan sekadar emas atau permata, melainkan anyaman benang katun, serpihan logam daur ulang, dan batok kelapa yang dibentuk menyerupai makhluk kecil. Di sinilah TULOLA memamerkan koleksi terbarunya bertajuk “EVOLUSI” dalam gelaran Kawan Nusantara, 23–24 Juli 2026. Bagi para penikmat seni yang datang, pameran ini bukan hanya tentang perhiasan—melainkan undangan untuk menyelami kisah tentang perubahan, harapan, dan ketekunan.

TULOLA dikenal sebagai jenama artwear yang mengusung filosofi bahwa aksesori adalah kanvas berjalan. Setiap karya lahir dari tangan para perajin di pelosok Nusantara yang mengolah material sisa menjadi benda bernilai seni tinggi. Koleksi EVOLUSI adalah puncak dari perjalanan panjang itu: sebuah pernyataan bahwa keindahan bisa tumbuh dari hal-hal yang terbuang. Di bawah bimbingan desainer utamanya, Rara Anggraini, TULOLA menghadirkan lebih dari tiga puluh karya yang masing-masing memiliki cerita unik—mulai dari kalung spiral yang merepresentasikan siklus kehidupan hingga anting berbentuk sarang yang melambangkan rumah yang terus berubah.

“Kami ingin mengingatkan bahwa perubahan adalah satu-satunya yang pasti,” ujar Rara dengan suara lembut saat ditemui di sela pameran. “Material yang kami gunakan adalah benda-benda yang mungkin dianggap tak berharga, tapi melalui sentuhan tangan dan waktu, mereka bertransformasi. Sama seperti manusia: kita semua dalam proses menjadi.”

Merangkai Makna dari Serpihan yang Terlupakan

Setiap sudut ruang pameran seolah bercerita. Di satu meja, terdapat bros berbentuk kupu-kupu yang sayapnya terbuat dari lempengan kaleng bekas yang diukir dengan motif batik Parang. Di sisi lain, tergantung kalung panjang dari sisa benang tenun yang dipilin menyerupai akar pohon. Semua terasa organik, seolah benda-benda itu masih hidup dan bernapas. Rara menjelaskan bahwa inspirasi koleksi datang dari pengamatannya terhadap alam: metamorfosis serangga, pertumbuhan tanaman merambat, dan pasang surut ombak yang mengikis karang. “Alam tidak pernah menolak perubahan, ia justru merayakannya dalam diam,” tambahnya.

Yang menarik, TULOLA tidak hanya memamerkan hasil akhir, tapi juga mendokumentasikan proses penciptaannya. Di dinding tergantung foto-foto para perajin—kebanyakan perempuan paruh baya dari desa di Jawa Tengah—yang dengan tekun memotong, menganyam, dan menyolder setiap elemen. Satu foto memperlihatkan seorang ibu yang duduk di depan tungku kecil, tangannya memegang besi panas untuk membentuk spiral dari kawat bekas. Senyum di wajahnya seakan menegaskan bahwa pekerjaan ini bukan sekadar mata pencarian, melainkan wujud pengabdian pada tradisi dan kreativitas.

“Saya bekerja dengan bahan-bahan yang sering diabaikan orang. Tapi setelah jadi kalung atau anting, banyak yang terkejut melihat keindahannya. Seperti itulah hidup saya: dari yang sederhana, bisa jadi bermakna,” tutur Sri, salah satu perajin yang turut hadir di pembukaan pameran.

Kawan Nusantara: Ruang Jumpa yang Melampaui Transaksi

Gelaran Kawan Nusantara tahun ini menjadi panggung yang tepat bagi TULOLA untuk menyampaikan pesannya. Acara yang mempertemukan puluhan jenama lokal dengan ribuan pengunjung ini tak hanya berorientasi pada jual-beli, melainkan juga berbagi cerita. Di booth TULOLA, pengunjung tidak sekadar melihat dan membeli, tapi juga diajak berdialog. Mereka bisa menyentuh material mentah, melihat langsung demo pembuatan, hingga mendengarkan rekaman suara para perajin yang bercerita tentang harapan mereka. Semua itu menciptakan pengalaman yang intim dan personal.

Salah satu momen yang paling menyentuh terjadi saat seorang perempuan muda berhenti di depan bros berbentuk kepompong. Ia menatapnya lama, lalu berbisik kepada temannya. Kemudian ia memutuskan membeli bros itu dan berkata, “Saya sedang berusaha bangkit dari masa sulit. Bros ini akan menjadi pengingat bahwa saya juga bisa berubah menjadi versi terbaik diri saya.” Air mata Rara sempat menggenang mendengarnya. “Di saat seperti itulah saya merasa pekerjaan ini benar-benar berarti,” kenangnya.

Evolusi yang Tak Pernah Selesai

Koleksi EVOLUSI tidak hanya berhenti pada produk fisik. Ada pesan keberlanjutan yang kuat: hampir 90 persen material yang digunakan berasal dari limbah industri kecil, seperti sisa potongan logam dari pabrik perkakas di Tegal, serat kelapa dari pengrajin sapu di Klaten, dan kain perca dari konveksi rumahan di Solo. Dengan merangkul sistem upcycling, TULOLA secara tidak langsung turut mengurangi jejak lingkungan sekaligus memberdayakan ekonomi setempat. Rara menyebutnya sebagai “ekosistem estetika” yang saling menghidupi.

Di penghujung pameran pada 24 Juli sore, beberapa karya sudah habis terjual. Namun ada satu kalung spiral dari tembaga daur ulang yang sengaja Rara simpan. “Ini akan saya kenakan sendiri,” katanya sambil tersenyum. “Sebagai pengingat bahwa evolusi saya, tim, dan perajin masih terus berjalan. Tidak ada yang final.”

Kini, setelah gelaran usai, TULOLA berencana membawa koleksi ini ke pameran di Yogyakarta dan Bandung. Namun lebih dari itu, mereka ingin menyebarkan filosofi EVOLUSI ke lebih banyak orang: bahwa dalam setiap perubahan, sekecil apa pun, selalu ada keindahan yang menunggu untuk ditemukan. Dan kadang, keindahan itu bisa kita bawa di tubuh kita sendiri—sebagai aksesori yang tak hanya mempercantik penampilan, tapi juga menyentuh jiwa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User