Oct 14, 2026
entertainment

Enam Masjid untuk Shandy, Kado Cinta di Hari Ulang Tahun

Air mata Shandy Purnamasari jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena perhiasan atau pesta mewah, melainkan karena hadiah yang baru saja diserahkan sang suami, Gilang Widya Pramana. Di depan orang-orang ...

Enam Masjid untuk Shandy, Kado Cinta di Hari Ulang Tahun

Air mata Shandy Purnamasari jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena perhiasan atau pesta mewah, melainkan karena hadiah yang baru saja diserahkan sang suami, Gilang Widya Pramana. Di depan orang-orang terdekatnya, perempuan yang akrab disapa Shandy itu menerima kado ulang tahun yang tak biasa: enam masjid. Bukan maket, bukan sertifikat tanah biasa, melainkan bangunan ibadah yang akan berdiri dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Momen itu terekam dalam unggahan di akun Instagram pribadinya. Wajah Shandy tampak basah oleh tangis. Ia menutupi mulut dengan tangan, mencoba menahan isak yang justru makin keras. Di sampingnya, Gilang berdiri dengan senyum tipis, seperti seseorang yang telah lama menyembunyikan sebuah rencana besar. "Aku benar-benar enggak nyangka," ujarnya lirih, dikutip dari unggahan tersebut.

Hadiah yang Tak Dibeli, tetapi Dibangun

Bagi sebagian orang, ulang tahun identik dengan hadiah yang bisa dipakai atau dipamerkan. Tas mahal, jam mewah, atau liburan ke negeri jauh. Namun pasangan pengusaha asal Malang itu memilih jalan yang berbeda. Enam masjid bukanlah hadiah yang bisa dikenakan di pergelangan tangan atau diunggah sebagai gaya hidup semata. Ia adalah amal jariyah, sesuatu yang sengaja dibangun untuk jangka panjang.

Shandy sendiri dikenal sebagai figur yang aktif dalam kegiatan sosial. Melalui yayasan yang ia naungi, berbagai program kemanusiaan telah berjalan, mulai dari bantuan pendidikan hingga pembangunan fasilitas umum. Namun masjid, baginya, punya tempat istimewa. Ia kerap menyebut bahwa rumah ibadah adalah tempat manusia kembali pulang, tempat orang-orang menemukan ketenangan di tengah hidup yang bising.

"Kalau bisa, aku ingin setiap tahun bisa menambah lagi. Bukan buat aku, tapi buat orang-orang yang butuh tempat buat berdoa," katanya sambil menyeka pipi.

Perjalanan dari Mimpi Kecil

Di balik momen mengharukan itu, tersimpan perjalanan panjang pasangan ini. Gilang dan Shandy bukan tipe yang tiba-tiba berada di posisi sekarang. Mereka merintis usaha dari nol, melewati masa-masa sulit, bahkan pernah jatuh bangun hingga membuat mereka belajar arti kesederhanaan. Ketika rezeki mulai berlimpah, keduanya berjanji tidak melupakan hal yang paling mendasar: berbagi.

Maka ketika hari ulang tahun Shandy tiba, Gilang memilih cara yang paling ia yakini mampu menyentuh hati istrinya. Ia tidak memesan kado di butik atau toko perhiasan. Ia menyiapkan sesuatu yang prosesnya panjang, dari mencari lokasi, menghitung anggaran, hingga berkoordinasi dengan pengurus setempat. Semua dilakukan diam-diam, di balik layar, agar kejutan itu benar-benar utuh.

Tangis yang Menyimpan Syukur

Bagi Shandy, tangis itu bukan tanda sedih. Ia adalah luapan syukur yang bertahun-tahun dipendam. Ia mengisahkan bagaimana dirinya pernah bermimpi sederhana: ingin melihat orang-orang bisa beribadah dengan nyaman tanpa harus kehujanan atau kepanasan. Mimpi itu kini berdiri di enam titik berbeda, di wilayah yang membutuhkan.

"Aku menangis karena ingat perjalanan kami. Dulu kami cuma bisa berdoa, sekarang bisa bikin tempat buat orang berdoa," ujarnya.

Sontak emosional itu juga dirasakan oleh warganet. Kolom komentar unggahan tersebut dipenuhi doa dan cerita serupa. Ada yang mengaku terinspirasi untuk berbuat hal kecil di lingkungannya, ada pula yang menuliskan bahwa kado terbaik bukanlah yang termahal, melainkan yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Kisah ini menegaskan satu hal: cinta tidak selalu hadir dalam bentuk bunga atau kejutan romantis. Kadang ia berdiri sebagai bangunan sederhana, beratap seng, dengan lantai keramik yang belum sempurna. Namun dari sana, suara azan akan berkumandang, dan doa-doa orang-orang kecil akan naik ke langit. Bagi Shandy, itu jauh lebih berharga dari apa pun yang bisa dibeli dengan uang. Ia bangkit dari tangisnya, mengucap syukur, lalu memeluk sang suami — sebuah pelukan yang bicara lebih banyak daripada kata-kata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User