Langit sore di ujung desa itu berwarna jingga keemasan, persis seperti yang selalu ia bayangkan dalam sembilan tahun terakhir. Perempuan itu turun dari bus antarkota dengan satu koper lusuh dan sepasang mata yang sembab. Namanya Pertiwi. Ia pulang bukan karena rindu, melainkan karena tak ada lagi tempat lain untuk pulang. Di usianya yang baru menginjak tiga puluh satu, ia memutuskan menutup lembaran hidup di kota besar dan kembali ke kampung halaman yang ia tinggalkan sejak lulus SMA.
Kisah Pertiwi inilah yang menjadi denyut utama Empat Musim Pertiwi, sebuah karya yang mengisahkan pergulatan hidup dan batin seorang perempuan penyintas kekerasan seksual. Alih-alih menyajikan kisah sebagai potret suram, karya ini memilih jalan berbeda: menelusuri satu per satu musim yang dilalui Pertiwi — musim keras, musim retak, musim diam, dan akhirnya musim yang berangsur menghangat.
"Aku pernah merasa tubuhku bukan milikku sendiri," ujar Pertiwi dalam sebuah wawancara, suaranya hampir berbisik. "Dan pulang ke rumah ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa belajar mengenalinya kembali."
Musim Keras yang Tak Terbaca di Kalender
Bagi Pertiwi, musim keras bukanlah hujan atau kemarau. Ia datang tiba-tiba, tanpa tanda, dan meninggalkan bekas yang tak kasat mata. Bertahun-tahun ia menanggung luka yang ia sembunyikan rapat-rapat, bahkan dari orang-orang terdekat.
Di kota, ia bekerja keras, berpindah dari satu kantor ke kantor lain, seolah sedang berlari dari sesuatu yang menghantui. Namun semakin jauh ia berlari, semakin dalam luka itu mengakar. "Yang paling melelahkan bukan peristiwanya," katanya, "tapi berpura-pura tidak apa-apa setiap hari."
Kekerasan seksual, seperti ia pelajari perlahan, meninggalkan dua luka sekaligus. Luka pada tubuh, dan luka pada cara seseorang memandang dirinya sendiri. Berat itu yang membuatnya akhirnya memilih pulang.
Di Sudut Rumah yang Sederhana
Rumah masa kecilnya kecil dan sederhana, bercat pudar, berdiri di antara sawah yang mulai menguning. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, ada meja kayu tua tempat ibunya dulu menyeduh teh setiap pagi. Di ruangan itulah Pertiwi mulai menata ulang hidupnya.
Ia belajar menanam cabai dan tomat di pekarangan belakang. Ia bangun lebih pagi dari siapa pun, menyiapkan kopi hitam, dan duduk memandang kabut yang turun dari perbukitan. Aktivitas-aktivitas kecil itu menjadi semacam obat — bukan penyembuh instan, tetapi tumpuan agar hari-hari tidak terasa begitu membebani.
"Aku menanam bukan karena ingin bertani," ujarnya sambil tersenyum tipis. "Aku menanam supaya bisa melihat sesuatu tumbuh. Karena kalau ada yang tumbuh, berarti tidak semuanya rusak."
Air Mata yang Menjadi Sumber Kekuatan
Perjalanan Pertiwi tidak berjalan lurus. Ada sore ketika ia menangis di belakang rumah, ada malam ketika ingatan itu kembali tanpa diminta. Namun, alih-alih menghindar, ia belajar menyapanya pelan-pelan. Ia mulai menulis, bercerita kepada beberapa orang yang ia percaya, dan mendengar kisah serupa dari perempuan lain yang juga pernah merasakan hal yang sama.
"Ternyata bukan hanya aku," katanya. "Dan mendengar itu, ada sesuatu di dalam diriku yang longgar. Seperti simpul yang akhirnya dilepas satu-satu."
Kisah empat musim pertinya berlabuh pada satu pesan sederhana: bahwa pemulihan bukan lomba cepat, melainkan perjalanan pelan yang penuh keberanian. Musim kelima mungkin belum datang, dan mungkin belum terlihat jelas. Tetapi Pertiwi kini tahu satu hal yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya: ia berhak pulang, berhak bangkit, dan berhak tumbuh kembali.
Comments (0)