Di sebuah ruang kerja sederhana di kawasan Jakarta Selatan, Ari Bias duduk termenung di depan tumpukan dokumen tebal. Di atas meja kayu itu tergeletak puluhan lembar berkas hukum, beberapa di antaranya sudah menguning dimakan waktu. Pria yang dikenal sebagai pencipta lagu Bilang Saja itu menghela napas panjang, lalu mengisahkan perjalanan yang tak pernah ia bayangkan akan sepanjang ini.
"Saya cuma ingin lagu saya dihargai. Bukan soal angka, tapi soal rasa hormat," ujarnya lirih, mata tuanya berkaca-kaca. Kalimat itu meluncur sederhana, namun menyimpan beban perjuangan yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Ari kembali melangkah ke ruang sidang. Untuk kali kelima, ia menggugat sejumlah pihak yang dianggapnya menggunakan karyanya tanpa izin, termasuk penyanyi Agnez Mo. Gugatan ini bukan yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir. Namun bagi Ari, setiap kali berdiri di depan hakim, ia seperti mengulang luka yang sama.
Bermula dari Sebuah Lagu yang Sederhana
Di balik layar, Bilang Saja lahir dari momen yang sangat manusiawi. Ari mengenang bagaimana ia menulis lagu itu di sebuah kamar kontrakan berukuran 3x4 meter, ditemani gitar tua dan secangkir kopi dingin. Saat itu, ia hanya ingin menciptakan sesuatu yang bisa membuat orang merasa dimengerti.
"Saya tulis lagu itu bukan untuk terkenal. Saya tulis karena ada rasa yang ingin saya bagi," kenangnya. Tak ada yang menyangka, lagu sederhana itu kemudian menjadi salah satu karya yang paling sering dibawakan penyanyi lain di panggung-panggung besar.
Namun, popularitas rupanya datang dengan harga mahal. Ari mulai menyadari bahwa namanya jarang disebut ketika lagu itu mengalun. Royalti yang seharusnya menjadi haknya mengalir ke tempat yang tak seharusnya. Ia pun memilih jalan yang tidak mudah: menuntut.
Lima Kali Gugatan, Satu Mimpi yang Sama
Perjalanan hukum Ari bukan kisah yang mewah. Ia mengaku harus merogoh tabungan, bahkan menjual beberapa aset untuk membiayai proses panjang di pengadilan. Setiap gugatan yang ia ajukan seperti menabuh harapan baru, tetapi juga membuka kembali luka lama.
"Setiap kali sidang, saya selalu bertanya pada diri sendiri: sampai kapan? Tapi kalau saya berhenti, siapa yang akan memperjuangkan lagu saya?" katanya dengan suara bergetar.
Agnez Mo, nama yang kembali disebut dalam gugatan kelima ini, bukan satu-satunya pihak yang digugat. Ari menyebut sejumlah pihak lain yang dianggapnya terlibat dalam penggunaan karyanya tanpa hak. Namun baginya, inti persoalan bukan pada siapa yang digugat, melainkan pada kesadaran bersama bahwa karya cipta harus dihormati.
"Saya tidak sedang memusuhi siapa-siapa. Saya hanya ingin para pencipta lagu tidak lagi merasa kecil di rumahnya sendiri," tegasnya.
Inspirasi bagi Para Pencipta Lagu di Tanah Air
Kisah Ari menyentuh banyak kalangan. Beberapa pencipta lagu muda mengaku terinspirasi oleh kegigihannya. Seorang komposer muda yang enggan disebut namanya mengisahkan bahwa Ari adalah contoh nyata bahwa perjuangan tidak selalu tentang kemenangan cepat, tetapi tentang keberanian untuk terus bangkit.
"Beliau mengajarkan kami bahwa karya itu bukan sekadar barang dagangan. Ada harga diri di dalamnya," ujarnya.
Air mata dan kekecewaan memang mewarnai perjalanan Ari. Namun ia memilih untuk tidak larut. Baginya, setiap gugatan adalah bentuk cinta pada profesi yang telah menghidupinya selama puluhan tahun. Ia ingin generasi berikutnya tidak merasakan apa yang ia alami.
Di sudut ruangan kerja itu, Ari menatap kembali tumpukan berkas. Ia tahu, perjalanan ini mungkin masih panjang. Namun ia percaya, selama ada keberanian untuk bersuara, mimpi untuk hidup layak sebagai pencipta lagu tidak akan pernah mati.
"Saya sudah tua. Tapi saya ingin meninggalkan sesuatu yang lebih baik untuk mereka yang datang setelah saya," pungkasnya, suaranya pelan namun penuh keyakinan. Kisah Ari Bias adalah kisah tentang kesederhanaan yang berjuang melawan lupa, sebuah inspirasi yang menyentuh dari balik layar industri musik Indonesia.
Comments (0)