Di sebuah kamar kecil berpendingin ruang yang lampunya temaram, seorang perempuan duduk membelakangi jendela. Di luar, hujan baru saja berhenti. Ia menatap layar monitor, jemarinya berhenti di atas papan tuts, lalu ia menulis satu kalimat pendek: Aku pulang, tapi rumah ini terasa asing. Kalimat itu bukan sekadar baris skenario. Ia adalah denyut nadi dari Empat Musim Pertiwi, sebuah karya yang mengisahkan perjalanan seorang perempuan penyintas kekerasan seksual yang memutuskan kembali ke kampung halamannya.
Karya ini bukan sekadar cerita tentang kepulangan. Ia adalah potret batin yang dirajut dari empat babak kehidupan, seperti musim yang berganti di tanah Jawa. Ada musim ketika bunga bermekaran, ada musim ketika hujan turun tanpa ampun, ada musim ketika tanah mengering, dan ada musim ketika semuanya kembali bersemi. Di balik layar, tim kreatif mengaku tidak ingin menjadikan luka sebagai tontonan. Mereka ingin menjadikannya cermin.
Ketika Luka Tidak Selalu Berteriak
Dalam salah satu adegan yang paling mengharukan, tokoh utama hanya duduk di beranda rumah neneknya. Tidak ada dialog panjang. Yang ada hanya suara jangkrik dan tatapan mata yang kosong. Namun justru di situ letak kekuatannya. Empat Musim Pertiwi memilih diam untuk berbicara tentang hal-hal yang paling menyakitkan.
"Kekerasan seksual sering kali tidak meninggalkan bekas yang terlihat. Tapi ia tinggal di dalam tubuh, di dalam mimpi, di dalam cara seseorang memandang dirinya sendiri," ujar seorang penulis skenario yang terlibat dalam proyek ini, dengan suara pelan, seolah ikut merasakan beban yang ia tulis.
Pendekatan ini membuat penonton diajak masuk ke dalam ruang batin tokoh, bukan sekadar menyaksikan peristiwanya. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, tempat ia menulis, ada tumpukan buku catatan dan secangkir kopi yang sudah dingin. Ia mengisahkan bahwa proses kreatifnya sering kali membuatnya menangis sendiri. "Aku harus memastikan bahwa yang aku tulis bukan sekadar luka, tapi juga cara bangkit dari luka itu," tambahnya.
Pulang Bukan Berarti Sembuh
Salah satu hal yang membuat Empat Musim Pertiwi terasa jujur adalah caranya menggambarkan kepulangan. Kampung halaman tidak digambarkan sebagai surga yang langsung menyembuhkan. Justru di sana, tokoh utama berhadapan dengan bisik-bisik tetangga, pandangan sinis, dan pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan. Ia harus berjuang bukan hanya melawan trauma, tetapi juga melawan stigma.
Seorang pemeran utama mengaku bahwa ia sempat kesulitan tidur selama proses syuting. "Ada malam-malam ketika aku merasa tubuhku bukan tubuhku sendiri. Aku harus benar-benar belajar mendengarkan perempuan-perempuan yang pernah mengalami hal serupa," katanya, matanya berkaca-kaca saat mengenang momen itu.
"Aku belajar bahwa menjadi penyintas bukan berarti harus selalu kuat. Kadang, cukup bertahan satu hari lagi itu sudah sebuah kemenangan," ujarnya lirih.
Kalimat itu menjadi salah satu kutipan paling menyentuh dalam karya ini. Ia tidak berusaha menjadi pahlawan. Ia hanya ingin hidup, dan hidup itu sendiri sudah menjadi perlawanan.
Musim yang Berganti, Mimpi yang Tumbuh Kembali
Di babak akhir, Empat Musim Pertiwi tidak menawarkan akhir yang manis dan sempurna. Tidak ada pelangi setelah hujan. Yang ada adalah seorang perempuan yang perlahan belajar menanam kembali harapannya, seperti petani yang menanam padi di sawah yang sempat terendam banjir. Ia mulai menulis surat untuk dirinya sendiri. Ia mulai berbicara di depan cermin. Ia mulai memaafkan dirinya, meski belum sepenuhnya memaafkan orang lain.
Para pembuat karya berharap, kisah ini bisa menjadi ruang aman bagi siapa pun yang pernah merasa sendirian. "Kami tidak ingin memberi jawaban. Kami hanya ingin menemani," ujar salah satu produser. "Kalau ada satu orang saja yang merasa dilihat dan didengar setelah menonton ini, itu sudah cukup."
Di akhir wawancara, sang penulis skenario menutup buku catatannya. Ia tersenyum tipis, lalu berkata, "Empat musim itu bukan tentang berapa lama kita bertahan. Tapi tentang bagaimana kita belajar kembali mengenali diri sendiri, bahkan ketika dunia sudah berubah."
Empat Musim Pertiwi adalah pengingat bahwa di balik setiap luka, selalu ada benih yang menunggu untuk tumbuh. Dan kadang, pulang bukan tentang kembali ke tempat lama, melainkan tentang menemukan keberanian untuk memulai lagi.
Comments (0)