Sep 20, 2026
Hukum

Ekonom Ingatkan Pembukaan Rekening Massal Harus Prioritaskan Utilisasi Riil

Langkah percepatan inklusi keuangan di Indonesia terus digenjot melalui berbagai program pembukaan rekening secara masif. Namun, euforia penambahan jutaan

Ekonom Ingatkan Pembukaan Rekening Massal Harus Prioritaskan Utilisasi Riil

Langkah percepatan inklusi keuangan di Indonesia terus digenjot melalui berbagai program pembukaan rekening secara masif. Namun, euforia penambahan jutaan nasabah baru ini menuai catatan kritis dari kalangan pengamat pasar modal dan perbankan. Kuantitas dinilai bukan lagi satu-satunya tolok ukur keberhasilan integrasi masyarakat ke dalam sistem keuangan formal.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menegaskan bahwa esensi dari program pembukaan rekening massal terletak pada aktivitas transaksi berkelanjutan dan dampak ekonominya, bukan sekadar memamerkan lonjakan angka pembukaan buku tabungan baru.

"Keberhasilan program pembukaan rekening massal bukan semata-mata soal kuantitas atau seberapa banyak akun yang berhasil dibuka. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana rekening tersebut benar-benar aktif digunakan dan memberikan nilai tambah bagi perputaran ekonomi masyarakat," ungkap Fakhrul.

Tahapan Kebijakan: Dari Target Angka ke Kualitas Ekosistem

Upaya memperluas akses perbankan di tanah air melewati beberapa fase penting yang perlu dievaluasi secara berkala:

  1. Fase Inisiasi dan Target Kuantitas: Otoritas dan perbankan meluncurkan kampanye masif, termasuk pembukaan rekening pelajar dan pelaku UMKM secara serentak demi mengejar target inklusi keuangan nasional.
  2. Fase Akumulasi Rekening Pasif: Banyak akun baru terindikasi menjadi rekening pasif (dormant) setelah program bantuan atau insentif pembukaan awal selesai disalurkan.
  3. Fase Transformasi Kualitas: Kebijakan kini dituntut bergeser dari sekadar registrasi administratif menuju peningkatan frekuensi transaksi harian dan literasi finansial.

Tantangan Operasional dan Beban Biaya Perbankan

Lonjakan rekening yang tidak aktif membawa konsekuensi finansial tersendiri bagi industri perbankan nasional. Biaya pemeliharaan sistem teknologi informasi, administrasi, serta kepatuhan regulasi tetap berjalan meskipun saldo rekening nasabah bersangkutan minim atau bahkan nol.

Berikut adalah sejumlah risiko utama jika program pembukaan rekening hanya mengejar target statistik:

  • Beban Biaya Pemeliharaan: Bank harus mengalokasikan anggaran operasional untuk mengelola database rekening pasif yang tidak menghasilkan pendapatan berbasis komisi (fee-based income).
  • Kerentanan Penyalahgunaan Rekening: Rekening tidur yang tidak terpantau rentan dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk aktivitas transaksi ilegal atau penipuan daring.
  • Distorsi Data Inklusi: Angka kepemilikan rekening yang tinggi berpotensi memberikan gambaran semu bahwa masyarakat sudah melek finansial, padahal pemanfaatan produk investasi dan proteksi masih rendah.

Mendorong Literasi dan Utilisasi Jangka Panjang

Guna mengatasi persoalan tersebut, para pelaku industri mendorong integrasi layanan perbankan dengan kebutuhan harian masyarakat secara riil. Edukasi mengenai pencatatan arus kas usaha, pembayaran digital melalui QRIS, serta akses pembiayaan produktif harus menjadi satu paket dalam setiap agenda pembukaan rekening massal.

Dengan ekosistem digital yang kian terintegrasi, perbankan diharapkan mampu mendampingi nasabah baru agar tetap aktif bertransaksi, sehingga cita-cita pemerataan ekonomi nasional dapat tercapai secara berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User