Di sebuah studio latihan sederhana di bilangan Jakarta, malam itu terasa berbeda dari biasanya. Rian Ekky Pradipta berdiri mematung di depan dinding yang dipenuhi poster-poster lama. Ada foto panggung kecil di sebuah pentas seni sekolah, ada tiket pertunjukan yang dulu hanya ditonton belasan pasang mata. Jarinya menyentuh salah satu poster yang sudah menguning, lalu ia tersenyum kecil. Kita pernah bermimpi sampai sejauh ini, batinnya lirih.
Mimpi yang dulu terasa begitu jauh itu kini perlahan menjelma nyata. Band yang membesarkan namanya lewat lagu-lagu cinta yang menggetarkan hati itu mengisahkan babak baru perjalanan mereka: tur bertajuk D'MASIV ASIA HOME RUN yang dijadwalkan dimulai pada Oktober 2026. Kabar ini disambut haru oleh para penggemar setia yang telah menemani langkah mereka selama lebih dari dua dekade, seolah tur ini adalah jawaban atas doa-doa yang selama ini dipanjatkan bersama.
Perjalanan Panjang yang Ditapaki dengan Keringat
Kisah D'MASIV tidak lahir dari kemewahan. Jauh sebelum lagu-lagu mereka menggema di radio dan panggung-panggung besar, ada masa ketika mereka harus berjuang hanya untuk mendapatkan satu kesempatan tampil. Dari satu panggung kecil ke panggung kecil lainnya, dari penolakan ke penolakan, mereka terus berjalan dengan satu keyakinan sederhana: musik adalah jalan pulang mereka.
"Dulu kami sering pulang larut malam dengan badan lelah dan kantong kosong. Tapi ada satu hal yang tidak pernah kosong, yaitu mimpi. Kami percaya, suatu hari nanti lagu-lagu kami akan sampai ke telinga orang-orang di luar sana," tutur Rian dengan mata berkaca-kaca.
Keyakinan itu terbukti tidak pernah mengkhianati. Satu demi satu, karya mereka menemukan jalannya ke hati pendengar. Lagu tentang cinta yang tersakiti, tentang semangat untuk tidak menyerah, tentang kerinduan yang mendalam — semuanya menjadi teman setia dalam kehidupan jutaan orang. Dan kini, lagu-lagu itu siap dibawa terbang lebih jauh, melintasi batas negara dan bahasa.
HOME RUN: Pulang ke Rumah Bernama Penggemar
Nama tur ini bukan sekadar pilihan kata yang kebetulan. Di balik frasa HOME RUN tersimpan makna yang menyentuh. Bagi D'MASIV, setiap kota yang akan mereka singgahi di Asia bukanlah tempat asing, melainkan rumah — karena di sanalah para penggemar mereka berada, menunggu dengan setia selama bertahun-tahun.
"Bagi kami, rumah itu bukan bangunan. Rumah adalah orang-orang yang menyanyikan lagu kami dengan sepenuh hati, bahkan ketika bahasa kami bukan bahasa mereka. Itu momen mengharukan yang selalu membuat kami ingin terus berkarya," ungkap Rian.
Di balik layar, persiapan tur ini dikerjakan dengan penuh cinta. Ada daftar lagu yang disusun ulang agar setiap pertunjukan terasa seperti pelukan hangat bagi penonton. Ada latihan demi latihan yang dijalani dengan semangat anak muda, meski usia perjalanan band ini telah melewati dua puluh tahun. Bagi mereka, tur ini bukan sekadar konser, melainkan perjalanan membayar utang rindu kepada penggemar di berbagai penjuru Asia yang selama ini hanya bisa menikmati karya mereka lewat layar gawai.
Mimpi Itu Milik Semua yang Berani Berjuang
Lebih dari sekadar tur, D'MASIV ingin perjalanan ini menjadi inspirasi. Bahwa mimpi tidak mengenal kata mustahil bagi mereka yang mau berjuang dan bertahan. Bahwa dari ruang latihan sederhana, sebuah band bisa bangkit, bertahan dari gempuran zaman, dan akhirnya berdiri tegak di panggung-panggung internasional dengan kepala yang tetap menunduk rendah hati.
"Kalau ada anak muda di luar sana yang sedang latihan di garasi atau studio kecil, kami ingin bilang: jangan berhenti. Kami dulu juga ada di sana. Perjalanan ini memang panjang, tapi percayalah, setiap tetes keringat dan air mata tidak akan pernah sia-sia," kata Rian penuh haru.
Malam itu, sebelum meninggalkan studio, Rian menoleh sekali lagi ke dinding penuh kenangan. Ia tahu, Oktober 2026 akan menjadi babak baru yang menggetarkan. Bukan hanya untuk D'MASIV, tetapi untuk semua orang yang pernah berani bermimpi di tengah keterbatasan. Dan ketika lampu studio dipadamkan, satu hal tetap menyala terang di hati mereka: rumah sedang menunggu, di seberang sana, di seluruh Asia.
Comments (0)