Oct 10, 2026
entertainment

Donny Damara Menyelami Ketakutan di Balik Dendam Arwah Penari

Di sebuah ruang latihan yang temaram, hanya diterangi lampu meja, Donny Damara duduk termenung. Naskah di tangannya sudah lusuh, penuh coretan. Ia baru saja menyelesaikan adegan yang membuat tubuhnya ...

Donny Damara Menyelami Ketakutan di Balik Dendam Arwah Penari

Di sebuah ruang latihan yang temaram, hanya diterangi lampu meja, Donny Damara duduk termenung. Naskah di tangannya sudah lusuh, penuh coretan. Ia baru saja menyelesaikan adegan yang membuat tubuhnya gemetar bukan karena dingin, melainkan karena ketakutan yang ia bangun sendiri. Inilah perjalanan pertamanya menyentuh dunia horor, sebuah wilayah yang selama puluhan tahun ia hindari.

"Aku ini penakut, jujur saja," ujarnya sambil tertawa kecil, mengenang momen pertama kali menerima tawaran film Dendam Arwah Penari. "Tapi justru di situlah tantangannya. Aku ingin mencoba sesuatu yang membuatku tidak nyaman."

Ketakutan yang Dihadapi dengan Sadar

Bagi Donny, horor bukan sekadar soal hantu yang muncul tiba-tiba atau musik yang menegangkan. Ia melihat genre ini sebagai ruang untuk menggali psikologi manusia, bagaimana rasa takut bekerja dalam pikiran seseorang, dan bagaimana trauma bisa menjelma menjadi teror yang nyata.

"Aku tidak mau sekadar teriak-teriak atau lari-lari," kisahnya. "Aku ingin penonton merasakan apa yang aku rasakan. Ketakutan yang datang dari dalam, bukan dari luar."

Ia menghabiskan waktu berjam-jam mendiskusikan karakternya dengan sutradara. Mereka membedah latar belakang tokoh, luka batin yang ia bawa, dan bagaimana arwah penari dalam film itu menjadi cermin dari rasa bersalah yang tak terselesaikan. Donny bahkan menulis jurnal harian sebagai karakter tersebut, sebuah kebiasaan yang jarang ia lakukan.

"Ada satu malam, aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan adegan di mana karakternya harus menghadapi arwah itu sendirian di panggung. Aku menangis. Bukan karena takut, tapi karena aku merasa terhubung dengan kesedihannya," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Momen Mengharukan di Balik Layar

Proses syuting membawa banyak kejutan emosional. Donny mengisahkan bagaimana ia dan tim saling menguatkan di lokasi yang gelap dan sunyi. Ada kalanya mereka harus mengambil gambar di gedung tua pada tengah malam, dengan hanya lampu darurat sebagai penerangan.

"Kami semua berjuang bersama. Ada rasa kebersamaan yang luar biasa. Ketika satu orang takut, yang lain memeluk. Ketika satu orang lelah, yang lain menyemangati," kenangnya.

Salah satu momen paling menyentuh baginya adalah ketika ia harus beradegan dengan seorang penari muda yang memerankan arwah. Gadis itu baru pertama kali berakting, dan Donny melihat ketulusan yang membuatnya terharu.

"Dia menangis karena merasa tidak bisa. Aku bilang, 'Kamu sudah hebat. Kamu berani ada di sini, di tengah ketakutanmu sendiri.' Malam itu, kami berdua menangis. Bukan karena horornya, tapi karena kami saling menguatkan," ujarnya.

Perjalanan Baru yang Mengubah Cara Pandang

Setelah menyelesaikan film ini, Donny mengaku tidak lagi memandang horor sebagai genre yang menakutkan. Ia justru menemukan keindahan di dalamnya, sebuah ruang untuk berbicara tentang kehilangan, penyesalan, dan keberanian menghadapi masa lalu.

"Aku belajar bahwa ketakutan itu bukan untuk dilawan, tapi untuk dipahami. Arwah penari dalam film ini bukan sekadar hantu. Dia adalah simbol dari sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang ingin didengar," jelasnya.

Ia berharap penonton tidak hanya keluar bioskop dengan jantung berdebar, tetapi juga membawa pulang sebuah perenungan. Tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain, tentang bagaimana kita menghadapi kesalahan, dan tentang keberanian untuk meminta maaf.

"Ini bukan film horor biasa. Ini cerita tentang manusia. Tentang kita semua," tegasnya.

Donny Damara kini berdiri di ambang pintu baru dalam kariernya. Ia tidak tahu apakah akan kembali ke dunia horor atau tidak. Tapi satu hal yang pasti, ia tidak lagi takut pada ketakutannya sendiri.

"Aku sudah melewati malam-malam paling menakutkan dalam hidupku. Dan aku masih di sini, masih bernapas, masih bercerita. Itu cukup," pungkasnya sambil tersenyum tipis, seolah menutup babak lama dan membuka lembaran baru yang penuh mimpi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User