Aug 25, 2026
entertainment

D'MASIV Siap Gelar Asia Home Run, Mimpi 20 Tahun Bermusik Jadi Nyata

Di sebuah ruang konferensi yang hangat di Jakarta, Rabu (19/8/2026), deru tawa dan tepuk tangan bergantian memenuhi udara. Di depan belasan mikrofon yang berjejer rapi, lima lelaki berusia setengah ba...

D'MASIV Siap Gelar Asia Home Run, Mimpi 20 Tahun Bermusik Jadi Nyata

Di sebuah ruang konferensi yang hangat di Jakarta, Rabu (19/8/2026), deru tawa dan tepuk tangan bergantian memenuhi udara. Di depan belasan mikrofon yang berjejer rapi, lima lelaki berusia setengah baya duduk dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Ada kilau di mata mereka—kilau yang sama seperti dua dekade silam, ketika mereka masih anak-anak muda dengan gitar di tangan dan mimpi yang jauh lebih besar dari ukuran panggung kampung halaman. Hari itu, D'MASIV mengumumkan sebuah perjalanan baru yang selama ini hanya menjadi doa di antara mereka: Asia Home Run, rangkaian konser yang akan membawa musik mereka menyapa penggemar di berbagai negara Asia.

Dari Garasi Kecil ke Panggung Asia

Momen mengharukan itu mengisahkan perjalanan panjang yang tidak pernah linear. Rian Ekky Pradipta, vokalis yang suaranya sudah menjadi teman setia bagi jutaan pendengar, mengaku masih sulit mempercayai apa yang akan terjadi. “Dulu kami latihan di kamar kost berukuran tiga kali tiga meter,” katanya pelan, suaranya bergetar saat mengenang. “Kami bermimpi main di panggung-panggung besar. Tapi jujur, bermimpi membawa lagu kami ke Asia—itu bahkan tidak pernah berani kami ucapkan dengan lantang.” Di balik layar kesuksesan yang tampak mulus, ada cerita tentang uang tabungan yang habis untuk sewa alat musik, tawaran manggung yang ditolak, dan malam-malam ketika keraguan datang lebih sering daripada tepuk tangan. Namun dari situlah justru lahir keteguhan yang kini membawa mereka ke ambang panggung internasional.

Asia Home Run bukan sekadar agenda tur biasa. Bagi D'MASIV, ini adalah penanda bahwa musik Indonesia—dengan lirik-lirik sederhana tentang cinta, kehilangan, dan harapan—mampu berdiri sejajar di panggung yang lebih luas. “Kami tidak ingin sekadar tampil. Kami ingin membawa cerita kami, dan juga cerita pendengar kami, ke sana,” ujar Yuke, sang gitaris, dengan nada yang tenang namun penuh keyakinan.

Lagu-Lagu yang Menjadi Pengantar Cerita

Yang membuat perjalanan ini begitu menyentuh adalah hubungan yang telah lama terjalin antara D'MASIV dan para pendengarnya. Lebih dari sekadar penonton, mereka adalah saksi hidup atas setiap babak dalam perjalanan band ini—dari jatuh bangun di awal karier hingga bangkit kembali di masa-masa sulit. Di media sosial, unggahan pengumuman konser ini langsung dibanjiri komentar dari penggemar di Malaysia, Singapura, hingga Jepang. Banyak yang menuliskan bahwa lagu-lagu D'MASIV menemani mereka melewati patah hati pertama, kelulusan, hingga pernikahan. “Itu yang membuat kami terharu,” kata Rian, matanya berkaca-kaca. “Ternyata lagu kami bukan hanya milik kami. Lagu-lagu itu sudah menjadi bagian dari air mata dan tawa orang-orang yang tidak pernah kami temui secara langsung.”

“Kami tidak membawa apa-apa selain lagu-lagu yang sederhana. Tapi di dalamnya ada banyak mimpi—mimpi kami, dan mimpi mereka yang selalu setia mendengarkan.” — Rian Ekky Pradipta

Momen di Balik Layar yang Tak Terlupakan

Di balik layar, persiapan Asia Home Run bukan perkara mudah. Berbulan-bulan sebelum konferensi pers ini, kelima personel menjalani latihan intensif, menyusun ulang aransemen, dan berdiskusi panjang soal detail panggung. Ada rasa gugup yang sama seperti pertama kali mereka naik panggung dua dekade lalu. Namun di tengah semua kesibukan itu, ada momen sederhana yang menurut mereka paling berkesan: ketika mereka berkumpul di studio, memainkan lagu-lagu lama, dan tertawa mengingat tingkah mereka saat masih muda. “Kami sadar, kami sudah tidak muda lagi. Tapi mimpi itu tetap sama,” ujar sang bassis, Rai, tersenyum. “Dan kami ingin membuktikan bahwa mimpi tidak pernah memandang usia.”

Kisah D'MASIV adalah inspirasi bagi siapa pun yang sedang berjuang mengejar mimpinya—bahwa konsistensi, kesederhanaan, dan kejujuran bermusik adalah bekal yang tidak pernah usang. Dari kamar kost yang sempit hingga panggung Asia, perjalanan mereka membuktikan bahwa tidak ada langkah kecil yang sia-sia. Ketika konferensi pers itu ditutup, para personel berdiri dan berfoto bersama, menggenggam erat satu sama lain seperti dua dekade lalu. Rian menatap ke arah kamera, lalu berbisik pelan: “Ini baru awal. Perjalanan kami belum selesai.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User