Aug 25, 2026
entertainment

D'MASIV Siap Gelar Asia Home Run, Enrico Octaviano Ungkap Perjalanan Bermusik

Di sebuah ruangan sederhana di kawasan Jakarta, Rabu 19 Agustus 2026, tawa renyah terdengar di sela-sela sesi tanya jawab. Enrico Octaviano, vokalis D'MASIV, duduk tenang di kursi konferensi pers bert...

D'MASIV Siap Gelar Asia Home Run, Enrico Octaviano Ungkap Perjalanan Bermusik

Di sebuah ruangan sederhana di kawasan Jakarta, Rabu 19 Agustus 2026, tawa renyah terdengar di sela-sela sesi tanya jawab. Enrico Octaviano, vokalis D'MASIV, duduk tenang di kursi konferensi pers bertajuk Asia Home Run, ditemani para personel yang biasa berdiri di sampingnya di atas panggung. Tidak ada gemerlap lampu panggung megah, hanya obrolan hangat yang mengingatkan bahwa di balik nama besar, mereka tetaplah manusia biasa yang pernah berjuang dari titik nol.

Asia Home Run bukan sekadar nama acara. Bagi Enrico, dua kata itu adalah metafora tentang pulang — pulang ke rumah, pulang ke akar musik, dan pulang kepada para penggemar yang setia menunggu di setiap kota. “Ini bukan soal seberapa jauh kami melangkah,” ujarnya dengan mata berbinar, “tapi seberapa tulus kami kembali.” Kalimat itu disambut tepuk tangan pelan dari puluhan jurnalis yang memadati ruangan.

Momen Mengharukan di Balik Layar

Konferensi pers yang berlangsung di Jakarta itu ternyata menyimpan banyak cerita yang jarang tersorot kamera. Enrico mengaku sempat gugup sebelum acara dimulai, perasaan yang jarang ia rasakan setelah belasan tahun berkarier. “Justru di momen seperti ini, hati saya berdebar lagi. Seperti pertama kali naik panggung,” katanya sambil tertawa kecil. Ia mengenang masa-masa awal D'MASIV ketika masih bermain di kafe-kafe kecil dengan peralatan seadanya, menunggu giliran tampil hingga larut malam.

Di balik layar, para personel saling menyemangati sebelum sesi foto bersama. Ada kehangatan yang sulit dipalsukan: mereka masih bercanda soal lirik yang lupa, soal jadwal latihan yang bentrok, soal perut kosong sebelum manggung. “Kami tidak pernah berubah. Yang berubah hanya ukuran panggungnya,” ujar salah satu personel di sela acara. Baginya, persahabatan inilah yang membuat band ini tetap utuh meski badai datang silih berganti.

Perjalanan Mimpi yang Panjang

Perjalanan D'MASIV memang tidak pernah lurus. Enrico mengisahkan masa-masa sulit ketika album pertama nyaris tidak dilirik label, ketika beberapa personel sempat berpikir untuk menyerah, dan ketika air mata sempat jatuh di ruang latihan yang pengap. “Ada titik di mana kami bertanya, apakah mimpi ini layak diperjuangkan?” kenangnya. Jawaban itu akhirnya ia temukan bukan dari angka penjualan, melainkan dari surat-surat penggemar yang mengaku terselamatkan oleh lagu-lagu mereka.

Dari sanalah D'MASIV belajar bangkit. Setiap kegagalan, kata Enrico, justru menjadi bahan bakar untuk terus berkarya. Ia meyakini bahwa kisah perjuangan yang paling menyentuh selalu lahir dari tempat yang paling sederhana. Kini, setelah menembus berbagai kota di Asia, D'MASIV ingin berbagi pelajaran itu kepada siapa pun yang sedang memegang mimpi di usia muda.

Perjalanan lintas negara itu sendiri menyimpan banyak kenangan. Dari panggung kecil di Jakarta hingga konser di negeri orang, setiap kota membawa rasa haru yang sama: membuktikan bahwa musik Indonesia bisa berdiri sejajar tanpa kehilangan akarnya. “Kami selalu membawa nama Indonesia ke mana pun kami pergi,” tegas Enrico. “Itu bukan beban, itu kebanggaan.”

Inspirasi untuk Para Pemimpi

Lewat Asia Home Run, Enrico berharap ada pesan yang sampai lebih jauh dari sekadar hiburan. “Kalau kami bisa, kalian juga bisa. Mulailah dari yang sederhana, jangan takut gagal, dan jangan pernah berhenti pulang kepada mimpi kalian,” pesannya. Pesan itu terasa personal, seperti obrolan seorang kakak kepada adik-adiknya, bukan pidato seorang bintang.

Menjelang akhir konferensi pers, Enrico kembali mengingatkan satu hal yang menurutnya paling penting: rasa syukur. “Tanpa penggemar, tanpa keluarga, tanpa teman-teman yang percaya sejak awal, kami tidak akan berada di sini,” tuturnya dengan suara sedikit bergetar. Ruangan kembali hening sejenak, sebelum tepuk tangan panjang mengakhiri acara.

Di luar jendela ruangan, senja Jakarta mulai turun. D'MASIV beranjak dari kursi, melambaikan tangan, dan berfoto bersama awak media. Asia Home Run baru akan dimulai, tetapi bagi Enrico, momen paling berharga malam itu bukanlah sorotan kamera, melainkan kesempatan untuk kembali pulang — kepada musik, kepada mimpi, dan kepada orang-orang yang selama ini berjalan bersama mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User