Aug 25, 2026
entertainment

Diding Boneng, dari Layar Kaca ke Pelukan Seni Anak-Anak

Di sebuah ruang belajar sederhana di pinggiran kota, aroma cat akrilik bercampur suara tawa riuh anak-anak. Seorang pria berkemeja flanel kusut berlutut di lantai, memandangi goresan warna-warni di at...

Diding Boneng, dari Layar Kaca ke Pelukan Seni Anak-Anak

Di sebuah ruang belajar sederhana di pinggiran kota, aroma cat akrilik bercampur suara tawa riuh anak-anak. Seorang pria berkemeja flanel kusut berlutut di lantai, memandangi goresan warna-warni di atas kanvas kecil milik bocah berusia tujuh tahun. "Pak guru, ini rumah kita di mars," kata si bocah. Pria itu tersenyum lebar, matanya berbinar-binar. Tak banyak yang tahu bahwa tangan yang kini memegang kuas cat itu, pernah memegang skrip sinetron pertama di Indonesia. Dialah Diding Boneng.

Saat Kerlap-Kerlip Berganti dengan Seragam Cat

Nama Diding Boneng mungkin lebih familiar di telinga generasi yang tumbuh bersama dunia peran Indonesia. Sebagai aktor sinetron pertama di tanah air, perjalanan-nya di layar kaca mengisahkan babak panjang sebuah mimpi yang dikejar dengan gigih. Namun, di balik layar gemerlap industri hiburan, ada sisi lain dari hidupnya yang jauh lebih tenang, namun tak kalah bermakna.

Setelah berpuluh-puluh tahun berkutat dengan dunia rekaman dan set, Diding memilih untuk kembali pada sesuatu yang lebih mendasar: seni. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak-anak yang ia temui di sekitar tempat tinggalnya. "Saya bukan guru yang punya banyak teori," ucapnya suatu sore sambil mencuci kuas di baskom plastik. "Saya hanya ingin anak-anak tahu bahwa berekspresi itu tidak perlu mahal. Cukup dengan kertas bekas dan cat sisa, mereka sudah bisa mewarnai mimpi-nya."

Air Mata dan Tawa di Setiap Pertemuan

Momen mengharukan seringkali datang secara tak terduga. Diding mengingat salah satu kisah yang paling menyentuh hatinya: seorang anak perempuan yang selalu duduk di pojok ruangan, menatap teman-temannya mewarnai dengan cemas. Gadis kecil itu berasal dari keluarga yang tak mampu membeli alat tulis, apalagi set cat. "Dia bilang, 'Pak, saya takut salah gambar.' Saya bilang, di seni tidak ada yang namanya salah," tutur Diding, suaranya sedikit bergetar.

Sejak itu, Diding selalu menyediakan perlengkapan tambahan—bekas kanvas, potongan kardus, bahkan kuas yang sudah tidak ia pakai. Ia percaya bahwa inspirasi tidak bisa tumbuh jika rasa takut lebih dulu menghuni hati anak-anak. Dalam kelasnya, yang berukuran tidak lebih dari tiga kali empat meter, dinding dipenuhi lukisan abstrak karya murid-muridnya. Tidak ada nilai, tidak ada peringkat. Hanya ada kebebasan berekspresi.

"Anak-anak mengajarkan saya untuk bangkit setiap kali saya merasa lelah. Mereka tidak peduli saya pernah jadi siapa di televisi. Bagi mereka, saya hanya Pak Guru yang suka bercerita sambil menggambar."

Warisan Seni yang Tidak Terekam Kamera

Bagi Diding, menjadi guru seni bukanlah sekadar pekerjaan sampingan. Ia melihatnya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang utuh. Ketika dunia hiburan seringkali mengukur kesuksesan dari jumlah penonton atau rating, ruang sederhana-nya justru mengajarkan makna kesuksesan yang berbeda: sebuah senyum anak yang bangga dengan karyanya sendiri.

Ia sering berjuang sendirian mengumpulkan peralatan, terkadang menggunakan honor aktingnya untuk membeli cat dan kanvas. Tak jarang, setelah seharian syuting, ia langsung bergegas mengganti pakaian dan menyambangi sanggar sederhana itu. Kepalanya mungkin penuh dengan dialog dan arahan sutradara, tetapi begitu melihat puluhan mata penasaran menatapnya, semua lelah sirna.

"Setiap kali saya melihat anak-anak ini, saya merasa seperti melihat diri saya dulu: seseorang yang haus akan kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya," ujarnya. Di matanya, terbit tekad yang sama seperti puluhan tahun silam ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di dunia peran. Bedanya, kini panggungnya lebih sederhana, namun penontonnya jauh lebih tulus.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, Diding Boneng terus menjalani dua dunia yang kontras. Di satu sisi, ia adalah bagian dari sejarah perfilman Indonesia yang tak terhapuskan. Di sisi lain, ia adalah sosok guru yang berlutut di lantai, menahan napas seraya menikmati keindahan goresan tak sempurna milik anak-anak. Dan mungkin, di situlah letak keabadian seorang seniman sejati: bukan hanya di layar lebar yang menyilaukan, tetapi juga di hati-hati kecil yang ia sentuh dengan seni dan kasih sayang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User