Aug 25, 2026
entertainment

Di Tengah Serbuan Penonton, The Odyssey Dianggap Terlampau Eksklusif

Hujan rintik-rintik tidak menyurutkan langkah Arini menyusuri trotoar menuju sebuah gedung megah di pusat kota. Tangannya menggenggam secarik tiket yang sudah dipesan berbulan-bulan sebelumnya. Malam ...

Di Tengah Serbuan Penonton, The Odyssey Dianggap Terlampau Eksklusif

Hujan rintik-rintik tidak menyurutkan langkah Arini menyusuri trotoar menuju sebuah gedung megah di pusat kota. Tangannya menggenggam secarik tiket yang sudah dipesan berbulan-bulan sebelumnya. Malam itu, ia berharap bisa menjadi bagian dari fenomena The Odyssey, pertunjukan teater imersif yang sedang menjadi buah bibir di mana-mana. Namun, setibanya di depan pintu, sebuah pengumuman mengejutkan terpampang: semua sesi telah terisi penuh, dan tiket tambahan tidak tersedia untuk umum. Arini hanya bisa menatap nanar di balik kaca, menyaksikan gemerlap lampu panggung yang tak bisa ia jamah.

Sebuah gedung pertunjukan bercahaya hangat menjadi pusat kerumunan pada akhir pekan lalu. Bukan untuk konser megabintang, melainkan untuk The Odyssey, sajian teater eksperimental yang memadukan panggung hidup dengan realitas virtual. Sejak kabar penayangannya merebak, ribuan orang berebut ingin menjadi saksi. Namun di tengah sorak-sorai pemilik tiket, ada banyak wajah yang pulang dengan kecewa. Arini (25), seorang penikmat seni, mengisahkan perjalanannya. "Saya sudah menabung selama tiga bulan, tetapi begitu sistem dibuka, tiketnya sudah habis. Harga jual kembali di luar bahkan mencapai puluhan juta," tuturnya dengan suara bergetar.

Fenomena ini bukan sekadar soal kehabisan stok. The Odyssey dikemas sebagai pertunjukan premium yang hanya bisa dinikmati di ruang berkubah khusus dengan teknologi layar 360 derajat. Proyek ambisius garapan kolektif seniman ini memang dirancang untuk menghadirkan pengalaman tak tertandingi. Namun, dengan harga resmi mulai dari tiga juta rupiah per orang, serta lokasi yang terbatas di tiga kota besar, banyak kalangan merasa tersingkir.

Mimpi yang Terhalang Harga

Bagi banyak orang, angka tiga juta untuk dua jam pertunjukan adalah kemewahan yang tak masuk akal. "Saya menggaji dua anak magang dengan total dua setengah juta sebulan. Membayangkan uang itu habis dalam satu malam membuat saya sadar, ini bukan panggung untuk kami," ujar Dimas, seorang pemilik usaha kecil. Perhitungan sederhana itu justru menggores luka: bahwa batas antara penikmat dan pekerja seni semakin tebal.

Tak hanya tiket, perangkat pendukung pun menuntut kompromi. Penonton diharuskan membeli headset VR khusus atau menyewa dengan biaya tambahan. Bagi yang tidak memahami teknologi, proses reservasi daring dengan verifikasi ganda menjadi labirin yang melelahkan. The Odyssey yang mestinya merayakan perjalanan epik manusia, justru terasa seperti benteng tertutup.

Kritik dari Mereka yang Terpinggirkan

Suara-suara sumbang mulai bermunculan. Dalam sebuah diskusi publik, peneliti budaya Rima menyebut, "Apa gunanya kemajuan artistik kalau hanya bisa diakses segelintir elite? Karya besar justru lahir dari dialog dengan masyarakat, bukan eksklusivitas." Sentinel kritikus seni ikut menggema. Mereka menilai The Odyssey tidak ubahnya taman bermain kaum berpunya yang menyamar sebagai perayaan seni.

Di media sosial, tagar #OdysseyUntukSiapa sempat menjadi tren. Banyak pengguna mengunggah tangkapan layar antrean virtual yang gagal, menunjukkan betapa tingginya permintaan namun juga betapa timpangnya distribusi. Seorang warganet menulis, "Saya rela dari luar kota, tapi ternyata stok tiket sudah diserap investor dan korporat. Pertunjukan ini kehilangan rohnya."

Pembelaan di Balik Layar

Menanggapi gelombang kekecewaan, pihak produksi memberikan penjelasan. Dalam konferensi pers singkat, produser eksekutif The Odyssey, Budi Hartono, mengungkapkan bahwa mahalnya harga tidak lepas dari kompleksitas produksi. "Kami menggunakan lebih dari 200 teknisi, layar dome seberat 1,7 ton, serta lisensi perangkat lunak sensor gerak yang belum banyak tersedia. Ini adalah investasi besar untuk menjaga kualitas imersi," jelasnya.

Ia mengakui bahwa jangkauan pertunjukan masih terbatas, namun berjanji akan merilis versi dokumenter yang bisa diakses publik dengan harga lebih murah. "Kami mendengar aspirasi, dan kami sedang mencari jalan tengah." Akan tetapi, bagi Arini dan ribuan pemimpi lainnya, janji itu hanya menjadi penghibur lara.

Panggung yang Menggema dalam Hening

Ketika sorak-sorai di dalam gedung semakin riuh, di luar malam terus beranjak dingin. Arini akhirnya memutuskan untuk pulang, menenteng kekecewaan yang mungkin baru akan ia pahami sepenuhnya beberapa hari ke depan. The Odyssey, yang diinspirasi oleh perjalanan pulang, justru meninggalkan banyak orang dalam keterasingan.

Mungkin ini sekadar cerita tentang harga dan akses. Atau mungkin juga, ini adalah cermin dari seni yang perlahan menjauh dari pelukannya yang hangat kepada semua orang. Di tengah gemerlap teknologi dan tepuk tangan, ada hati yang berbisik: sebuah karya adalah milik semua, atau bukan karya sama sekali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User