Aug 25, 2026
entertainment

Di Tengah Rintik Hujan, Ia Berjuang Menjaga Kulitnya Tetap Bercahaya

Hujan baru saja reda ketika Nadia Prameswari berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya yang berukuran 3x4 meter di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Sore itu, cahaya temaram menembus jendela yang ma...

Di Tengah Rintik Hujan, Ia Berjuang Menjaga Kulitnya Tetap Bercahaya

Hujan baru saja reda ketika Nadia Prameswari berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya yang berukuran 3x4 meter di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Sore itu, cahaya temaram menembus jendela yang masih berembun. Ia menatap wajahnya lekat-lekat: dua jerawat baru di dagu, kulit yang tampak kusam, seolah kehilangan cahaya. "Rasanya seperti ada yang ikut redup dari dalam diri saya," kenangnya lirih.

Bagi perempuan 26 tahun yang bekerja sebagai desainer grafis itu, musim hujan selalu membawa kisah tersendiri. Perjalanan pulang-pergi kantor menembus gerimis, udara lembap yang membuat wajah berminyak, hingga kebiasaan malas membersihkan wajah karena badan sudah terlanjur lelah. Semuanya, tanpa ia sadari, menumpuk menjadi masalah di wajahnya.

Ketika Kulit Ikut "Bersedih" di Musim Hujan

Nadia mengisahkan, awalnya ia menganggap jerawat dan kulit kusam hanyalah persoalan sepele. Namun ketika ia harus mempresentasikan karyanya di depan klien penting, rasa percaya dirinya runtuh seketika. "Saya terus menunduk, takut mereka memperhatikan wajah saya, bukan karya saya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Momen mengharukan itu menjadi titik balik dalam perjalanannya. Ia mulai mencari tahu mengapa musim hujan begitu kejam bagi kulitnya. Jawabannya ia temukan dari dr. Ratna Juwita, Sp.DV, dokter spesialis kulit yang ia temui di sebuah klinik di Jakarta.

"Banyak orang mengira musim hujan membuat kulit aman karena tak ada terik matahari. Padahal justru kelembapan tinggi membuat kuman lebih mudah berkembang, pori-pori tersumbat, dan kulit kusam karena sel kulit mati menumpuk," tutur dr. Ratna.

Perjalanan Menemukan Ritual Sederhana

Dari konsultasi itu, Nadia belajar bahwa merawat kulit di musim hujan tidak harus mahal. Yang dibutuhkan hanyalah ketekunan dan ritual sederhana yang dilakukan dengan hati. "Dokter bilang, kulit itu seperti sahabat. Kalau kita abaikan, dia akan protes dengan caranya sendiri," kata Nadia sambil tersenyum.

Kini, setiap pagi dan malam, ia setia membersihkan wajah dengan pembersih lembut, meski badan lelah sepulang kerja. Setelahnya, ia mengoleskan pelembap yang sesuai jenis kulitnya, karena udara lembap bukan berarti kulit tak butuh hidrasi. "Justru ketika kulit kekurangan kelembapan, ia memproduksi minyak berlebih. Dari situlah jerawat datang," jelas dr. Ratna menegaskan.

Yang paling mengejutkan bagi Nadia adalah pesan soal tabir surya. Selama ini ia selalu melewatkannya saat langit mendung. Padahal, sinar ultraviolet tetap menembus awan dan kaca jendela, diam-diam membuat kulit kusam dan menua lebih cepat. Kini, tabir surya menjadi barang wajib di tasnya, berdampingan dengan payung kecil pemberian ibunya.

Air Hujan dan Kebiasaan Kecil yang Menyelamatkan

Di balik layar perjuangannya, Nadia juga mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil. Ia tak lagi membiarkan air hujan mengering begitu saja di wajahnya, karena air hujan di kota besar membawa partikel kotoran yang bisa menyumbat pori-pori. Sesampainya di rumah, ia segera membilas wajah dengan air bersih.

Ia juga lebih rajin mengganti sarung bantal, mengurangi kebiasaan menyentuh wajah, serta memperbanyak minum air putih meski cuaca dingin membuatnya jarang merasa haus. "Sederhana sekali, tapi butuh perjuangan untuk konsisten," ucapnya.

Merawat Diri, Merawat Mimpi

Dua bulan berselang, perubahan itu mulai terlihat. Jerawat di dagunya mereda, dan wajahnya kembali bercahaya. Namun bagi Nadia, yang paling berharga bukan sekadar kulit yang sehat, melainkan rasa percaya diri yang tumbuh kembali. Pekan lalu, ia berdiri tegak di depan klien yang sama, mempresentasikan karyanya dengan senyum lebar.

"Saya belajar bahwa merawat kulit itu bukan soal kecantikan semata. Ini soal menghargai diri sendiri. Ketika hujan turun dan dunia terasa kelabu, kita tetap bisa memilih untuk bersinar," ujar Nadia, kali ini dengan air mata bahagia.

Di kamar kosnya yang sederhana, di tengah rintik hujan yang kembali turun sore itu, Nadia menatap cermin yang sama. Kali ini, ia tersenyum. Kisahnya menjadi pengingat kecil bagi siapa pun: di balik cuaca yang murung, selalu ada kesempatan untuk bangkit dan merawat diri, setetes demi setetes, seperti hujan yang akhirnya menumbuhkan bunga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User