Aug 25, 2026
entertainment

Di Rumah yang Sunyi, Ibu Ratna Belajar Berdamai dengan Kesepian

Sore itu, cahaya keemasan menembus celah jendela tua sebuah rumah kecil di pinggiran Yogyakarta. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter, Ratna Wulandari (68) duduk di kursi rotan peninggalan suaminya, m...

Di Rumah yang Sunyi, Ibu Ratna Belajar Berdamai dengan Kesepian

Sore itu, cahaya keemasan menembus celah jendela tua sebuah rumah kecil di pinggiran Yogyakarta. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter, Ratna Wulandari (68) duduk di kursi rotan peninggalan suaminya, memandangi foto hitam-putih yang mulai menguning. Secangkir teh di tangannya perlahan mendingin — seperti hari-harinya yang kian sunyi sejak ketiga anaknya merantau dan suaminya berpulang dua tahun silam.

"Rumah ini dulu ramai sekali. Sekarang, yang setia menemani saya hanya detak jam dinding," ujarnya lirih. Suaranya bergetar, namun ia berusaha tersenyum.

Ketika Rumah Kehilangan Suaranya

Ratna mengisahkan, kesepian itu tidak datang tiba-tiba. Ia merayap perlahan, menyelinap di sela-sela rutinitas yang berulang: bangun pagi, menyiram bunga, memasak untuk satu porsi, lalu menunggu telepon yang tak selalu berdering. "Paling berat itu waktu makan malam. Masak satu panci, yang makan cuma satu orang," katanya sambil menyeka sudut matanya.

Kisah Ratna bukanlah kisah tunggal. Di balik layar gemerlap kota-kota besar, jutaan orang berjuang melawan rasa sepi yang tak terlihat. Ada lansia yang ditinggal anak-anaknya bekerja, ada perantau muda yang terjebak di kamar kos sempit setelah seharian bekerja, ada pula mereka yang dikelilingi banyak orang namun tetap merasa sendiri.

Sepi di Tengah Keramaian

Psikolog klinis Amelia Prasetyo menyebut kesepian sebagai persoalan sunyi yang kerap diabaikan. "Kesepian bukan sekadar perasaan. Ia bisa memengaruhi kesehatan mental dan fisik seseorang, mulai dari gangguan tidur hingga menurunnya daya tahan tubuh," jelasnya.

Menurut Amelia, yang menyakitkan dari kesepian bukanlah keadaan sendiri itu sendiri, melainkan perasaan tidak terhubung dengan siapa pun. "Seseorang bisa merasa sepi di tengah pesta, dan sebaliknya bisa merasa utuh meski hidup sendiri. Kuncinya ada pada koneksi yang bermakna," tuturnya.

Di era ketika layar ponsel seolah menggantikan tatap muka, kesepian justru semakin mudah hinggap. Percakapan digantikan pesan singkat, pelukan digantikan tanda hati di media sosial. "Kita merasa terhubung, padahal hati kita kelaparan kehangatan yang sesungguhnya," kata Amelia.

Bangkit dari Sunyi

Namun Ratna menolak tenggelam. Momen mengharukan itu datang ketika seorang tetangga mengajaknya bergabung dengan kegiatan membaca untuk anak-anak di taman bacaan kampung. Awalnya ragu, ia akhirnya memberanikan diri melangkah keluar dari rumahnya yang sunyi.

"Hari pertama saya datang, ada anak kecil yang langsung memeluk saya dan memanggil saya nenek. Air mata saya jatuh. Ternyata saya masih dibutuhkan," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Sejak itu, sore-sore Ratna tak lagi sunyi. Rumahnya yang sederhana kini sering dipenuhi tawa anak-anak yang belajar mengaji dan membaca. Ia menemukan kembali mimpi yang sempat terkubur: menjadi guru, meski tanpa seragam dan tanpa ruang kelas.

Perjalanan Ratna menjadi inspirasi bahwa kesepian bukanlah akhir dari segalanya. "Sepi itu seperti malam. Gelap, tapi selalu ada pagi setelahnya. Kita hanya perlu berani membuka jendela," ujarnya.

Menyalakan Kembali Kehangatan

Amelia menambahkan, jalan keluar dari kesepian sering kali dimulai dari langkah kecil: menyapa tetangga, bergabung dengan komunitas, atau sekadar menelepon kawan lama. "Jangan menunggu diselamatkan. Kadang, kita sendirilah yang harus menyalakan lilin pertama," pesannya.

Senja mulai turun ketika Ratna menutup percakapan sore itu. Di teras rumahnya, suara riuh anak-anak terdengar dari kejauhan. Ia tersenyum — senyum yang lahir dari hati yang telah berdamai dengan sunyi. "Sekarang saya tahu, kesepian itu bukan musuh. Ia guru yang mengajarkan saya menghargai setiap kehadiran," katanya lembut.

Di rumah kecil itu, jam dinding masih berdetak. Namun kini, bunyinya tak lagi terasa menyayat — melainkan seperti irama yang menemani sebuah kisah tentang keberanian untuk bangkit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User