Langit di atas dataran tinggi Altiplano masih menyisakan warna jingga tipis ketika perempuan tua itu berlutut di depan tumpukan persembahan yang tersusun rapi. Jari-jarinya yang keriput bergerak perlahan, menata daun koka, bunga kering, dan sebentuk persembahan yang telah disiapkannya sejak berminggu-minggu lalu. Di ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut, udara pagi menusuk tulang, tetapi wajahnya tetap tenang. Sebentar lagi, api akan dinyalakan, dan asap akan membawa doa-doanya naik ke langit — menuju Pachamama, Sang Ibu Bumi.
Pemandangan seperti itu bukanlah hal asing di Bolivia. Setiap awal Agustus, ribuan keluarga di negeri Amerika Selatan itu menggelar ritual syukuran yang telah diwariskan turun-temurun. Jalanan di kota El Alto hingga pelosok pedesaan di sekitar Danau Titicaca dipenuhi kepulan asap dari perapian kecil, tempat warga membakar persembahan mereka — termasuk janin llama yang dikeringkan, salah satu elemen paling sakral dalam upacara tersebut.
Persembahan yang Lahir dari Rasa Syukur
Bagi masyarakat Andes, khususnya suku Aymara dan Quechua, Agustus adalah bulan paling istimewa dalam kalender mereka. Inilah bulan ketika bumi diyakini membuka diri — saat yang tepat untuk memberi kembali kepada tanah yang telah menopang hidup mereka sepanjang tahun.
Janin llama yang dikeringkan, atau yang oleh warga setempat disebut sullu, menjadi simbol kesuburan dan kelimpahan. Hewan llama sendiri memiliki tempat istimewa dalam kebudayaan Andes: ia menemani manusia mengarungi gurun garam, memikul beban di punggungnya, dan memberikan wol untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya pegunungan.
"Kami tidak memberi sesuatu yang asing kepada bumi. Kami mengembalikan apa yang berasal darinya. Llama lahir dari tanah ini, dan kepada tanah ini pula ia kembali," ujar seorang tetua adat di El Alto.
Persembahan itu disusun di atas kain tenun warna-warni, dilengkapi daun koka, permen, dupa, dan minuman. Sang yatiri — pemimpin spiritual masyarakat Aymara — kemudian membacakan doa dalam bahasa leluhur sebelum api mulai menjalar. Asap yang mengepul diyakini menjadi jembatan antara dunia manusia dan alam semesta.
Warisan yang Bertahan di Tengah Zaman
Di balik layar ritual yang tampak sederhana itu, tersimpan perjuangan panjang sebuah peradaban untuk mempertahankan identitasnya. Ratusan tahun kolonialisme sempat meminggirkan tradisi-tradisi asli Andes. Namun, masyarakat Aymara dan Quechua menolak menyerah. Mereka terus menyalakan api persembahan — diam-diam di masa lalu, dan kini dengan kepala tegak.
Kini, ritual Pachamama justru menjadi kebanggaan nasional. Pada 1 Agustus, yang diperingati sebagai Hari Pachamama, kantor-kantor pemerintah, sekolah, hingga komunitas di kota besar ikut menggelar upacara. Anak-anak muda berpakaian modern berdiri berdampingan dengan kakek-nenek mereka yang mengenakan aguayo, kain tenun tradisional Andes.
"Nenek saya dulu melakukan ini sembunyi-sembunyi. Sekarang saya bisa melakukannya di tengah kota, dan orang-orang justru datang untuk belajar. Itu membuat saya ingin menangis," tutur seorang mahasiswa di La Paz.
Pesan Sederhana dari Pegunungan
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ritual ini menyimpan pesan yang menyejukkan: manusia bukanlah penguasa alam, melainkan bagian darinya. Sebelum menanam, mereka meminta izin. Sebelum memanen, mereka berterima kasih. Hubungan dengan bumi dirawat seperti hubungan dengan seorang ibu — penuh hormat, penuh cinta.
Bagi keluarga-keluarga di Altiplano, momen mengharukan tahunan itu juga menjadi ajang berkumpul. Anak-anak yang merantau ke kota pulang ke kampung halaman. Mereka duduk melingkar mengelilingi api, berbagi cerita, dan menyeruput minuman hangat sementara abu persembahan perlahan mendingin.
"Bumi sudah memberi kami segalanya: kentang, jagung, udara yang kami hirup. Membakar persembahan ini hanyalah cara kecil kami mengucapkan terima kasih," kata Doña Carmen sambil menyeka sudut matanya.
Ketika api akhirnya padam dan abu persembahan dikubur kembali ke dalam tanah, langit Altiplano berubah menjadi biru pekat. Tidak ada kemeriahan berlebihan, tidak ada gemerlap — hanya keheningan yang khidmat dan hati yang terasa lebih ringan. Sebuah pengingat sederhana dari ketinggian Andes: bahwa rasa syukur, sekecil apa pun bentuknya, adalah warisan paling berharga yang bisa dititipkan manusia kepada generasi berikutnya.
Comments (0)