Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika Raka Pradana menorehkan goresan terakhir pada sketsa wajah seorang aktris. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter di bilangan Jakarta Selatan itu, puluhan lembar kertas berserakan — sebagian penuh coretan, sebagian lagi kusut karena diremas kecewa. Secangkir kopi yang telah lama dingin menjadi saksi malam-malam panjangnya. “Poster adalah wajah pertama sebuah film,” ucapnya lirih. “Kalau wajahnya tidak bercerita, orang tidak akan menoleh.”
Raka adalah satu dari segelintir seniman yang berjuang di balik layar gemerlap industri film Tanah Air. Namanya tak pernah muncul di layar lebar, tak disebut dalam pidato kemenangan, tak dikenal penonton yang berbondong-bondong ke bioskop. Namun, karyanyalah yang pertama kali menyapa mata mereka: deretan poster film Indonesia yang terpajang di lobi bioskop, di halte bus, di linimasa media sosial.
Goresan Pertama yang Tak Pernah Mudah
Perjalanan Raka dimulai jauh dari hiruk-pikuk industri film. Dua belas tahun silam, ia hanyalah pelukis kaos di kaki lima Yogyakarta, menggambar wajah musisi dan pahlawan super demi sesuap nasi. Ketika seorang sutradara muda menawarinya menggambar poster film pendek tanpa bayaran, ia menerimanya dengan mata berbinar. “Bukan soal uang. Saya ingin karya saya punya arti,” kenangnya.
Film pendek itu tak pernah tayang luas. Namun poster buatan Raka tertempel di dinding-dinding kampus, dan dari sanalah pintu-pintu berikutnya terbuka. Satu demi satu tawaran datang — film independen, film festival, hingga akhirnya produksi layar lebar. Ia mengisahkan masa-masa ketika satu poster harus direvisi belasan kali, ketika idenya ditolak mentah-mentah, ketika ia hampir menyerah dan kembali melukis kaos.
“Ada malam ketika saya menangis di depan kanvas. Saya bertanya pada diri sendiri, untuk apa semua ini? Tapi keesokan paginya, saya selalu kembali menggambar. Mungkin itulah yang namanya cinta pada pekerjaan.”
Selembar Poster, Sejuta Rasa
Bagi Raka, poster bukan sekadar alat promosi. Ia adalah jendela jiwa sebuah film — pintu masuk bagi penonton untuk merasakan denyut cerita bahkan sebelum lampu bioskop padam. Setiap warna, setiap tatapan mata tokoh, setiap ruang kosong punya makna. Poster yang baik, katanya, adalah poster yang membuat orang berhenti berjalan, menoleh, dan bertanya: film apa ini?
Untuk satu poster drama keluarga, ia pernah menghabiskan tiga hari hanya untuk menggambar tangan seorang ibu yang memeluk anaknya. “Tangan itu harus terasa hangat. Penonton harus bisa merasakan pelukan itu hanya dengan melihatnya,” tuturnya. Detail semacam itulah yang membuat karyanya berbeda — ada denyut kemanusiaan di setiap goresannya.
Ia juga menyaksikan bagaimana poster film Indonesia bertransformasi sepanjang waktu. Dari lukisan tangan era klasik yang penuh ekspresi, masa-masa suram ketika poster hanyalah tempelan wajah bintang, hingga kebangkitan kembali seni poster yang digarap serius dengan sentuhan ilustrasi dan tipografi yang berani. Menurutnya, perubahan itu mencerminkan tumbuhnya kepercayaan diri sinema Indonesia.
Mimpi yang Terus Menyala di Balik Layar
Kini, setelah lebih dari empat puluh poster ia lahirkan, Raka masih bekerja dari ruangan kecil yang sama. Bedanya, di dindingnya kini terpajang deretan poster film Indonesia yang pernah ia sentuh — masing-masing menyimpan kisah perjuangan, air mata, dan tawa. Sesekali, mahasiswa desain datang berguru padanya, dan ia selalu menyambut mereka dengan pintu terbuka.
“Saya ingin anak-anak muda tahu bahwa di balik setiap film besar, ada banyak tangan tak terlihat yang bekerja dengan hati,” katanya. Ia bermimpi suatu hari seni poster film Indonesia dihargai seperti di negara-negara lain — dipajang di galeri, dikoleksi, dikenang lintas generasi.
Ketika ditanya poster mana yang paling berkesan, Raka terdiam sejenak. Matanya menyapu dinding, lalu berhenti pada sebuah poster lama yang sudah memudar warnanya — poster film pendek pertamanya yang tak pernah tayang itu. “Yang ini,” bisiknya. “Karena di sanalah saya mulai percaya bahwa mimpi bisa digambar.”
Di luar, fajar mulai menyingsing. Raka meneguk kopi dinginnya, lalu membuka lembar kerja baru. Sebuah film baru menunggu untuk diberi wajah. Dan di tangan seniman seperti dirinya, sinema Indonesia akan terus punya wajah yang bercerita — hangat, jujur, dan menyentuh hati.
Comments (0)