Aug 25, 2026
entertainment

Di Balik Renyahnya Tahu Crispy, Kisah Ibu Berjuang Menghidupi Anak

Pukul empat sore, asap tipis mengepul dari wajan hitam di teras sebuah rumah sederhana. Bunyi desis menggema pelan ketika potongan-potongan tahu putih diselamkan satu per satu, lalu berubah keemasan d...

Di Balik Renyahnya Tahu Crispy, Kisah Ibu Berjuang Menghidupi Anak

Pukul empat sore, asap tipis mengepul dari wajan hitam di teras sebuah rumah sederhana. Bunyi desis menggema pelan ketika potongan-potongan tahu putih diselamkan satu per satu, lalu berubah keemasan dalam hitungan menit. Aroma gurihnya merambat sampai ujung gang, membuat para pekerja yang baru pulang menoleh sambil tersenyum. Di balik layar kesederhanaan itu, tersimpan kisah perjalanan seorang ibu yang telah lebih dari satu dekade menggoreng harapan untuk keluarganya.

Sulastri, 47 tahun, dikenal warga sebagai penjual tahu crispy paling ramai pembeli di Gang Melati, Jakarta Timur. Gerobak kayunya sudah lusuh disentuh waktu, namun tangan pemiliknya tak pernah lelah mengaduk adonan tepung bumbu setiap hari. Baginya, deretan tahu keemasan itu bukan sekadar camilan murah. Ia adalah nafkah, biaya sekolah anak-anak, dan bukti bahwa mimpi bisa tumbuh bahkan dari wajan paling sederhana sekalipun.

Resep Warisan yang Menyelamatkan

Sulastri mengisahkan bahwa resep tahu crispy itu warisan mendiang ibunya, yang dulu juga berjualan serupa di pasar kampung. Ketika suaminya, Suparman, meninggal dunia karena sakit pada 2013, ia nyaris tak tahu harus berbuat apa. Dua orang anaknya masih duduk di bangku sekolah dasar, dan tabungan keluarga tinggal separuh setelah dipakai untuk biaya rumah sakit.

“Saya ingat malam itu saya duduk sendirian di dapur, menangis sambil memegang buku catatan resep ibu. Rasanya seperti ibu menyentuh pundak saya dan berbisik, jangan menyerah,” ungkapnya dengan suara bergetar. Keesokan harinya, ia memberanikan diri meminjam uang tetangga sebesar Rp300 ribu untuk membeli tahu, tepung, dan minyak goreng pertama.

Hari-hari awal tidaklah mudah. Adonannya sering gagal, tahu meletup di wajan hingga tangannya penuh lecet minyak panas. Pembeli pun belum ada. Namun ia terus berjuang mencoba lagi, memperbaiki takaran bumbu, mengganti jenis tepung, sampai akhirnya menemukan komposisi yang membuat kulit luarnya renyah bertahan lama meski sudah dingin.

Berjuang di Antara Air Mata dan Asap Wajan

Tahun-tahun berikutnya menjadi ujian yang tak kalah berat. Ada masa ketika harga tahu melonjak tajam dan untungnya nyaris habis. Ada pula saat anak sulungnya, Rizky, terbaring sakit demam berdarah dan ia harus membagi waktu antara menjaga di rumah sakit dan menjaga gerobak agar pelanggan setia tidak kecewa.

“Ada malam saya baru pulang jam dua pagi dari rumah sakit, terus subuh saya sudah goreng lagi. Badan rasanya mau roboh, tapi begitu lihat muka anak-anak, saya bangkit lagi,” katanya sambil tersenyum tipis. Momen-momen mengharukan semacam itu justru menumbuhkan kekuatan yang tak pernah ia duga dimiliki.

Pelanggan mulai bertambah dari mulut ke mulut. Mahasiswa kos di sekitar gang, sopir angkot yang baru pulang kerja, hingga ibu-ibu yang memesan untuk bekal anak. Beberapa bahkan rela antre lima belas menit demi tahu crispy yang masih mengepul hangat. Dari hasil penjualan yang perlahan stabil, Sulastri berhasil membiayai kedua anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

Mimpi yang Terus Digoreng Setiap Hari

Kini Rizky telah lulus dan bekerja sebagai staf administrasi, sementara adiknya, Dewi, tengah menempuh semester akhir jurusan keperawatan. Keduanya tak pernah malu membantu ibu di gerobak saat akhir pekan. Justru mereka bangga, sebab di balik setiap gigitan tahu crispy, ada pengorbanan yang tak ternilai.

“Ibu selalu bilang, goreng tahu saja bisa menghidupi kami sampai kuliah. Apalagi kalau kita bekerja sungguh-sungguh,” kata Dewi, matanya berkaca-kaca. Kalimat sederhana itu kini menjadi penyemangat bagi banyak tetangga yang ikut memulai usaha serupa atas dorongan langsung dari Sulastri.

Ke depan, ia bermimpi membuka warung kecil yang lebih layak, lengkap dengan beberapa meja untuk pelanggan. Ia juga ingin melatih para ibu tunggal di lingkungannya agar mandiri secara ekonomi. Baginya, keberhasilan tak akan berarti jika tidak dibagikan kepada sesama yang sedang berjuang.

Saat senja turun dan gerobaknya mulai sepi, Sulastri duduk sejenak sambil menyeruput teh tubruk. Tangannya masih hangat kena asap wajan, namun sorot matanya jernih penuh harapan. Tahu crispy buatannya memang sederhana, digoreng dari bahan-bahan biasa. Tetapi kisah di baliknya menyentuh hati siapa pun yang sempat berhenti sejenak, mencicipi, lalu mendengarkan perjalanan hidup sang juru gorengnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User