Di sudut ruang tamu yang sunyi, ponsel Ruben Onsu berkali-kali bergetar. Ada pesan dari tim kuasa hukumnya, ada pula panggilan dari awak media yang ingin mendengar suaranya. Namun pria yang lama dikenal sebagai presenter ceria itu memilih duduk diam sejenak, menatap foto ketiga anaknya yang terpajang di dinding. Baginya, panggilan Komnas PA bukan sekadar urusan administratif. Ini menyangkut masa depan buah hatinya.
Beberapa hari terakhir, nama Ruben kembali mencuat di ruang publik, bukan karena kesuksesan kariernya, melainkan karena persoalan hak asuh anak yang hingga kini masih bergulir bersama mantan istrinya, Sarwendah. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dikabarkan memanggilnya untuk meminta keterangan. Undangan itu sendiri sudah mengundang tafsir bermacam-macam. Ada yang menyebut langkah itu sebagai bentuk kepedulian, tak kurang yang menilainya sebagai tekanan.
“Saya akan datang sebagai ayah,” ujarnya mengisahkan kepada sejumlah wartawan, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. “Apa pun yang terjadi, saya ingin anak-anak tahu bahwa ayahnya tidak pernah absen.”
Ketika Hati Seorang Ayah Berbicara
Tidak sedikit yang mengenal Ruben sebagai sosok periang di atas panggung. Namun di balik sorot lampu studio, ada perjalanan emosional yang jarang ia bagi. Perceraian adalah jalan terjal yang panjang, terlebih ketika buah cinta harus berada di tengah dua kubu yang sama-sama mengaku paling mengerti kebutuhan mereka.
“Saya tidak mau anak-anak tumbuh dengan luka yang tidak perlu,” lanjutnya, dikutip dari pernyataannya. “Kalau hari ini saya harus bolak-balik memenuhi panggilan, saya lakukan. Karena bagi saya, mereka bukan sekadar perkara siapa menang dan siapa kalah.”
Panggilan Komnas PA itu membuat publik kembali membicarakan perlunya kerangka hukum yang lebih peka terhadap anak. Persoalan hak asuh sering kali disederhanakan menjadi pertarungan dua orang tua, padahal yang paling terdampak justru anak-anak yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang utuh.
Perjalanan yang Belum Usai
Ruben tidak menampik bahwa proses ini melelahkan. Ada malam-malam panjang yang harus ia lewati dengan pertanyaan-pertanyaan sulit dari anak-anak. Ada pula momen ketika ia harus menyembunyikan kegelisahannya agar tidak menular ke mereka. Namun ia percaya setiap perjuangan akan berbuah manis.
“Kalau ada air mata, biar itu air mata saya. Bukan air mata anak-anak,” katanya dalam kesempatan berbeda, dengan nada yang getir namun tetap tegas.
Langkah Komnas PA dianggap sebagai pintu masuk untuk memastikan proses hukum berjalan dengan standar kepentingan terbaik anak. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran agar pemanggilan itu tidak justru menambah beban psikologis bagi keluarga yang sedang berproses.
Menjaga Mimpi Anak-anak
Di tengah sorotan kamera dan berita yang bergulir cepat, Ruben tetap mencoba menjaga rutinitas. Ia masih mengantar anak-anak ke sekolah, menemani mereka belajar, dan menyisipkan cerita pengantar tidur di sela-sela jadwal padat. Hal-hal kecil itulah yang menurutnya menjadi pondasi.
“Saya ingin mereka tahu, dunia boleh ribut, tapi rumah tetap tempat paling aman,” ujarnya. “Itu janji saya sebagai ayah.”
Kisah Ruben adalah potret bagaimana seorang figur publik harus memikul dua peran sekaligus: sebagai pribadi yang sedang berduka dan sebagai ayah yang harus tampak tegar. Publik boleh berpendapat apa saja. Namun di balik layar, ada anak-anak yang sedang belajar memahami arti cinta yang tidak selalu berbentuk utuh.
Perjalanan ini tentu belum berakhir. Namun satu hal yang pasti, Ruben ingin dikenang bukan karena perseteruannya, melainkan karena kesediaannya terus hadir. Sebab baginya, kebahagiaan anak-anak adalah inspirasi paling sederhana, sekaligus alasan paling kuat untuk tetap bangkit.
Comments (0)