Di sebuah ruangan kerja yang cahayanya tak pernah benar-benar padam, James Gunn duduk membungkuk di depan layar. Di depannya, tumpukan catatan dan coretan tangan berserakan — sisa-sisa dari malam-malam panjang yang ia habiskan seorang diri. Sementara dunia luar sibuk membicarakan sekuel Superman yang tengah dalam tahap produksi, Gunn justru sedang menenggelamkan diri ke dalam cerita yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Pria berusia 58 tahun itu baru saja mengungkapkan bahwa naskah proyek terbarunya sudah mencapai tahap penulisan. Bukan pengumuman megah lewat panggung konvensi, melainkan lewat unggahan sederhana yang justru terasa lebih jujur. Sebuah pengakuan kecil dari seorang penulis yang, di tengah gegap gempita jagat sinema superhero, masih menyimpan kegelisahan yang sama seperti dua dekade lalu ketika ia pertama kali mencoba menembus industri ini.
“Saya menulis setiap hari. Bahkan ketika semua orang mengira saya sedang sibuk mengurus hal lain,” ujarnya suatu ketika, menggambarkan disiplin yang jarang terekspos kamera.
Malam-Malam Sunyi Seorang Penulis di Tengah Badai Produksi
Mengisahkan perjalanan Gunn hari ini berarti melihat dua dunia yang berjalan beriringan. Di satu sisi, ia harus memastikan sekuel Superman — waralaba besar yang menanggung ekspektasi jutaan penggemar — berjalan mulus. Di sisi lain, ada dorongan yang tak bisa ia bendung untuk terus menulis, seolah cerita-cerita baru mengetuk pintu kepalanya tanpa henti.
Orang-orang yang bekerja dekat dengannya menyebut Gunn sebagai sosok yang tak pernah benar-benar berhenti bekerja. Di sela jeda syuting, ia kerap menyelinap ke sudut ruangan dengan laptop di pangkuan. Bukan untuk memeriksa jadwal atau membaca laporan produksi, melainkan untuk mengetik. Kalimat demi kalimat. Adegan demi adegan. Momen-momen kecil yang bagi banyak orang tampak sepele, tapi baginya adalah cara bertahan sebagai seorang pencerita.
“Ada hari-hari di mana saya merasa lelah secara fisik, tapi ide-ide itu tetap datang. Saya tidak bisa mengabaikannya,” tutur Gunn dalam sebuah wawancara, mengungkapkan sisi rapuh di balik citra seorang sutradara blockbuster.
Sisi manusiawi inilah yang sering terlewat ketika publik membicarakan Gunn. Mereka melihatnya sebagai arsitek jagat sinema yang berkuasa, sosok yang menentukan arah masa depan karakter-karakter ikonik. Padahal di balik layar, ia tetaplah seorang penulis yang berjuang dengan hal yang sama seperti jutaan penulis lain di seluruh dunia: rasa takut bahwa ceritanya tidak akan cukup baik, dan rasa tidak sabar untuk segera melihatnya hidup.
Ketika Sebuah Naskah Menjadi Ruang Pelarian
Bagi Gunn, menulis bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah terapi. Sebuah ruang di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan tekanan box office atau ekspektasi studio. Proyek baru yang tengah ia tulis disebut-sebut memiliki nuansa yang lebih personal, jauh dari gemuruh adegan aksi berskala besar.
Ia tidak banyak bicara soal detail. Hanya satu hal yang ia tegaskan: proyek ini adalah sesuatu yang ia kerjakan dengan hati. Sebuah mimpi yang ia pelihara diam-diam, bahkan sebelum nama-namanya melekat pada waralaba besar Hollywood.
“Ini adalah cerita yang sudah lama ingin saya tulis. Bukan karena ada yang meminta, tapi karena saya perlu menuliskannya,” katanya dengan nada yang jarang terdengar darinya — lebih tenang, lebih reflektif.
Pernyataan itu menyentuh banyak orang di industri. Di era ketika semua serba terukur oleh angka dan tren, masih ada seorang pembuat film yang menulis karena dorongan batin. Ia tidak sedang mengejar sesuatu yang viral. Ia sedang mengejar sesuatu yang jujur.
Beberapa kolega yang pernah bekerja dengannya mengaku tak pernah melihat Gunn kehilangan gairah. Bahkan di hari-hari terberat produksi, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca ulang naskahnya. “Dia memperlakukan setiap halaman seperti anak sendiri,” ujar seorang anggota kru yang enggan disebut namanya. “Kalau ada satu kalimat yang tidak pas, dia bisa mengulanginya puluhan kali sampai terasa benar.”
Sebuah Perjalanan yang Baru Dimulai
Jika ditarik ke belakang, perjalanan Gunn memang tak pernah lurus. Ia pernah jatuh, pernah dipecat dari proyek besar, lalu bangkit kembali dengan cara yang hampir tak terduga. Setiap luka dalam kariernya ia ubah menjadi bahan bakar. Setiap penolakan ia jadikan alasan untuk menulis lebih keras lagi.
Kini, dengan naskah barunya yang mulai menemukan bentuk, Gunn seolah sedang membuka babak baru dalam buku kehidupannya. Sebuah babak yang belum ia beri judul, tapi sudah ia rasakan denyutnya. Ia tahu persis bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Tapi seperti biasa, ia akan melewatinya dengan satu kebiasaan lama: menulis.
Di luar sana, dunia menunggu Superman untuk terbang lagi. Tapi di dalam ruangan kerja yang sunyi itu, seorang James Gunn sedang menyiapkan sayap-sayap baru untuk cerita yang belum pernah dikenal siapa pun. Dan bagi mereka yang mengenalnya, itulah bagian paling menyentuh dari seorang pencerita — momen ketika ia menulis bukan untuk dunia, melainkan untuk dirinya sendiri.
Comments (0)