Di sebuah sudut ruangan studio yang terang, Ruben Onsu duduk dengan tenang. Ia merapikan posisi duduknya, lalu menyentuh pelan gagang kacamata yang bertengger di hidungnya. Bagi banyak orang, kacamata mungkin hanya aksesori. Tetapi bagi pria yang telah puluhan tahun menghibur jutaan penonton Indonesia itu, benda sederhana ini telah menjadi bagian dari perjalanan panjang yang penuh liku.
Ruben mengisahkan bahwa kebiasaan memakai kacamata bukanlah keputusan yang datang tiba-tiba. Ada cerita di baliknya, sebuah momen ketika ia mulai menyadari bahwa matanya tak lagi bekerja seperti dulu. "Dulu saya sering mengabaikan, pikir saya masih bisa. Tapi lama-lama saya sadar, kalau dipaksakan, yang ada malah sakit kepala," ujarnya mengenang dengan senyum tipis.
Sebuah Kesadaran yang Datang Perlahan
Ruben bukan tipe orang yang mudah mengakui keterbatasan pada dirinya. Ia tumbuh sebagai pribadi yang gigih, bekerja tanpa kenal lelah, dan sering menempatkan kebutuhan orang lain di atas kesehatannya sendiri. Namun, tubuhnya punya cara sendiri untuk berbicara. Momen mengharukan terjadi ketika ia harus membaca naskah di depan kamera, dan huruf-huruf yang dulu jelas kini mulai mengabur.
"Waktu itu saya merasa seperti ada kabut tipis di depan mata. Saya harus mendekatkan kertas ke muka, dan itu membuat saya sadar, ada yang berubah," ujarnya. Bagi Ruben, momen itu menjadi titik balik. Ia pun memeriksakan matanya dan menerima kenyataan bahwa kacamata akan menjadi kawan barunya.
Istri dan anak-anaknya menjadi penguat terbesar. Mereka menyambut perubahan itu dengan hangat, bahkan sempat menertawakan gaya baru ayah mereka. "Anak-anak bilang, 'Papa keren pakai kacamata.' Itu bikin saya merasa lebih ringan, seperti tidak sendirian menghadapi perubahan ini," tuturnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kacamata ini bukan sekadar alat bantu. Ia jadi pengingat bahwa kita harus jujur pada diri sendiri, bahwa merawat diri itu bukan tanda lemah."
Perjuangan yang Tersembunyi di Balik Sorotan
Sebagai figur publik, Ruben kerap dihadapkan pada tuntutan tampil sempurna. Namun ia menyadari, penampilan bukanlah segalanya. Ada nilai yang lebih dalam, yakni keteladanan untuk peduli pada kesehatan. Ia pun mulai berbicara terbuka tentang pentingnya memeriksa mata secara rutin, khususnya bagi mereka yang bekerja di depan layar berjam-jam.
"Banyak yang menyepelekan, padahal mata ini jendela kita. Kalau jendelanya rusak, bagaimana kita melihat dunia?" katanya tegas. Ia berharap kisah sederhananya ini bisa menginspirasi siapa saja yang masih menunda-nunda memeriksakan kesehatan.
Perjalanan Ruben bersama kacamatanya juga mengajarkan tentang penerimaan. Ia tak lagi menganggapnya sebagai beban, melainkan bagian dari identitasnya. Di balik layar kaca, saat ia mengulas acara atau berbagi cerita, kacamata itu setia menemani. Ada kalanya ia lupa memakainya, dan tiba-tiba merasa ada yang hilang.
Inspirasi Kecil untuk Perubahan Besar
Ruben kini aktif mengingatkan rekan-rekan sesama pekerja seni agar tidak mengabaikan kesehatan mata. Ia bercerita, beberapa sahabat sempat mengeluh soal penglihatan mereka, dan Ruben langsung menyarankan agar segera memeriksakan diri. "Saya bilang, jangan tunggu sampai parah. Saya sudah lewat masa itu, dan saya tahu rasanya," ujarnya.
Baginya, kacamata bukan simbol penuaan atau kemunduran. Justru sebaliknya, ia memandangnya sebagai tanda kedewasaan. "Saya bangga bisa sampai di titik ini. Artinya saya sudah melewati banyak hal, dan saya masih di sini, masih berkarya," tuturnya lirih namun penuh makna.
Air mata sempat menggenang saat Ruben mengenang masa-masa awal kariernya dulu, ketika ia harus berjuang dari nol. Kini, dengan segala pencapaian, ia menyadari bahwa hal-hal kecil seperti kacamata justru menyimpan makna besar. Ia berharap, kisahnya bisa menjadi cermin bagi banyak orang untuk lebih mencintai diri sendiri.
Di akhir perbincangan, Ruben tersenyum lebar. Ia menyeka ujung matanya, lalu berkata, "Hidup itu perjalanan. Saya hanya ingin menjalaninya dengan mata yang sehat, hati yang kuat, dan mimpi yang tetap menyala." Kacamata itu kembali ia sentuh, seolah berjanji untuk setia menemani setiap langkah ke depan.
Comments (0)