Di sudut dapur berukuran 3x4 meter yang hanya diterangi lampu pijar redup, aroma daun singkong rebus berpadu dengan gurihnya kelapa parut langsung menyergap siapa pun yang melangkah masuk. Di sanalah, seorang perempuan renta bernama Mbah Sastro terus bergerak lincah, tangannya yang keriput begitu cekatan membungkus adonan tempe berbumbu ke dalam lembaran daun singkong yang telah direbus merekah. Buntil daun singkong isi tempe, hidangan sederhana yang ia warisi dari sang ibu, masih setia ia masak setiap kali ada yang memesan.
“Dulu ibu saya membuat ini untuk dijual keliling kampung. Itu satu-satunya cara kami bertahan ketika musim paceklik,” ujarnya lirih, seraya melanjutkan gulungan buntil dengan gerakan yang hampir mekanis. “Tapi sekarang, saya bikin bukan cuma buat jualan, tapi biar anak-cucu tahu warisan rasanya.”
Buntil—makanan khas Jawa yang berupa gulungan daun singkong berisi aneka bahan—memang mulai langka. Di tengah gempuran kuliner kekinian, tak banyak generasi muda yang mengenal atau bisa membuatnya. Padahal, di balik proses panjang pengolahannya, tersimpan nilai-nilai kesabaran, ketelitian, dan cinta yang begitu kental.
Mengembalikan Kenangan Lewat Sebungkus Buntil
Bagi Mbah Sastro, buntil bukan sekadar panganan. Setiap lembar daun singkong yang ia rebus mengingatkannya pada masa kecil yang meski serba susah, selalu dihangatkan oleh kebersamaan di dapur. Ibunya dulu selalu mengajak anak-anaknya ikut menyiangi daun, merebus, hingga membumbui isian dari tempe yang diulek bersama parutan kelapa dan bumbu rempah dapur.
“Ibu selalu bilang, ‘kalau tanganmu terlibat, rasanya akan berbeda. Ada rasa sayang yang nggak bisa dibeli.’ Saya pegang betul kata-kata itu,” kenangnya sambil mengaduk isian buntil yang telah dibubuhi irisan cabai, kencur, dan daun jeruk.
Kini, di usianya yang sudah menginjak 70-an, Mbah Sastro membuka pesanan kecil-kecilan dari rumahnya di pinggiran Klaten. Dalam seminggu, ia bisa membuat hingga 50 bungkus buntil, yang kemudian disetorkan ke pasar tradisional atau diambil langsung oleh pelanggan setia yang sebagian besar adalah perantau yang rindu masakan kampung. Buntil buatannya menjadi semacam jembatan emosional yang menghubungkan mereka dengan rumah.
Proses Panjang yang Tak Pernah Lekang
Membuat buntil daun singkong isi tempe bukan perkara instan. Daun singkong dipilih yang tidak terlalu tua, direbus hingga benar-benar empuk, lalu ditiriskan dan diperas agar getahnya hilang. Untuk isian, tempe semangit—tempe yang hampir busuk dan beraroma tajam—justru menjadi kunci kelezatan. “Kalau pakai tempe biasa, rasanya kurang nendang. Harus semangit, biar umami-nya keluar,” jelasnya.
Tempe itu lalu diulek bersama kelapa parut, bumbu halus dari bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan garam. Ditambah potongan cabai rawit utuh bagi yang suka pedas. Adonan ini kemudian dibungkus dengan daun singkong seperti membuat lontong, diikat dengan tali bambu atau benang kasur, lalu direbus selama hampir dua jam dalam santan encer yang diberi daun salam dan serai. Proses perebusan yang lama itulah yang membuat buntil begitu empuk dan bumbunya meresap sempurna.
“Dulu kalau saya tidak sabar, ibu marah. Katanya buntil itu ujian kesabaran. Kalau buru-buru, hasilnya nanti keras dan hambar,” ujar Mbah Sastro sambil tertawa kecil. Bagi para pembuatnya, buntil mengajarkan bahwa sesuatu yang baik memang membutuhkan waktu. Filosofi yang mungkin terasa asing di era serba-cepat saat ini.
Generasi Penerus dan Harapan yang Tersisa
Meski permintaan masih ada, Mbah Sastro mengaku khawatir. Anak-anaknya kebanyakan memilih bekerja di kota dengan profesi yang jauh dari dapur tradisional. Cucu-cucunya lebih akrab dengan layar gawai ketimbang ulekan dan tungku kayu. Satu-satunya yang kerap membantunya adalah sang cucu bungsu, Ratna, yang masih duduk di bangku SMK jurusan tata boga.
“Saya senang Ratna mau belajar. Tapi saya nggak mau dia berhenti di sini. Saya bilang, bikin buntil boleh, tapi sekolahmu yang utama,” katanya. Setiap akhir pekan, Ratna datang menemani, mencatat resep, merekam proses, dan sesekali membantu memasarkan via media sosial. “Dia yang bikin buntil saya bisa dikenal anak-anak muda yang rindu masakan neneknya sendiri,” ujar Mbah Sastro dengan mata berbinar.
Lewat buntil, Mbah Sastro seperti menghidupkan kembali sosok ibunya. Setiap gigitan buntil yang lembut dan gurih mengisahkan perjalanan panjang, ketangguhan, dan cinta yang tak diucapkan. Ia berharap, meski zaman terus berganti, akan selalu ada tangan yang bersedia melipat daun singkong, menggulung isian tempe, dan merebusnya dengan api kecil penuh kesabaran. Karena sesungguhnya, yang ia wariskan bukan sekadar resep, melainkan sepenggal jiwa yang menolak padam.
Comments (0)