Oct 13, 2026
entertainment

Di Balik Layar Kontroversi: Juri BIFF Membela The Assassin(s)

Di sebuah ruang konferensi pers yang dipenuhi sorot lampu kamera dan desir pertanyaan wartawan, seorang juri Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 menundukkan kepala sejenak. Bukan karena gug...

Di Balik Layar Kontroversi: Juri BIFF Membela The Assassin(s)

Di sebuah ruang konferensi pers yang dipenuhi sorot lampu kamera dan desir pertanyaan wartawan, seorang juri Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 menundukkan kepala sejenak. Bukan karena gugup, melainkan karena ia tengah mencari kata yang tepat untuk membela sebuah karya yang kini berada di pusaran badai. Film The Assassin(s)—judul yang belakangan menjadi perbincangan hangat di kalangan sineas dan penonton—telah memicu kontroversi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Kami tidak pernah menutup mata terhadap perdebatan ini," ujarnya lirih, namun tegas. "Tetapi sebagai juri, kami melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kontroversi. Kami melihat keberanian seorang pembuat film dalam mengisahkan sisi gelap manusia yang jarang tersentuh."

Momen itu menjadi salah satu adegan paling mengharukan sepanjang gelaran festival film paling bergengsi di Asia tersebut. Bukan karena air mata, melainkan karena ada ketulusan yang mengalir dari setiap kata yang diucapkan. Para juri—yang terdiri dari nama-nama besar perfilman dunia—memilih untuk pasang badan, bukan sekadar melindungi film, tetapi juga melindungi hak setiap seniman untuk berbicara melalui karya.

Ketika Sebuah Karya Berbicara Lebih Keras dari Kritik

The Assassin(s) bukanlah film yang mudah dicerna. Ia menyuguhkan narasi yang kelam, penuh lapisan makna, dan kadang membuat penonton merasa tidak nyaman. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Seorang juri mengisahkan bagaimana ia pertama kali menonton film itu dalam sebuah ruangan sunyi, tanpa gangguan, dan merasakan getaran emosi yang sulit dijelaskan.

"Ada adegan di mana tokoh utamanya hanya duduk termenung di sudut ruangan berukuran 3x4 meter. Tidak ada dialog. Hanya keheningan. Tapi di situ saya merasa seperti sedang melihat cermin dari kehidupan saya sendiri," kenangnya.

Kontroversi yang muncul, menurut para juri, justru memperlihatkan bahwa film ini berhasil menyentuh saraf yang paling sensitif dalam masyarakat. Mereka menilai kritik yang datang bukanlah tanda kegagalan, melainkan bukti bahwa karya tersebut hidup dan bernapas di tengah penontonnya.

Perjalanan Panjang di Balik Lensa

Di balik layar, proses pembuatan The Assassin(s) ternyata bukan perjalanan yang mulus. Sang sutradara, yang enggan disebutkan namanya dalam konferensi itu, disebut sempat mengalami masa-masa sulit ketika dana produksi nyaris habis dan timnya kehilangan semangat. Ada masa di mana ia harus merelakan tabungan pribadinya untuk melanjutkan syuting.

"Ia pernah berkata pada saya, 'Kalau bukan sekarang, kapan lagi saya bisa menyampaikan cerita ini?' Itu membuat saya terenyuh," ujar seorang juri dengan mata berkaca-kaca.

Kisah itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap film yang kontroversial, selalu ada mimpi yang diperjuangkan mati-matian. Ada tangis, ada lelah, ada doa yang dipanjatkan di sela-sela jeda syuting. Para juri BIFF memahami itu semua, dan itulah alasan mereka memilih untuk berdiri di sisi karya tersebut.

Membela Hak untuk Bercerita

Dalam pernyataan resminya, dewan juri menegaskan bahwa festival film bukanlah tempat untuk menghakimi, melainkan ruang untuk merayakan keberagaman cerita. Mereka mengingatkan bahwa sejarah perfilman dunia dipenuhi oleh karya-karya yang awalnya ditolak, dikritik, bahkan dilarang, namun kemudian diakui sebagai mahakarya.

"Jika kita hanya menerima film yang aman, kita akan kehilangan banyak cerita penting tentang kemanusiaan," tegas seorang juri. "Kontroversi bukan alasan untuk membungkam. Justru itu alasan untuk berdialog."

Pesan itu menggema di seluruh ruangan. Beberapa wartawan yang semula datang dengan pertanyaan tajam perlahan melunak, tersadar bahwa yang sedang mereka hadapi bukan sekadar skandal film, melainkan pergulatan batin seorang seniman yang berusaha jujur pada panggilannya.

Di penghujung konferensi, seorang juri tersenyum tipis dan berkata, "Film ini mungkin tidak akan disukai semua orang. Tapi ia akan dikenang. Dan bagi kami, itu sudah cukup."

Kalimat itu menggantung di udara, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya. Sebuah pengingat sederhana bahwa di dunia yang penuh kebisingan ini, kadang yang paling menyentuh justru datang dari karya yang berani berbicara lantang—bahkan ketika dunia menutup telinga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User