Di sebuah ruangan studio yang lampunya terang benderang, Andovi Da Lopez duduk memandangi selembar poster yang baru saja dibentangkan di hadapannya. Matanya menyapu setiap detail gambar, dari raut wajah hingga tata warna yang sederhana. Hening sejenak, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya. Bukan tawa canggung, melainkan tawa haru yang lahir dari kebanggaan.
"Begitu lihat posternya, aku langsung merasa ini bukan sekadar proyek biasa," ucap pria yang akrab disapa Andovi itu. "Ada sesuatu yang jujur di situ, sesuatu yang mengingatkanku pada keluarga sendiri."
Poster yang tengah ia amati adalah wajah dari proyek terbarunya, sebuah film berjudul Bapak Paling Jujur. Dalam proyek ini, Andovi beradu akting dengan Soleh Solihun, komedian sekaligus penulis yang dikenal lewat gaya humor keringnya. Bagi Andovi, melihat poster itu bukan cuma soal visual, tetapi juga momen mengenang perjalanan panjang sebelum syuting dimulai.
Ketika Dua Dunia Humor Bertemu
Pertemuan Andovi dan Soleh bukan hal yang direncanakan dengan meja-meja rapat yang kaku. Keduanya tumbuh dari latar belakang berbeda, namun punya satu benang merah: kemampuan mengolah kesederhanaan menjadi tawa yang menyentuh. Soleh datang dari dunia stand-up comedy yang tajam dan intelektual, sementara Andovi lebih dikenal lewat konten komedi digital yang lekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Soleh itu tipe orang yang kalau ngomong santai, tapi isinya nampol," kenang Andovi. "Aku merasa kami serasi bukan karena sama, tapi karena saling melengkapi."
Keserasian itu ternyata terbaca jelas di poster. Keduanya tampil dengan ekspresi yang saling menguatkan, seolah menggambarkan dinamika dua sosok yang berbeda tetapi dipertemukan oleh satu tujuan. Andovi mengaku sempat khawatir chemistry-nya tidak terbangun. Namun, kekhawatiran itu sirna begitu ia melihat hasil desain poster untuk pertama kali.
"Ada momen di mana aku cuma bisa diam dan tersenyum. Rasanya seperti melihat cermin dari perjalanan yang belum selesai, tapi sudah terasa hangat."
Di Balik Layar yang Tidak Selalu Terlihat
Di balik poster yang terlihat rapi itu, ada cerita panjang yang jarang terekspos. Andovi mengisahkan bagaimana ia harus menyesuaikan jadwal yang padat, belajar memahami karakter yang jauh dari dirinya, dan berlatih dialog berkali-kali hingga larut malam. Ada kalanya ia merasa lelah, tetapi semangat tim membuatnya bangkit kembali.
"Syuting bukan cuma soal akting di depan kamera. Ada air mata, ada ketawa lepas, ada rasa ragu yang harus ditepis," ujarnya. "Tapi justru itu yang bikin proyek ini terasa hidup."
Bagi Andovi, poster bukan sekadar alat promosi. Ia memandangnya sebagai potret kecil dari mimpi besar yang ia bangun bersama banyak orang. Setiap elemen di dalamnya, mulai dari tata cahaya hingga pilihan tipografi, menjadi saksi dari kerja keras yang tidak selalu tampak di layar.
Harapan yang Tumbuh dari Sebuah Gambar
Ketika ditanya apa yang paling ia harapkan dari film ini, Andovi tidak langsung menyebut angka atau target penonton. Ia justru berbicara soal resonansi. Ia ingin penonton merasa terwakili, merasa bahwa cerita tentang kejujuran, keluarga, dan pilihan hidup bukanlah hal yang asing.
"Aku pengin orang pulang dari bioskop sambil memeluk orang tuanya, atau sekadar menelepon mereka," ucapnya lirih. "Kalau itu terjadi, berarti kami berhasil."
Momen melihat poster itu rupanya menjadi titik refleksi bagi Andovi. Dari sebuah gambar sederhana, ia belajar kembali bahwa karya yang baik lahir dari kejujuran. Bukan dari kemewahan produksi, melainkan dari keberanian menyampaikan sesuatu yang benar-benar dirasakan.
Di sudut ruangan, poster itu masih tergeletak. Andovi menatapnya sekali lagi, kali ini dengan senyum yang lebih mantap. Sebuah perjalanan baru telah dimulai, dan ia siap membawanya dengan sepenuh hati.
Comments (0)