Oct 16, 2026
entertainment

Di Balik Layar Kesiapan Ju Ji-hoon Menanti Amarah Penonton

Di sebuah ruangan wawancara yang sunyi, jauh dari gemerlap lampu sorot dan riuhnya karpet merah, Ju Ji-hoon duduk tenang sambil sesekali tersenyum tipis. Bukan senyum seorang aktor yang sedang menikma...

Di Balik Layar Kesiapan Ju Ji-hoon Menanti Amarah Penonton

Di sebuah ruangan wawancara yang sunyi, jauh dari gemerlap lampu sorot dan riuhnya karpet merah, Ju Ji-hoon duduk tenang sambil sesekali tersenyum tipis. Bukan senyum seorang aktor yang sedang menikmati puncak popularitas, melainkan senyum seorang pria yang tahu betul badai apa yang sedang ia tunggu. Ia baru saja mengisahkan perjalanan terbarunya, sebuah keputusan yang mungkin dianggap gila oleh banyak orang: menerima peran yang dijamin akan membuat penonton membencinya.

"Aku justru menantikannya," ujarnya dengan nada ringan, hampir seperti seorang anak yang tak sabar membuka kado. Kalimat sederhana itu keluar tanpa keraguan, tanpa gurat takut. Bagi Ju Ji-hoon, amarah penonton bukanlah ancaman, melainkan bukti bahwa cerita yang ia bangun berhasil menyentuh emosi paling dasar manusia.

Perjalanan Menuju Karakter yang Dibenci

Ketika nama Ju Ji-hoon dikaitkan dengan proyek The Remarried Empress, reaksi publik terbelah. Di satu sisi, penggemar setia novel dan webtoon itu antusias membayangkan sosoknya menjelma menjadi tokoh yang selama ini mereka caci dalam imajinasi. Di sisi lain, tak sedikit yang bertanya-tanya: mengapa seorang aktor dengan reputasi mulus rela menanggung risiko dicap sebagai sosok menyebalkan di dunia nyata?

Ju Ji-hoon mengisahkan bahwa keputusan itu tak datang dalam semalam. Ia membaca naskahnya berulang kali, menelusuri setiap lapisan konflik, dan menemukan sesuatu yang membuatnya terpaku. "Ada momen ketika aku membaca adegannya, lalu berhenti, dan duduk diam cukup lama," kenangnya. "Aku berpikir, ini bukan soal benar atau salah. Ini soal bagaimana manusia bisa terjebak dalam ambisi mereka sendiri."

Di balik layar, ia berjuang memahami psikologi karakternya. Ia tak ingin sekadar tampil garang atau licik. Ia ingin penonton melihat ada luka, ada mimpi yang salah arah, ada ketakutan yang disembunyikan di balik senyum manis dan kata-kata yang tampak sopan. "Kalau penonton hanya membenci, itu artinya aku gagal. Aku ingin mereka benci sekaligus bertanya-tanya mengapa," tambahnya.

Momen Mengharukan di Balik Adegan Tegang

Selama proses syuting, suasana di lokasi tak selalu mencekam seperti isi cerita. Justru, ada saat-saat mengharukan yang jarang terungkap ke publik. Ju Ji-hoon bercerita tentang satu adegan emosional yang harus ia ulang berkali-kali. Bukan karena lupa dialog, tapi karena ia terlalu tenggelam dalam perasaan karakternya.

"Ada satu titik di mana aku benar-benar merasa hampa. Aku duduk di sudut ruangan, dan air mata itu jatuh tanpa bisa kutahan. Bukan karena sedih, tapi karena aku menyadari betapa rumitnya menjadi manusia yang selalu ingin menang," ujarnya lirih.

Tim produksi pun merasakan getaran itu. Mereka memilih memberi ruang, tak buru-buru menyalakan ulang kamera. Momen sederhana itu justru menjadi salah satu bagian paling menyentuh dari keseluruhan proses. "Kadang, di balik adegan yang paling tegang, ada keheningan yang paling jujur," katanya.

Bagi Ju Ji-hoon, pengalaman ini bukan sekadar pekerjaan. Ini perjalanan mengenal sisi gelap dan terang manusia, termasuk dirinya sendiri. Ia mengaku sempat ragu apakah ia cukup berani untuk tampil sebagai sosok yang akan dicaci jutaan orang. Namun, keraguan itu justru menjadi bahan bakar.

Inspirasi dari Amarah yang Ditunggu

Menjelang perilisan, tekanan mulai terasa. Media sosial dipenuhi komentar pedas yang menyasar karakternya, bahkan sebelum satu episode pun tayang. Alih-alih menghindar, Ju Ji-hoon memilih membaca beberapa di antaranya. Ia tersenyum, bukan karena mencemooh, tapi karena ia tahu amarah itu berarti penonton peduli.

"Aku tidak takut dicaci. Aku hanya takut kalau ceritanya tidak sampai ke hati," tuturnya. "Kalau mereka marah, berarti mereka ikut merasakan. Itu hadiah terbesar bagi seorang aktor."

Ia pun berharap kisah ini bisa menjadi cermin. Bahwa di balik tokoh yang tampak jahat, selalu ada kisah yang tak terlihat. Ada mimpi yang patah, ada pilihan sulit, ada air mata yang tak pernah ia tunjukkan. "Aku ingin orang tua yang menonton ini, atau siapa pun yang pernah salah melangkah, bisa melihat bahwa bangkit itu selalu mungkin, bahkan dari tempat yang paling gelap," ujarnya.

Saat wawancara berakhir, Ju Ji-hoon berdiri dan merapikan jaketnya. Ia melangkah keluar ruangan dengan tenang, seperti seseorang yang siap menyambut badai. Di luar, dunia mungkin akan meneriakinya, mencaci karakternya, atau bahkan membencinya sejenak. Namun, ia tahu, di balik semua itu, ada cerita yang sedang tumbuh. Dan baginya, itulah alasan ia memilih menjadi aktor sejak awal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User