Aug 25, 2026
entertainment

Di Balik Layar: Harapan Baru bagi Pekerja Film dan Perlindungan Anak

Pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar warga kota masih terlelap, deru genset memecah keheningan di sebuah lokasi syuting di pinggir Jakarta. Di sudut tenda sederhana, seorang anak berusia sembil...

Di Balik Layar: Harapan Baru bagi Pekerja Film dan Perlindungan Anak

Pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar warga kota masih terlelap, deru genset memecah keheningan di sebuah lokasi syuting di pinggir Jakarta. Di sudut tenda sederhana, seorang anak berusia sembilan tahun menguap pelan sambil menggenggam naskah tipisnya, menanti aba-aba untuk menghadap kamera. Tak jauh darinya, puluhan pekerja film hilir mudik menggulung kabel, menata lampu, dan memastikan adegan pertama berjalan sempurna. Di balik layar yang tampak gemerlap, tersimpan keringat, mimpi, dan kerentanan yang selama ini jarang mendapat sorotan.

Pemandangan semacam itu bukanlah potret tunggal, melainkan keseharian industri film Tanah Air yang terus bertumbuh. Namun di tengah geliat produksi yang membanggakan, nasib para penghidupnya sering kali berjalan tanpa pagar pengaman. Kini, secercah harapan datang dari ruang-ruang perumusan kebijakan. Badan Perfilman Indonesia (BPI) menjelaskan sejumlah topik penting mengenai sumber daya manusia yang menjadi bagian dari revisi Undang-Undang Perfilman — sebuah payung hukum yang sedang digodok dan di dalamnya memuat kerangka perlindungan bagi pekerja film, termasuk pekerja anak.

Kerja Panjang di Balik Gemerlap Layar

Bagi banyak pekerja film, jam kerja bukanlah angka pasti di atas kertas. Syuting bisa dimulai sebelum fajar dan berakhir jauh lewat tengah malam, dengan upah dan jaminan yang kerap bergantung pada kesepakatan lisan. Tidak sedikit dari mereka yang berjuang tanpa kepastian kontrak, tanpa perlindungan kesehatan, dan tanpa jaminan di hari tua.

"Kami mencintai pekerjaan ini, tapi cinta saja tidak cukup untuk membayar dokter ketika badan jatuh sakit," ujar seorang pekerja artistik yang telah belasan tahun berpindah dari satu produksi ke produksi lain. Suaranya lirih, namun matanya menyala ketika berbicara tentang film — seolah mengisahkan perjalanan panjang yang tak pernah ia sesali, meski penuh onak.

Dalam penjelasannya, BPI menegaskan bahwa persoalan sumber daya manusia menjadi salah satu perhatian utama dalam revisi undang-undang tersebut. Kerangka yang disusun diharapkan mampu memberi kepastian mengenai standar kerja, keselamatan, hingga kesejahteraan para pelaku industri — dari juru kamera, penata rias, hingga kru lapangan yang namanya tak pernah muncul di layar lebar.

Menjaga Mimpi-Mimpi Kecil di Depan Kamera

Di antara ribuan wajah di lokasi syuting, ada satu kelompok yang paling membutuhkan pelukan perlindungan: anak-anak. Mereka datang membawa bakat dan mimpi, kerap dengan polosnya menjalani hari-hari panjang yang seharusnya diisi dengan bermain dan belajar. Revisi Undang-Undang Perfilman disebut akan mengatur kerangka perlindungan bagi pekerja anak, mulai dari batasan jam kerja, hak atas pendidikan, hingga pendampingan selama proses produksi berlangsung.

Bagi para orang tua yang mendampingi buah hatinya berkarya, aturan ini terasa seperti angin segar. "Anak saya bahagia saat berakting. Tapi sebagai ibu, saya ingin memastikan kebahagiaannya tidak dicuri oleh kelelahan," tutur seorang ibu yang setia menunggui putrinya di setiap jeda syuting. Ada harap yang terselip di kalimatnya — harap yang sederhana, bahwa mimpi anaknya bisa tumbuh tanpa harus mengorbankan masa kecilnya.

Perlindungan semacam ini bukan sekadar pasal di atas kertas. Ia adalah janji bahwa industri yang dicintai banyak orang tidak akan menumbuhkan bakat-bakat muda dengan cara yang melukai mereka.

Secercah Harapan dari Ruang Legislasi

Perjalanan sebuah undang-undang memang panjang dan berliku. Revisi yang kini digodok masih harus melewati berbagai tahapan, dialog, dan penyempurnaan. Namun bagi mereka yang hidupnya bergantung pada dunia film, setiap langkah kecil menuju kepastian hukum terasa bermakna. Di balik layar, harapan itu kini bersemi pelan-pelan — seperti cahaya pertama yang muncul ketika lampu syuting dinyalakan.

BPI sendiri memandang penguatan sumber daya manusia sebagai fondasi masa depan perfilman nasional. Film yang baik, bagaimanapun, lahir dari manusia-manusia yang diperlakukan dengan baik. Industri yang sehat tidak hanya diukur dari jumlah penonton atau piala penghargaan, melainkan juga dari seberapa jauh ia melindungi orang-orang yang berjuang di dalamnya.

Kembali ke tenda sederhana di pinggir Jakarta itu. Sang anak kecil kini tersenyum lebar setelah menyelesaikan adegannya, lalu berlari ke pelukan ibunya. Di kejauhan, para kru mulai membereskan peralatan, bersiap menyambut hari baru. Mungkin kelak, ketika payung hukum itu benar-benar terbentang, senyum seperti itu akan lahir bukan hanya karena adegan yang berhasil — melainkan karena mimpi mereka akhirnya dijaga oleh negara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User