Aug 25, 2026
entertainment

Di Balik Julukan King of Galau, Judika Buka Kisah Pribadinya

Gemuruh sorak penonton menggema di area terbuka TRANS TV Festival Vol 5, tetapi malam itu ada satu momen yang membuat ribuan suara seketika meredup menjadi bisik-bisik haru. Di atas panggung utama, Ju...

Di Balik Julukan King of Galau, Judika Buka Kisah Pribadinya

Gemuruh sorak penonton menggema di area terbuka TRANS TV Festival Vol 5, tetapi malam itu ada satu momen yang membuat ribuan suara seketika meredup menjadi bisik-bisik haru. Di atas panggung utama, Judika tidak sedang memekikkan nada tinggi andalannya. Ia berdiri diam, menatap lautan manusia di hadapannya, lalu berbicara dengan suara yang lebih mirip bisikan batin. Inilah kali pertama sang penyanyi dengan sengaja membuka lembaran pribadi tentang julukan yang selama ini akrab di telinga publik: King of Galau.

“Saya ingin bercerita sesuatu, tentang kenapa saya dijuluki seperti itu,” ujar Judika, memecah hening. Tepuk tangan pun pecah, tetapi segera reda ketika nada bicaranya berubah serius. “Ini bukan tentang musik saja. Ini tentang hidup saya.”

Luka Pribadi yang Menjelma Lagu

Judika lalu mengisahkan perjalanan emosionalnya yang jarang diketahui banyak orang. Di sela-sela konser, ia menyelipkan cerita tentang masa-masa sulit di mana cinta yang ia perjuangkan justru membawanya pada kehampaan. “Beberapa lagu yang sering kalian nyanyikan itu, sebenarnya diambil dari kejadian nyata yang saya alami. Tidak ada yang direkayasa. Saya hanya menulis apa yang saya rasakan saat hati ini benar-benar hancur,” katanya, matanya menerawang sejenak.

Tanpa menyebut judul lagu secara spesifik, ia menggambarkan momen di mana ia duduk sendirian di ruang tamu rumahnya, berteman secangkir kopi dingin, sembari menulis lirik di atas kertas yang kusut karena air mata. “Waktu itu, saya bahkan tidak berpikir lagu itu akan didengar orang lain. Saya hanya butuh meluapkan rasa sakit. Tapi ternyata, justru di situlah kekuatan lagu itu: ia jujur.”

Momen yang Membentuk Julukan

Julukan King of Galau, menurut Judika, bukanlah sesuatu yang ia minta. Label itu hadir begitu saja dari para pendengarnya yang merasa lagu-lagunya selalu berhasil mewakili kegalauan mereka. “Saya ingat pertama kali seorang penggemar berteriak ‘King of Galau!’ di sebuah konser kecil. Saya tertawa saja waktu itu. Tapi lama-lama, saya sadar, ternyata banyak sekali yang merasakan hal yang sama. Dan mereka menemukan rumah dalam lagu-lagu saya,” ungkapnya.

Di festival itu, ia pun bercerita tentang perubahan pandangannya. Awalnya, ia sempat risih dengan stereotip penyanyi galau. Namun, setelah bertemu langsung dengan banyak pendengar yang menangis dan berterima kasih karena lagunya menemani masa-masa tergelap mereka, Judika justru merasa terhormat. “Kalau dengan menyandang gelar itu saya bisa membuat satu orang saja tidak merasa sendirian di tengah patah hatinya, maka itu sudah cukup bagi saya.”

Energi yang Menyatu dengan Penonton

Saat ia kembali memegang mikrofon untuk bernyanyi, atmosfer festival berubah total. Lagu demi lagu dinyanyikan bersama, dari bibir penonton yang hafal setiap kata. Di tengah alunan musik, sesekali Judika tersenyum melihat para penonton yang saling berpegangan tangan atau meneteskan air mata. “Ini bukan konser biasa. Ini seperti pertemuan keluarga—keluarga besar para patah hati,” candanya, yang disambut tawa sekaligus isak tangis.

Salah satu penampilan yang paling membekas adalah saat ia menyanyikan sebuah lagu balada yang dalam liriknya menyimpan kisah kehilangan terbesarnya. Ia menutup mata beberapa kali, seolah kembali ke kenangan itu. Di barisan depan, seorang pria paruh baya terlihat menyeka mata dengan punggung tangannya. Di belakangnya, seorang remaja perempuan memeluk lututnya sendiri sambil ikut bernyanyi lirih. Panggung TRANS TV Festival Vol 5 malam itu bukan hanya tempat hiburan, melainkan ruang aman untuk merayakan kerapuhan.

Pesan di Ujung Malam

Menjelang akhir penampilannya, Judika kembali berbicara. Kali ini dengan senyuman yang lebih lepas. “Saya sudah tidak malu lagi menjadi King of Galau. Kalau dulu saya menganggap galau itu kelemahan, sekarang saya lihat ia adalah jembatan. Jembatan yang menghubungkan hati saya dengan hati kalian,” ucapnya.

Ia lalu mengajak seluruh penonton untuk menerima segala emosi yang ada dalam diri mereka. “Jangan pernah takut untuk merasa galau. Karena di balik galau, ada kejujuran. Dan dari kejujuran itu, kita bisa sembuh dan bangkit. Lagu-lagu ini adalah buktinya.”

Sorak sorai kembali menggema, tetapi kali ini terasa berbeda—ada kelegaan yang menyelimuti area festival. Malam itu, Judika tidak hanya tampil sebagai penyanyi. Ia hadir sebagai sahabat yang mengingatkan bahwa luka, jika disuarakan dengan benar, bisa menjadi pelipur bagi banyak hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User