Pagi itu, cahaya matahari menyusup melalui celah jendela kayu sebuah ruangan berukuran tak lebih dari 3x4 meter di sudut Pondok Pesantren Yayasan Zumrotut Tholibin, Boyolali, Jawa Tengah. Di dalamnya, seorang lelaki paruh baya duduk bersila di atas lantai, memegang kuas berbulu lembut dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Di hadapannya terbuka sebuah kitab berhalaman kuning kecokelatan, yang usianya jauh melampaui usia kakeknya sendiri. Dengan gerakan perlahan, nyaris tanpa suara, ia menyapukan kuas itu ke permukaan kertas rapuh — seolah sedang membelai wajah seorang sahabat lama yang tengah terbaring sakit.
Adegan sederhana itu bukan sekadar rutinitas. Ia adalah bagian dari sebuah perjuangan sunyi menyelamatkan ratusan kitab kuno warisan para pendiri pesantren — naskah-naskah berbahasa Arab dan aksara pegon yang nyaris punah digerus zaman, kelembapan, dan gigitan rayap.
Kitab-Kitab yang Hampir Menyerah pada Waktu
Ketika lemari penyimpanan tua itu pertama kali dibuka kembali, pemandangan di dalamnya membuat siapa pun menahan napas. Puluhan kitab tersusun miring, sebagian sampulnya terkelupas, halamannya berlubang dimakan serangga, dan bau kertas lapuk memenuhi udara. Ada naskah yang tintanya memudar hingga sulit dibaca, ada pula yang halamannya saling menempel karena lembap bertahun-tahun tanpa pernah disentuh.
Bagi keluarga besar pesantren, kitab-kitab itu bukan sekadar tumpukan kertas tua. Di dalamnya tersimpan catatan keilmuan para kiai terdahulu: tafsir, fikih, tauhid, hingga nasihat-nasihat kehidupan yang ditulis tangan puluhan bahkan ratusan tahun silam. Setiap goresan tinta adalah jejak perjalanan ilmu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
"Saat saya mengangkat satu kitab dan halamannya rontok begitu saja, rasanya seperti kehilangan anggota keluarga. Air mata saya jatuh tanpa bisa ditahan. Ini peninggalan para guru kami," ujar salah seorang pengasuh pesantren dengan suara bergetar.
Dari momen mengharukan itulah sebuah tekad lahir: warisan ini tidak boleh berakhir menjadi debu. Para pengasuh, santri, dan alumni bergandengan tangan memulai ikhtiar panjang yang mereka sebut sebagai jalan pulang bagi ilmu yang hampir hilang.
Menyelamatkan Lembar demi Lembar
Di balik layar upaya penyelamatan itu, ada kerja panjang yang menuntut kesabaran luar biasa. Setiap kitab harus dibersihkan satu per satu menggunakan kuas berbulu halus agar kertasnya yang rapuh tidak robek. Debu dan sisa kotoran diangkat perlahan dari sela-sela halaman, lalu setiap lembar difoto dan didigitalisasi agar isinya tersimpan dalam bentuk arsip digital yang abadi.
Sebuah kitab tebal bisa memakan waktu berhari-hari. Tidak ada yang boleh terburu-buru, karena satu gerakan yang salah bisa berarti kehilangan satu halaman ilmu yang tak tergantikan. Suhu ruangan, arah cahaya, hingga cara membalik halaman — semuanya diperhatikan dengan saksama.
"Kami memperlakukan setiap lembar seperti makhluk hidup. Ia pernah menemani para kiai kami mengaji, sekarang giliran kami yang menemaninya bertahan," tuturnya sambil tersenyum tipis.
Yang menyentuh, para santri muda ikut dilibatkan dalam proses ini. Mereka yang selama ini hanya membaca kitab lewat lembaran fotokopi, kini menyentuh langsung naskah asli tulisan para pendahulunya. Banyak dari mereka pulang ke kamar dengan mata berkaca-kaca, merasakan kedekatan batin yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Seolah para penulis kitab itu hadir kembali, berbisik lewat tinta yang mulai pudar.
Mimpi agar Warisan Ini Tetap Bernapas
Digitalisasi bukan sekadar memindahkan gambar ke komputer. Ia adalah mimpi besar: agar ilmu yang tertulis di lembar-lembar tua itu bisa dibaca santri hari ini, besok, dan seratus tahun lagi. Ke depan, arsip digital pesantren ini diharapkan bisa diakses para peneliti dan siapa pun yang rindu menimba khazanah keilmuan Nusantara — sebuah jembatan antara masa silam dan masa depan.
Bagi para pengasuh, setiap halaman yang berhasil diselamatkan adalah kemenangan kecil yang patut disyukuri dengan sujud. Dari ruangan sempit berdebu itu, sebuah pesan kehidupan mengalir deras: bahwa menjaga ilmu sama mulianya dengan mengamalkannya, dan bahwa kebangkitan sering kali bermula dari kesediaan merawat hal-hal kecil yang hampir dilupakan.
Sore menjelang, lelaki paruh baya itu menutup kitab yang telah bersih dengan kedua telapak tangan, lalu mendekapkannya sejenak ke dada. Bibirnya komat-kamit melafalkan doa. Kitab itu mungkin rapuh, tetapi tangan-tangan yang menjaganya tidak pernah sekalipun goyah.
Comments (0)