Aug 25, 2026
entertainment

Di Balik Cahaya Panggung JFC 2026, Sisca Saras Membisikkan Mimpi

Detak jantung itu seakan ikut menggetarkan seluruh sudut ruang tunggu. Di antara gemerlap lampu dan aroma parfum yang bercampur dengan semprotan hairspray, seorang perempuan duduk tenang di depan cerm...

Di Balik Cahaya Panggung JFC 2026, Sisca Saras Membisikkan Mimpi

Detak jantung itu seakan ikut menggetarkan seluruh sudut ruang tunggu. Di antara gemerlap lampu dan aroma parfum yang bercampur dengan semprotan hairspray, seorang perempuan duduk tenang di depan cermin besar. Tangannya yang sedikit gemetar merapikan lipatan terakhir pada gaun berbahan tenun lurik yang membalut tubuhnya. Dialah Sisca Saras, dan malam ini adalah momen yang telah ia nantikan, sekaligus ia takuti, selama bertahun-tahun: debut solonya di panggung utama Jakarta Fashion Week 2026.

Di balik layar kemegahan acara mode paling bergengsi di Asia Tenggara itu, tersimpan sebuah perjalanan sunyi yang mungkin tak banyak diketahui orang. Jauh sebelum sorotan lampu dan tepuk tangan riuh, Sisca hanyalah seorang gadis kecil dari kota kecil di Jawa Tengah yang gemar menggunting-gunting kain perca milik ibunya. "Waktu itu, saya cuma ingin punya baju yang berbeda dari teman-teman. Uang jajan saya kumpulkan bukan untuk beli jajan, tapi untuk beli manik-manik dan benang," kenangnya dengan mata berbinar, seolah memutar kembali putaran waktu ke masa kanak-kanaknya yang sederhana.

Perjuangan yang Terajut dari Benang-Benang Perca

Mengisahkan perjalanan Sisca Saras bak membaca sebuah novel tentang kegigihan. Ia bukan berasal dari keluarga desainer kondang, juga tidak memiliki gelar dari sekolah mode ternama di Paris atau Milan. Pendidikannya adalah kerja keras, pengalaman pahit, dan mimpi yang tak pernah padam. Di awal kariernya, ia harus rela ditertawakan ketika membawa portofolio desainnya ke sejumlah butik kecil. "Ada yang bilang, 'Kamu itu cuma lulusan SMK, jangan mimpi terlalu tinggi,'" ujarnya lirih, namun seulas senyum tipis tetap mengembang di wajahnya. Kata-kata itu justru menjadi pupuk bagi mimpinya.

Momen paling mengharukan datang ketika ia bercerita tentang ibunya, seorang penjahit rumahan yang menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dalam hidupnya. Sang ibu rela menjual satu-satunya mesin jahit tua yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga, demi membelikan Sisca sebuah mesin jahit portable kecil bekas. "Mesin itu masih saya simpan sampai sekarang. Setiap kali saya hampir menyerah, saya memandang mesin itu dan ingat air mata ibu saat menyerahkannya," tuturnya. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter yang dulu menjadi kamar dan juga studio pertamanya, gadis itu bermimpi suatu hari bisa melihat karyanya melenggang di catwalk.

Ketukan Nadi di Panggung JFC 2026

Malam itu, ketika lampu utama meredup dan musik mulai mengalun, Sisca berdiri di balik tirai hitam raksasa. Jantungnya berdebar kencang. Bukan karena gugup semata, melainkan karena seluruh memori perjuangannya—air mata, ejekan, dan rasa sakit—seperti diputar cepat dalam benaknya. "Saya merasa, ini bukan sekadar peragaan busana. Ini adalah jawaban untuk semua yang pernah meragukan," bisiknya dalam hati.

Koleksi bertajuk "Jejak Leluhur" yang ia tampilkan malam itu adalah sebuah surat cinta untuk akarnya. Setiap helai kain tenun yang ia gunakan berasal dari pengrajin perempuan di desa terpencil yang ia datangi satu per satu. Ia tak hanya mendesain, tapi juga menghidupkan kembali kisah-kisah yang nyaris punah. Salah satu model yang mengenakan gaun berbahan songket Palembang bahkan tak kuasa menahan tangis saat sesi fitting, karena motif yang dikenakannya persis seperti yang biasa dikenakan mendiang neneknya. Ini bukan sekadar fashion; ini adalah ruang untuk pulang.

Saat derap langkah model pertama memecah hening, seluruh ruangan seketika terpaku. Karya Sisca Saras seolah berbicara dalam bahasa sunyi yang menyentuh jiwa. Paduan warna alam yang kalem, siluet yang mengalir lembut, dan detail bordir tangan yang rumit menciptakan harmoni yang mengundang decak kagum. Para tamu undangan, yang sebagian besar adalah kritikus mode tajam, tak kuasa berdiri memberikan standing ovation. Di bangku paling depan, sang ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia mengalir deras di pipinya yang mulai keriput.

Setelah Tepuk Tangan Itu Berlalu

Namun, bagi Sisca, puncak dari semuanya bukanlah tepuk tangan atau pujian yang datang bertubi-tubi. Justru, dalam keheningan setelah acara usai, ketika gemerlap lampu telah meredup, ia menemukan kemenangannya yang sesungguhnya. Ia duduk sendirian di atas panggung catwalk yang kosong, melepas sepatu hak tingginya, dan menyentuh lantai itu dengan telapak kaki telanjang. "Saya cuma mau bilang terima kasih pada lantai ini. Karena dari sinilah, saya bisa berdiri," kenangnya sambil menyeka sudut matanya.

Inspirasi yang ia bawa tak berhenti di panggung JFC 2026. Kini, Sisca tengah merancang program beasiswa untuk anak-anak muda dari daerah tertinggal yang bermimpi menjadi desainer, namun tak memiliki akses pendidikan. Ia ingin mematahkan stigma bahwa mode hanyalah milik mereka yang berduit. "Bakat itu ada di mana-mana. Mereka hanya butuh seseorang yang percaya bahwa mereka bisa bangkit," tegasnya. Koleksi berikutnya sudah ia rencanakan dengan sepenuh hati, tetap berkolaborasi dengan pengrajin lokal, dan dengan cerita-cerita baru yang akan ia bawa dari desa-desa yang belum pernah tersentuh sorotan media.

Kisah Sisca Saras mengajarkan bahwa di balik setiap karya yang memukau, selalu ada perjalanan manusiawi yang sering tak terlihat. Bahwa untuk berdiri di bawah sorotan, dibutuhkan ribuan jam dalam gelap. Dan bahwa mimpi, meski terbuat dari benang-benang perca yang rapuh, bisa menjadi jahitan yang paling kuat ketika dirajut dengan air mata, cinta, dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User