Aug 25, 2026
entertainment

Di Balik Antrean Panjang 'The Odyssey', Ada Tembok Tak Kasatmata

Beberapa langkah dari pintu megah bertabur lampu kristal, seorang pria paruh baya berdiri mematung. Jas lusuh yang ia kenakan basah oleh rintik hujan senja. Tangannya menggenggam erat selembar karcis ...

Di Balik Antrean Panjang 'The Odyssey', Ada Tembok Tak Kasatmata

Beberapa langkah dari pintu megah bertabur lampu kristal, seorang pria paruh baya berdiri mematung. Jas lusuh yang ia kenakan basah oleh rintik hujan senja. Tangannya menggenggam erat selembar karcis yang sudah lecek. Matanya tak lepas dari deretan orang yang satu per satu melangkah masuk, wajah-wajah mereka sumringah, busana mereka berkilau. Nama pria itu Alex, dan malam itu ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan bagaimana The Odyssey—sebuah pertunjukan teater imersif yang paling dinanti tahun ini—menggelar keajaibannya. Hanya saja, karcis di tangannya tidak cukup. Ia masih butuh lebih dari sekadar karcis untuk benar-benar menikmati pertunjukan itu.

Begitulah kisah yang mengawali gelombang kritik di balik gegap gempita The Odyssey. Pertunjukan ini memang sukses mencuri perhatian ribuan penonton, mengantre sejak subuh demi mendapatkan tempat. Namun, di balik sorak sorai itu, terselip keluhan yang kian nyaring: cara menontonnya yang dinilai elitis, seolah dibangunkan tembok tinggi yang hanya bisa dilompati oleh mereka yang berkantong tebal.

Pintu Masuk yang Tak Sama untuk Semua

Bukan tanpa alasan The Odyssey menjadi begitu istimewa. Mengisahkan perjalanan epik manusia modern yang terombang-ambing dalam labirin ingatan dan trauma, pertunjukan ini menggunakan teknologi realitas virtual (VR) generasi terbaru yang disematkan pada setiap kursi. Perangkat canggih itu memungkinkan penonton tidak hanya menyaksikan, melainkan benar-benar tenggelam dalam setiap adegan. Ombak lautan terasa berdesir di kulit, aroma tanah basah pasca-badai tercium nyata. Sebuah momen mengharukan yang konon membuat banyak penonton terisak.

Sayangnya, perangkat VR itu tidak bisa digunakan secara massal. Panitia hanya menyediakan 300 unit eksklusif yang dipasangi sensor biometrik, dan untuk mendapatkannya, pengunjung harus membayar hingga tiga kali lipat dari harga tiket reguler—yang sebenarnya juga sudah terbilang mahal. Bagi banyak orang seperti Alex, selisih harga itu bukan sekadar angka. Itu setara dengan uang makan keluarganya selama seminggu.

"Saya sudah menabung tiga bulan untuk bisa membeli tiket reguler," ujar Alex, suaranya bergetar mencampur dingin dan kecewa. "Ternyata itu belum cukup. Saya tidak bisa merasakan inti pertunjukannya. Jadi, saya hanya duduk di bangku biasa, menatap panggung yang gelap sesekali, sementara orang-orang di sebelah saya berteriak dan menangis karena mereka bisa melihat dunia yang tak bisa saya saksikan."

Momen itu menjadi awal retakan. Bukan cuma Alex; belasan calon penonton lain mengungkapkan nasib serupa. Sebagian dari mereka datang dari luar kota, bahkan luar pulau, hanya bermodalkan mimpi dan sedikit tabungan. Mereka akrab dengan narasi besar The Odyssey yang digadang-gadang sebagai tonggak baru seni teater Indonesia. Tapi justru di situlah ironinya: seni yang membesarkan mimpi justru memupusnya di depan mata.

Kemewahan yang Melahirkan Sekat

Kritik paling tajam datang dari kalangan pegiat seni dan akademisi. Mereka menilai panitia telah mengubah panggung menjadi arena komersial yang hanya berpihak pada segelintir orang. Bukan hanya soal harga, tetapi juga lokasi pertunjukan yang sengaja digelar di hotel bintang lima di pusat bisnis Jakarta, jauh dari jangkauan masyarakat umum. Undangan eksklusif lebih dulu diberikan kepada para sosialita dan petinggi perusahaan, sementara pencinta seni sejati harus berjuang dalam antrean sengit dan lotre digital.

"The Odyssey mengisahkan perjalanan manusia dengan segala luka dan harapannya, tetapi ironisnya, ia justru meninggalkan banyak manusia di luar sana," kata Maya Indira, seorang kurator seni. "Seni seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Tapi yang terjadi malam ini, seni telah menjadi pagar tinggi berlapis emas yang hanya bisa disentuh mereka yang berpunya."

Di balik layar, pihak produksi bukannya tanpa pembelaan. Dalam wawancara terbatas, sang sutradara menyebut bahwa pengalaman imersif itu memang dirancang untuk intim dan personal. "Kalau semua orang bisa masuk, magisnya hilang," katanya. Namun, pernyataan itu justru mengundang reaksi lebih keras. Banyak yang membandingkan dengan pertunjukan kelas dunia yang tetap bisa diakses oleh berbagai kalangan tanpa kehilangan pesona.

Air Mata di Luar Tirai

Di tengah riuh perdebatan, ada kisah sederhana yang paling menyentuh. Seorang ibu bernama Ratna, seorang guru honorer dari Yogyakarta, rela datang ke Jakarta bersama putrinya yang mengidap autisme ringan. Sang anak, yang terobsesi dengan mitologi Yunani, sudah berbulan-bulan menyimpan gambar-gambar kapal Odysseus buatannya sendiri. Ratna berharap, pengalaman audio-visual yang disebut-sebut ajaib itu bisa menjadi hadiah ulang tahun untuk buah hatinya. Namun, tiket VR sudah habis bahkan sebelum ia bisa mengakses situs penjualan.

"Anak saya hanya bisa menempelkan wajahnya ke kaca lobi hotel, bertanya kenapa kapal yang ada di kepalanya tidak bisa berlayar di sana," kata Ratna dengan mata berkaca-kaca. "Saya tidak bisa menjelaskan bahwa kapal itu hanya berlayar untuk orang-orang yang punya cukup uang."

Kisah Ratna menyebar di media sosial dan menjadi titik nyala ribuan warganet. Tagar #OdysseyUntukSemua bergema, memaksa pihak penyelenggara buka suara. Mereka akhirnya berjanji menggelar pertunjukan keliling dengan harga lebih terjangkau, meski tanpa teknologi VR, sebagai bentuk kompromi. Langkah itu disambut lega, namun sekaligus menegaskan kesenjangan yang sudah telanjur terbuka: ada dua kelas penonton, dan yang satu dibiarkan mengecap kemewahan, sementara yang lain hanya mendapat sisanya.

Di sudut lain kota, Alex akhirnya memutuskan untuk menyimpan karcisnya sebagai pengingat. Ia kini lebih sering datang ke pertunjukan-pertunjukan kecil di komunitas, di mana seni tak bertirai dan semua orang boleh duduk sama rata. The Odyssey mungkin telah berlayar jauh meninggalkannya, tetapi dari dermaga kecil itulah ia kembali bangkit, menemukan makna seni yang sesungguhnya: sederhana, menyentuh, dan melampaui sekadar teknologi mahal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User