Oct 10, 2026
entertainment

Derry Sulaiman Bersaksi di Sidang Richard Lee, Ingatkan Bahaya Menghakimi Keislaman Sesama

Di sebuah ruang sidang yang pengap di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, seorang pria berpeci putih duduk di kursi saksi dengan tangan menggenggam erat. Derry Sulaiman, pendakwah yang juga mantan gitari...

Derry Sulaiman Bersaksi di Sidang Richard Lee, Ingatkan Bahaya Menghakimi Keislaman Sesama

Di sebuah ruang sidang yang pengap di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, seorang pria berpeci putih duduk di kursi saksi dengan tangan menggenggam erat. Derry Sulaiman, pendakwah yang juga mantan gitaris band cadas, tampak menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan majelis hakim. Ia bukan sedang berdakwah di atas panggung, melainkan diminta memberikan keterangan dalam sidang perkara dugaan pencemaran nama baik yang menjerat Richard Lee. Suasana ruangan itu senyap, hanya suara hakim dan ketukan palu yang sesekali memecah keheningan.

Kehadiran Derry dalam persidangan ini bukan tanpa alasan. Ia mengaku mengetahui perselisihan yang bermula dari unggahan di media sosial, yang kemudian berkembang menjadi laporan hukum. Namun, di balik urusan hukum itu, Derry melihat ada persoalan lebih mendasar yang perlu direnungkan bersama: kebiasaan sebagian orang yang begitu mudah menilai dan mempertanyakan keislaman orang lain. "Saya di sini bukan untuk membela siapa-siapa, tapi saya ingin mengingatkan bahwa urusan hati dan iman seseorang itu bukan wilayah manusia untuk menghakimi," ujarnya dengan suara pelan namun tegas, seperti dikutip dari keterangannya di persidangan.

Di Balik Layar Perseteruan yang Berujung ke Meja Hijau

Derry mengisahkan, perseteruan antara Richard Lee dan pihak lain berawal dari komunikasi di dunia maya. Sebagai orang yang pernah berada di lingkaran pertemanan keduanya, ia berusaha menengahi. Namun, upaya itu tak membuahkan hasil. "Saya sudah coba bicara baik-baik, tapi mungkin ada ego yang lebih besar," kenangnya. Ia pun menyayangkan bahwa persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan di ruang obrolan santai justru harus diselesaikan melalui jalur hukum.

Dalam keterangannya, Derry menyoroti fenomena yang menurutnya semakin meresahkan: saling menuduh sesat, saling mengkafirkan, hanya karena perbedaan pandangan atau gaya hidup. Ia menyebut, fenomena itu ibarat penyakit yang menggerogoti ukhuwah. "Kalau kita sibuk menunjuk kesalahan orang lain, kapan kita memperbaiki diri sendiri?" tuturnya dengan raut mata yang dalam. Kalimat itu menggantung di ruang sidang, membuat beberapa orang yang hadir tampak mengangguk pelan.

"Iman itu urusan antara seseorang dengan Tuhannya. Kita tidak pernah tahu bagaimana perjalanan hijrah seseorang. Bisa jadi orang yang kita anggap jauh, justru lebih dekat di mata Allah." — Derry Sulaiman

Perjalanan Hijrah dan Pelajaran Tentang Tidak Menghakimi

Bagi Derry, pengalaman hidupnya sendiri menjadi cermin. Ia mengingat masa mudanya ketika ia masih berkutat di dunia musik dan jauh dari nilai-nilai agama. Perjalanan panjang itu mengajarkannya satu hal berharga: bahwa hidayah tidak datang dalam semalam, dan tidak ada seorang pun yang berhak mencabut harapan orang lain untuk berubah. "Saya dulu bukan siapa-siapa. Saya pernah di titik paling jauh. Tapi Allah masih memberi kesempatan. Maka saya tidak berani menghakimi orang lain," ujarnya dengan nada menyentuh.

Dalam persidangan tersebut, Derry berulang kali menekankan pentingnya adab dalam berdakwah. Menurutnya, menyampaikan kebenaran tidak perlu dengan cara merendahkan. "Berdakwah itu mengajak, bukan menghina. Kalau cara kita menyakiti, berarti ada yang salah dengan cara kita," tegasnya. Ia berharap, apa pun putusan pengadilan nanti, semua pihak bisa mengambil hikmah dan kembali memperbaiki hubungan.

Harapan Akan Perdamaian dan Kedewasaan Beragama

Di akhir keterangannya, Derry tak lupa menyampaikan harapan. Ia ingin kasus ini menjadi titik balik, bukan hanya bagi yang berperkara, tetapi juga bagi publik yang menyaksikan. "Saya berdoa semoga semuanya berakhir damai. Tidak ada yang menang atau kalah. Yang menang adalah kita yang bisa menahan diri," ucapnya sambil tersenyum tipis. Ia juga mengingatkan bahwa media sosial sering kali memperbesar perpecahan, sementara di dunia nyata banyak orang sibuk mencari nafkah dan merawat keluarga.

Selepas sidang, Derry sempat berbincang singkat dengan awak media. Ia menolak berkomentar panjang soal materi perkara, tetapi kembali menekankan pesan yang sama: jangan jadikan agama sebagai alat untuk menyerang. "Saya titip satu hal, mari kita lebih sibuk memperbaiki diri daripada mengurusi kekurangan orang lain," pungkasnya. Langkahnya perlahan meninggalkan ruang sidang, menyisakan perenungan bagi siapa saja yang mendengar. Di tengah riuhnya persidangan, suara Derry seolah menjadi oase yang mengingatkan bahwa di balik semua perbedaan, ada nilai kemanusiaan yang harus dijaga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User