Oct 10, 2026
entertainment

Wajah Tamara Dai Dipakai AI untuk Iklan Skincare Tanpa Izin

Di layar ponselnya, Tamara Dai menatap wajah yang sangat ia kenal. Wajah itu tersenyum, memakai produk skincare, dan mengajak orang untuk membeli. Masalahnya, ia tidak pernah melakukan sesi foto itu. ...

Wajah Tamara Dai Dipakai AI untuk Iklan Skincare Tanpa Izin

Di layar ponselnya, Tamara Dai menatap wajah yang sangat ia kenal. Wajah itu tersenyum, memakai produk skincare, dan mengajak orang untuk membeli. Masalahnya, ia tidak pernah melakukan sesi foto itu. Ia tidak pernah menyetujui apa pun. Wajah dan tubuhnya telah diambil, diproses oleh kecerdasan buatan, lalu diubah menjadi konten promosi tanpa sepengatahuannya.

"Aku benar-benar kaget, sedih, dan kecewa. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang diambil begitu saja," ujar Tamara dalam keterangan yang dibagikannya melalui media sosial, mengisahkan momen ketika ia pertama kali melihat konten tersebut.

Perempuan yang dikenal sebagai kreator konten ini bukan pertama kali menghadapi persoalan hak atas citranya. Namun kali ini berbeda. Yang dipakai bukan sekadar foto lama, melainkan teknologi AI yang mampu mereplikasi wajah dan tubuhnya hingga tampak sangat meyakinkan. Di balik layar, ada proses digital yang licin dan sulit dilacak.

Ketika Teknologi Melampaui Izin

Tamara menuturkan bahwa konten promosi itu bukan hanya memakai fotonya. Ada manipulasi gambar dan video yang membuatnya seolah-olah benar-benar mempromosikan produk tersebut. Ia tidak diberi tahu, tidak dimintai persetujuan, dan tentu tidak menerima kompensasi apa pun.

"Ini bukan tentang uang semata. Ini tentang hak untuk memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap wajah dan tubuh kita," katanya, suaranya terdengar bergetar menahan emosi.

Kasus ini menyentuh persoalan yang lebih besar: seberapa jauh batas penggunaan AI dalam dunia pemasaran? Di Indonesia, perlindungan terhadap citra pribadi masih menjadi wilayah abu-abu. Banyak pelaku usaha merasa cukup mengunduh gambar dari internet, lalu mengolahnya dengan alat AI, tanpa memikirkan dampak bagi orang yang ada di dalam gambar itu.

Perjuangan Menjaga Martabat Diri

Bagi Tamara, langkah yang ia ambil bukan sekadar soal konten. Ia berbicara tentang martabat. Tentang hak seorang perempuan untuk mengontrol narasi atas dirinya sendiri. Ia mengisahkan bagaimana ia harus menjelaskan kepada keluarga dan orang terdekat bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam promosi itu.

"Ada rasa malu yang tidak seharusnya aku rasakan. Padahal aku korban. Tapi tetap saja, aku harus menjelaskan bahwa itu bukan aku," ujarnya.

Perjalanan untuk memperjuangkan haknya tidak mudah. Tamara harus mengumpulkan bukti, menelusuri jejak digital, dan berhadapan dengan pihak-pihak yang mungkin tidak memahami seriusnya persoalan ini. Namun ia memilih untuk tidak diam.

"Aku ingin orang tahu bahwa ini bukan hal kecil. Ini menyangkut harga diri, dan aku tidak akan membiarkan wajahku dipakai tanpa izin."

Pelajaran bagi Dunia Digital

Kisah Tamara menjadi cermin bagi kita semua. Di era ketika AI dapat menciptakan gambar yang nyaris sempurna, batas antara nyata dan palsu semakin tipis. Setiap orang bisa menjadi korban, terutama mereka yang aktif di media sosial dan memiliki citra publik.

Ia berharap kasusnya membuka mata banyak pihak. Bahwa persetujuan bukan sekadar formalitas. Bahwa wajah dan tubuh seseorang bukan komoditas bebas yang bisa diolah mesin tanpa izin. Dan bahwa di balik setiap gambar, ada manusia dengan perasaan, air mata, dan mimpi yang harus dihormati.

"Aku bangkit bukan karena ingin balas dendam. Aku bangkit supaya tidak ada lagi yang merasakan apa yang aku rasakan," tutupnya, sederhana namun menyentuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User