Oct 11, 2026
entertainment

Deodoran di Wajah: Trik Kulit Berminyak yang Menuai Pro dan Kontra

Di sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di kawasan Depok, Sari—seorang mahasiswi semester akhir—berdiri di depan cermin kecil yang menempel di dinding. Tangannya menggenggam deodoran roll-on milik...

Deodoran di Wajah: Trik Kulit Berminyak yang Menuai Pro dan Kontra

Di sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di kawasan Depok, Sari—seorang mahasiswi semester akhir—berdiri di depan cermin kecil yang menempel di dinding. Tangannya menggenggam deodoran roll-on miliknya. Namun, ia tidak sedang mengoleskannya ke ketiak. Dengan hati-hati, ia mengusapkan benda itu ke area T-zone di wajahnya yang mulai mengilap setelah tiga jam berkegiatan di luar ruangan.

"Awalnya aku ragu banget. Rasanya aneh, kok deodoran dipakai di muka? Tapi setelah lihat puluhan video di internet, aku coba sendiri. Dan hasilnya... lumayan bikin minyaknya berkurang," kisahnya sambil tersenyum tipis, mengenang momen pertama kali ia mencoba trik tersebut setahun lalu.

Praktik menggunakan deodoran sebagai pengontrol minyak wajah memang bukan hal baru di dunia kecantikan. Sejak beberapa tahun terakhir, tren ini kembali mencuat di media sosial. Banyak orang mengisahkan pengalaman mereka yang merasa lebih percaya diri setelah mencoba cara sederhana tersebut. Namun di balik kisah-kisah itu, tersimpan pertanyaan besar: apakah aman bagi kulit?

Di Balik Layar Tren Kecantikan yang Viral

Ketika sebuah trik kecantikan menyebar cepat, biasanya ada alasan emosional yang menyertainya. Remaja dan dewasa muda yang hidup di iklim tropis lembap seperti Indonesia sering merasa wajah mereka cepat berminyak. Kondisi ini bisa memengaruhi rasa percaya diri, terutama saat harus tampil di depan banyak orang.

"Kulitku tuh tipe yang jam sebelas siang sudah kelihatan seperti habis digoreng. Dulu aku sampai malas ikut presentasi karena malu," ujar Raka, seorang pekerja kantoran berusia 26 tahun. "Pas tahu ada trik deodoran, aku seperti menemukan jalan keluar yang murah dan gampang. Nggak perlu beli produk mahal."

Perasaan lega itulah yang membuat trik ini terus dibicarakan. Bahan aktif dalam deodoran—seperti aluminum chlorohydrate atau aluminum zirconium—memang bekerja dengan cara menyumbat sementara saluran keringat. Logikanya, bila dioleskan ke wajah, bahan yang sama diyakini dapat mengurangi produksi minyak. Sayangnya, logika kimia di ketiak tidak selalu sejalan dengan kebutuhan kulit wajah yang jauh lebih tipis dan sensitif.

Ketika Kulit Wajah Membutuhkan Perlakuan Berbeda

Di ruang praktiknya yang berwarna putih bersih, dr. Anindya, seorang dokter spesialis kulit, mengisahkan bahwa ia kerap menerima pasien muda yang datang dengan keluhan iritasi setelah mencoba berbagai eksperimen dari internet. Ia tidak menyalahkan mereka. Baginya, ini adalah persoalan edukasi yang belum merata.

"Kulit wajah itu bukan kulit ketiak. Di ketiak, kulit lebih tebal dan punya banyak folikel rambut. Di wajah, terutama area sekitar mata dan pipi, kulitnya jauh lebih rapuh. Memakai produk yang dirancang untuk area tubuh lain bisa memicu reaksi yang tidak diinginkan," jelasnya dengan nada tenang namun tegas.

Ia menambahkan bahwa penggunaan deodoran di wajah dapat menyebabkan pori-pori tersumbat, munculnya jerawat, hingga reaksi alergi seperti kemerahan dan rasa terbakar. Dalam beberapa kasus yang ia tangani, pasien bahkan mengalami hiperpigmentasi ringan akibat peradangan yang berulang.

"Aku pernah lihat sendiri seorang pasien yang pipinya memerah selama berminggu-minggu. Dia mengaku hanya ingin wajahnya tidak berminyak. Air matanya hampir jatuh saat bercerita, karena ia merasa penampilannya jadi terganggu. Itu momen yang sangat menyentuh bagi saya," kenang dr. Anindya.

Jalan Tengah bagi Mereka yang Berjuang Melawan Minyak

Meski menuai kontroversi, gelombang percobaan ini sesungguhnya menyimpan pesan penting: banyak orang sedang berjuang menemukan cara agar merasa nyaman dengan kulitnya sendiri. Di balik tren viral, ada mimpi sederhana—ingin tampil percaya diri tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Para ahli menyarankan pendekatan yang lebih aman. Mulai dari mencuci wajah dua kali sehari dengan pembersih lembut, menggunakan pelembap berbahan dasar gel, hingga memilih tabir surya yang berlabel non-comedogenic. Bagi kulit yang sangat berminyak, produk perawatan yang mengandung niacinamide atau asam salisilat bisa menjadi pilihan yang lebih ramah.

Sari kini sudah berhenti mengoleskan deodoran ke wajah. Setelah mengalami iritasi ringan dua bulan lalu, ia memutuskan untuk lebih berhati-hati. "Aku belajar bahwa nggak semua trik di internet cocok. Sekarang aku lebih pilih sabar dan rutin rawat kulit dengan cara yang benar," ujarnya, menyiratkan kedewasaan yang tumbuh dari pengalaman pahit.

Kisah Sari dan banyak orang lain mengingatkan kita bahwa di balik setiap tren kecantikan, ada manusia dengan kecemasan dan harapan. Kulit yang sehat bukanlah hasil dari trik sesaat, melainkan buah dari perawatan yang penuh kesadaran. Dan kadang, langkah paling bijak adalah berhenti sejenak, bertanya pada yang lebih paham, lalu memilih dengan cinta pada diri sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User