Aug 25, 2026
entertainment

Choi Min-sik Kembali Merajut Mimpi dalam The Intern Versi Korea

Di sebuah kantor rintisan yang dipenuhi derap langkah anak-anak muda, seorang pria tua berdiri dengan jas abu-abunya yang rapi. Tangannya menggenggam tas kulit tua, matanya menyapu ruangan dengan camp...

Choi Min-sik Kembali Merajut Mimpi dalam The Intern Versi Korea

Di sebuah kantor rintisan yang dipenuhi derap langkah anak-anak muda, seorang pria tua berdiri dengan jas abu-abunya yang rapi. Tangannya menggenggam tas kulit tua, matanya menyapu ruangan dengan campuran gugup dan harap. Tidak ada yang menyangka, di usia yang seharusnya dihabiskan untuk beristirahat, ia justru memilih kembali berjuang dari titik paling awal: menjadi anak magang.

Potret mengharukan itulah yang akan segera dihidupkan kembali oleh aktor legendaris Korea Selatan, Choi Min-sik. Ia dipastikan memerankan sosok magang senior dalam versi remake Korea dari film Hollywood The Intern, beradu peran dengan Han So-hee yang memerankan pemimpin muda sebuah perusahaan rintisan fashion. Kabar ini sontak menjadi perbincangan hangat, bukan sekadar karena nama besar keduanya, melainkan karena kisah sederhana yang diusung film ini selalu berhasil menyentuh hati siapa pun yang menontonnya.

Pertemuan Dua Generasi dalam Satu Ruangan

The Intern versi asli yang dirilis pada 2015 mengisahkan Ben Whittaker, duda berusia 70 tahun yang merasa kehilangan arah setelah pensiun dan ditinggal pergi istri tercinta. Alih-alih menikmati masa tua dengan tenang, ia melamar program magang khusus lansia di sebuah perusahaan fashion daring yang dipimpin Jules Ostin, perempuan muda ambisius yang awalnya meragukan kehadiran Ben akan berguna bagi timnya.

Namun dari keraguan itulah justru tumbuh persahabatan lintas generasi yang menyentuh. Ben hadir bukan dengan kemampuan teknologi, melainkan dengan kesabaran, kebijaksanaan, dan ketulusan yang perlahan mengubah suasana kantor — juga kehidupan Jules yang diam-diam rapuh di balik kesibukannya.

Kini, peran yang dulu dimainkan Robert De Niro dan Anne Hathaway itu dipercayakan kepada Choi Min-sik dan Han So-hee. Banyak penggemar menyebut pilihan ini sebagai pertaruhan yang indah: seorang aktor kawakan dengan segudang pengalaman bertemu aktris muda yang tengah menapaki puncak kariernya.

Kisah Sederhana tentang Keberanian Memulai Lagi

Ada alasan mengapa kisah ini terus dikenang hampir satu dekade setelah rilisnya. The Intern bukan film tentang ambisi besar atau konflik rumit, melainkan tentang hal-hal kecil yang sering terlupakan: cara seseorang mendengarkan, keberanian mengakui kesepian, dan kerendahan hati untuk belajar di usia berapa pun.

Salah satu momen mengharukan yang paling dikenang penonton adalah ketika Ben mengungkap alasan dirinya kembali bekerja. Baginya, berhenti bukanlah pilihan, karena di dalam dirinya masih ada semangat yang belum selesai dibagikan kepada dunia. Pengakuan sederhana itu kerap membuat penonton menitikkan air mata, sebab di sanalah banyak orang menemukan cerminan dirinya — atau orang tua mereka.

Versi Korea diharapkan mampu memberi warna baru pada kisah ini, terutama dengan latar budaya kerja Korea Selatan yang mengenal hierarki usia dengan kuat. Pertemuan antara magang lanjut usia dan bos muda justru berpotensi menghadirkan dinamika yang lebih dalam dan emosional.

Di Balik Layar: Dua Nama, Dua Perjalanan

Bagi Choi Min-sik, proyek ini menjadi babak baru dalam perjalanan panjangnya di dunia seni peran. Aktor yang dikenal lewat penampilan mendalamnya di Oldboy itu selama ini identik dengan peran-peran intens dan gelap. Menyaksikannya bertransformasi menjadi sosok senior yang hangat dan penuh empati tentu menjadi daya tarik tersendiri — sekaligus bukti bahwa seorang aktor besar tidak pernah berhenti menantang dirinya sendiri.

Sementara itu, Han So-hee menempuh jalan yang berbeda. Ia merangkak dari peran-peran kecil, lalu mencuri perhatian lewat The World of the Married dan membuktikan kemampuannya dalam My Name. Memerankan pemimpin perusahaan muda yang tangguh namun rapuh di dalam menjadi kesempatan baginya untuk menunjukkan sisi keaktrisan yang lebih matang.

Di balik layar, pertemuan keduanya terasa seperti cerminan cerita film itu sendiri: sang senior yang kaya pengalaman berbagi ruang dengan generasi muda yang penuh semangat. Bukan tidak mungkin, kehangatan yang tumbuh di lokasi syuting justru menjadi kekuatan terbesar film ini kelak.

Sebuah Pengingat yang Hangat

Pada akhirnya, kabar remake ini lebih dari sekadar berita pemilihan pemain. Ia adalah pengingat lembut bahwa mimpi tidak mengenal batas usia, dan bahwa setiap orang berhak bangkit serta memulai lembaran baru — entah di usia dua puluh atau tujuh puluh tahun. Sebuah inspirasi sederhana yang mungkin kita butuhkan di tengah hiruk-pikuk kehidupan hari ini.

Hingga jadwal tayangnya diumumkan, penonton hanya bisa menanti dengan hati hangat, membayangkan momen ketika Choi Min-sik berjalan pelan memasuki kantor mungil itu — membawa serta seumur pengalaman hidupnya, dan mengajarkan kita semua arti ketulusan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User