Oct 16, 2026
entertainment

Cakatinding, Denting Bambu yang Menjaga Nyawa Suku Bajo

Di sudut rumah panggung berukuran 4x5 meter itu, Marselus Duli duduk bersila di atas lantai papan. Tangan tuanya yang berurat memegang sebatang bambu betung sepanjang lengan. Perlahan ia meniup lubang...

Cakatinding, Denting Bambu yang Menjaga Nyawa Suku Bajo

Di sudut rumah panggung berukuran 4x5 meter itu, Marselus Duli duduk bersila di atas lantai papan. Tangan tuanya yang berurat memegang sebatang bambu betung sepanjang lengan. Perlahan ia meniup lubang kecil di ujungnya. Denting pertama keluar—tipis, nyaring, seperti suara angin menabrak dinding karang. Satu per satu warga kampung datang, duduk melingkar, dan menambahkan bambu mereka sendiri. Malam itu, di sebuah kampung tepi laut di Manggarai Barat, Cakatinding kembali berbunyi.

Musik bambu itu bukan sekadar hiburan. Ia adalah cara Suku Bajo mengisahkan perjalanan nenek moyang mereka: tentang laut yang ganas, tentang rumah di atas air, tentang mimpi anak-anak yang belajar bernyanyi lewat getaran bambu. "Setiap nada punya arti," ujar Marselus, yang telah memainkan Cakatinding sejak usia sembilan tahun. "Kalau bambunya salah potong, suaranya bisa hilang. Kalau tidak ada yang mengajari, kami yang hilang."

Warisan yang Hampir Tenggelam

Selama puluhan tahun, denting Cakatinding hanya terdengar di pesta pernikahan atau syukuran panen. Generasi muda lebih memilih gawai dan musik pop dari pengeras suara. Marselus mengaku pernah merasa kehilangan ketika, sekitar lima tahun lalu, tak seorang pun datang saat ia menggelar latihan rutin di beranda rumahnya. "Saya duduk sendiri sampai tengah malam. Saya pikir, mungkin ini yang terakhir," kenangnya, suaranya bergetar.

Namun harapan itu datang dari arah yang tak terduga. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mulai melirik Cakatinding bukan hanya sebagai peninggalan, melainkan sebagai identitas yang bisa dibanggakan. Sejumlah program pengenalan alat musik tradisional digulirkan ke sekolah-sekolah pesisir. Anak-anak Bajo yang tadinya malu memegang bambu kini berebut mencoba. "Awalnya saya cuma ikut teman. Ternyata susah, tapi seru," kata Risna, siswi kelas lima yang kini bisa memainkan tiga lagu.

Merawat Ingatan Lewat Suara Bambu

Di balik upaya menjadikan Cakatinding sebagai ikon budaya Nusa Tenggara Timur, ada kerja panjang yang tidak selalu terlihat. Para perajin harus memilih bambu dengan ruas yang tepat, memotongnya saat bulan tertentu, lalu menjemurnya berhari-hari agar tidak pecah. Setiap bunyi adalah hasil kesabaran. "Bambu ini seperti manusia. Kalau diasah dengan sabar, dia bisa bicara," tutur Bapak Hasan, perajin Cakatinding yang tinggal tak jauh dari pantai.

Bagi komunitas Bajo, pengakuan sebagai ikon budaya bukan sekadar gelar. Ia adalah pengakuan atas keberadaan mereka—masyarakat yang selama ini dipandang sebelah mata karena tinggal di atas air. Ketika Cakatinding dibunyikan di panggung resmi, kata Marselus, ada air mata yang menetes di antara penonton. "Bukan karena sedih. Tapi karena akhirnya kami didengar," ujarnya.

Mimpi Anak-Anak di Tepi Laut

Sore itu, di halaman sekolah, belasan anak duduk melingkar. Mereka meniup bambu masing-masing, mencoba menyamakan nada. Suaranya belum rapi, tetapi semangat mereka menyentuh. Risna bercita-cita suatu hari bisa mengajari anak-anak lain di kampungnya. "Supaya Cakatinding tidak cuma ada di buku," katanya polos.

Perjalanan menjadikan Cakatinding sebagai ikon memang masih panjang. Butuh dukungan, ruang, dan yang terpenting, orang-orang yang mau merawatnya dari generasi ke generasi. Namun di beranda kayu itu, Marselus tersenyum. Ia tak lagi duduk sendiri. Malam-malamnya kini penuh denting bambu, tawa anak-anak, dan harapan yang sederhana: agar suara nenek moyang tak pernah benar-benar hilang.

Beritaseputar—Kisah Cakatinding adalah pengingat bahwa budaya tak hidup dari dokumen, melainkan dari tangan-tangan yang terus memainkannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User