Di sudut beranda rumah panggung berukuran 4x5 meter itu, tangan-tangan tua Mangku Rahim menggenggam sebatang bambu betung yang sudah menguning. Perlahan ia meniup lubang kecil di ujungnya. Sebuah nada panjang, sendu, seperti bisikan angin laut yang tersesat di antara rumpun bakau, mengalun memecah keheningan sore di Kampung Bajo, Labuan Bajo, Manggarai Barat.
"Dulu, waktu saya masih kecil, bunyi ini yang membangunkan kami sebelum matahari terbit," ujarnya pelan. "Cakatinding bukan sekadar alat musik. Ia adalah suara nenek moyang yang menuntun kami pulang dari melaut."
Musik bambu bernama Cakatinding kini tengah memasuki babak perjalanan baru. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bertekad mengangkatnya menjadi ikon budaya Nusa Tenggara Timur — sebuah mimpi yang selama puluhan tahun hanya tersimpan di ingatan para sesepuh kampung.
Di Balik Layar Kesederhanaan
Cakatinding dibuat dari bambu pilihan yang tumbuh di perbukitan sekitar. Prosesnya sederhana namun penuh makna: batang bambu ditebang pada waktu tertentu, dikeringkan di bawah naungan tanpa pernah tersentuh matahari langsung, lalu dilubangi dengan ukuran yang diwariskan turun-temurun tanpa gambar, hanya hafalan dan perasaan.
"Kalau salah satu lubang saja bergeser sedikit, suaranya bisa berubah. Di situlah kami belajar bahwa kesabaran adalah bagian dari musik itu sendiri," kisah Mangku Rahim, air matanya nyaris jatuh mengenang mendiang ayahnya yang mengajarinya meniup pertama kali.
Setiap nada Cakatinding lahir dari hembusan napas manusia, bukan mesin. Itulah yang membuatnya istimewa — dan sekaligus rapuh. Generasi muda Bajo yang tumbuh di arus modernisasi kian jarang menyentuhnya. Sebagian bahkan baru mendengar namanya ketika pemerintah mulai menyebutnya sebagai warisan budaya.
Perjuangan Menjaga yang Hampir Hilang
Di bawah terik matahari pelabuhan, seorang pemuda bernama Fajar, 24 tahun, mengaku sempat malu ketika pertama kali belajar meniup Cakatinding. "Teman-teman saya bilang ini musik kuno. Tapi begitu saya coba sendiri, ada rasa yang tidak bisa dijelaskan. Seperti bicara dengan laut," tuturnya, tersenyum malu.
Perjalanan Fajar adalah cermin perjuangan banyak anak muda Bajo. Mereka hidup di antara dua dunia: warisan leluhur dan gemerlap pariwisata Labuan Bajo yang terus tumbuh. Namun di balik layar perubahan itu, ada momen mengharukan ketika para tetua dan anak muda akhirnya duduk bersama, memainkan Cakatinding dalam satu pertunjukan di tepi pantai.
"Malam itu, saya lihat nenek saya menangis. Katanya, dia tidak menyangka akan mendengar suara itu lagi dari cucunya," kenang Fajar. Inspirasi kecil seperti itulah yang membuat semangat penggalakan kembali menyala.
Pemerintah kini menyiapkan pelatihan bagi generasi muda, memasukkan Cakatinding ke dalam kegiatan sekolah dan festival budaya. Harapannya sederhana: agar bambu tua itu tidak lagi hanya menjadi kenangan, melainkan masa depan.
Di ujung senja, Mangku Rahim kembali meniup nada perpisahan. Sederhana, menyentuh, dan penuh harap. Dari sebuah beranda kecil di tanah Bajo, Cakatinding bersiap bangkit — bukan untuk mengingat masa lalu, tetapi untuk menyapa dunia.
Comments (0)