Senja perlahan turun menutup langit Karachi, Jumat (13/9/2024). Namun alih-alih kegelapan, satu per satu titik cahaya mulai menyala dari kubah sebuah masjid di kota terbesar Pakistan itu. Dalam hitungan menit, bangunan suci tersebut menjelma menjadi lentera raksasa—lampu-lampu warna-warni menghiasi setiap lengkungan, menara, hingga pagar kelilingnya. Anak-anak berlarian di pelataran, sesekali menengadahkan kepala, membiarkan kemilau cahaya memantul di wajah-wajah kecil mereka yang penuh tanda tanya sekaligus takjub.
Momen itu merupakan bagian dari penyambutan Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan kelahiran sang Nabi yang jatuh pada bulan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Di Karachi, tradisi menghiasi masjid dengan lampu telah diwariskan lintas generasi. Bukan sekadar hiasan, deretan lampu itu menjadi bahasa kasih yang dituturkan umatnya lewat cahaya.
Cahaya yang Menyala Sejak Azan Magrib
Begitu azan magrib berkumandang, kerlip lampu mulai hidup satu demi satu. Orang-orang yang baru selesai salat tidak buru-buru pulang. Mereka berdiri di ambang pintu masjid, menatap bangunan tempat mereka beribadah yang kini tampil berbeda—hangat, ramah, seperti tersenyum kepada siapa pun yang lewat.
"Setiap kali lampu-lampu ini menyala, rasanya hati ikut menyala," ujar seorang penjaga masjid yang telah melayani puluhan tahun, matanya tak lepas dari kubah yang berpendar lembut di atasnya.
Ia mengisahkan bahwa setiap tahun, warga dari kampung-kampung sekitar rela berjalan kaki cukup jauh hanya untuk melihat masjid yang bersinar. "Mereka datang bukan sekadar menonton. Mereka datang membawa doa," tambahnya dengan suara yang tertahan.
Keringat dan Kesabaran di Balik Layar
Kemilau yang tampak begitu indah malam itu tidak lahir dalam semalam. Berhari-hari sebelumnya, para relawan—young dan tua, tanpa memandang latar belakang—bergotong royong memasang lampu di sudut-sudut bangunan. Ada yang memanjat menara dengan tali pengaman sederhana, ada yang bertugas merapikan kabel di bawah, semuanya dikerjakan di sela pekerjaan dan urusan rumah tangga masing-masing.
Seorang pemuda relawan mengaku jarinya lecet-lecet karena berhari-hari mengaitkan lampu ke rangka besi. Namun menurutnya, semua lelah itu lenyap begitu melihat senyum para jamaah yang datang.
"Tangan saya pegal, tapi lihat wajah orang-orang yang lewat. Itu sudah lebih dari cukup sebagai bayaran," katanya sambil tersenyum, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh anak-anak yang bermain di dekatnya.
Perjuangan sunyi semacam ini jarang terlihat oleh mata publik. Namun justru di balik layar itulah makna Maulid sesungguhnya dihidupkan: memberi tanpa pamrih, melayani tanpa mengharap sorak.
Makna Sederhana di Balik Setiap Titik Terang
Bagi banyak warga Karachi, lampu-lampu yang menghiasi masjid bukanlah pesta visual belaka. Para ulama setempat kerap mengingatkan bahwa cahaya dalam tradisi Islam melambangkan petunjuk—hidayah yang dibawa Nabi Muhammad SAW bagi seluruh manusia. Maka ketika umat menyalakan lampu, mereka seolah mengulang pesan yang sama: kebaikan harus disebarkan, bukan disembunyikan.
"Nabi mengajarkan kasih sayang kepada semua. Kalau lampu ini bisa membuat satu orang saja tersenyum dan mendekat pada kebaikan, maka tujuan kami tercapai," ungkap salah satu pengurus masjid yang menemani jamaah malam itu.
Sementara itu, seorang ibu yang membawa putrinya berkeliling melihat hiasan mengaku ingin menumbuhkan cinta kepada Nabi sejak dini pada anaknya. "Saya tunjukkan lampunya, lalu saya ceritakan tentang Rasulullah. Biar ia tumbuh dengan kenangan indah tentang agamanya," jelasnya pelan, sambil merapatkan pelukan pada buah hatinya.
Malam semakin larut, namun keriuhan di sekitar masjid belum juga padam. Lampu-lampu terus berpendar, menyinari wajah-wajah yang datang dan pergi. Di tengah riuhnya kota metropolitan dengan segala kesibukannya, sudut kecil itu tetap tenang dan hangat—pengingat sederhana bahwa peringatan kelahiran seorang Nabi dirayakan bukan dengan kemewahan, melainkan dengan cahaya, doa, dan hati yang ikut menyala.
Comments (0)