Oct 10, 2026
entertainment

Bubur Sumsum, Kelembutan yang Menyimpan Kenangan

Di sudut dapur rumahnya yang berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter, aroma daun pandan mengambang pelan, bercampur dengan uap hangat dari panci berisi bubur berwarna putih bersih. Tangan kerip...

Bubur Sumsum, Kelembutan yang Menyimpan Kenangan

Di sudut dapur rumahnya yang berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter, aroma daun pandan mengambang pelan, bercampur dengan uap hangat dari panci berisi bubur berwarna putih bersih. Tangan keriput seorang nenek berusia 72 tahun, sebut saja Mbah Warni, dengan sabar mengaduk campuran tepung beras dan santan itu. Gerakan tangannya lambat tetapi terukur, seolah setiap putaran menyimpan doa dan kenangan yang mengendap puluhan tahun.

"Dulu, bubur sumsum ini hanya ada saat selamatan atau malam Jumat," ujarnya lirih, matanya menerawang ke arah jendela yang dibingkai tirai tipis. "Sekarang, tiap hari ada saja yang pesan. Cucu-cucu saya yang di kota katanya kangen. Padahal, yang mereka kangen bukan cuma rasanya, tapi mungkin cara saya mengaduknya."

Kisah yang Mengendap di Balik Santan dan Tepung Beras

Bubur sumsum memang bukan hidangan mewah. Bahan-bahannya begitu sederhana: tepung beras, santan, sedikit garam, dan daun pandan. Namun, di balik kesederhanaannya, hidangan ini menyimpan lapisan makna yang jarang disentuh orang. Di banyak daerah di Indonesia, bubur sumsum hadir dalam momen-momen penting: kelahiran, syukuran, hingga peringatan kematian. Ia bukan hanya makanan, melainkan jembatan yang menghubungkan yang hidup dengan yang telah pergi.

Mbah Warni mengisahkan, resep yang ia pegang bukan warisan tertulis. Ibunya dulu hanya memperhatikan, lalu menirukan, dan akhirnya menyempurnakan lewat pengulangan. "Tidak ada buku resep. Yang ada hanya tangan yang hafal. Kalau santannya terlalu encer, buburnya lembek. Kalau kental, malah seperti lem. Saya belajar dari gagal berkali-kali," tuturnya sambil tersenyum tipis. Ada air mata yang nyaris jatuh ketika ia mengenang ibunya yang meninggal saat ia berusia 17 tahun. "Rasa bubur ini adalah rasa tangan ibu saya," tambahnya.

"Setiap kali saya masak, saya seperti sedang berbicara dengan ibu. Tangan saya mengikuti gerakan tangannya. Kadang saya menangis, tapi bukan karena sedih. Saya menangis karena merasa ditemani."

Perjalanan dari Meja Selamatan ke Meja Kafe

Di sisi lain kota, sekelompok anak muda kini mulai melirik bubur sumsum sebagai bagian dari gerakan kuliner lokal. Sebuah kafe kecil di Jalan Kaliurang, Yogyakarta, menyajikannya dalam mangkuk keramik dengan tambahan gula jawa cair dan kelapa sangrai. Pemiliknya, Ardi, 28 tahun, mengaku mendapat ide setelah pulang kampung dan mencicipi bubur buatan neneknya. "Saya merasa ada yang hilang dari hidup saya selama merantau. Ternyata, yang hilang itu rasa rumah," katanya.

Sejak menjual bubur sumsum di kafenya, Ardi mengaku banyak pelanggan yang datang bukan sekadar untuk makan. "Ada seorang bapak yang menangis setelah suapan pertama. Katanya, itu rasa ibunya yang sudah lama meninggal. Saya tidak menyangka bubur sesederhana ini bisa menyentuh orang seperti itu," ungkapnya dengan mata berbinar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bubur sumsum tidak pernah benar-benar kehilangan tempatnya. Ia mungkin jarang dibicarakan dalam diskursus kuliner modern, tetapi ia tetap hidup di dapur-dapur rumah, di pasar tradisional, dan kini di ruang-ruang kafe yang mencoba merayakan kembali akar budaya. Menurut catatan sejarah kuliner, bubur sumsum telah ada sejak lama dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat agraris yang akrab dengan beras dan kelapa. Ia bukan sekadar hidangan penutup, melainkan penanda identitas.

Momen Mengharukan di Balik Mangkuk Sederhana

Kembali ke dapur Mbah Warni, ia kini mulai mengajari cucunya, Sari, 16 tahun, cara mengaduk bubur sumsum yang benar. Sari awalnya mengeluh karena tangannya pegal. Namun, ketika bubur itu matang dan ia mencicipinya, ia terdiam. "Rasanya kayak pelukan, Mbah," katanya pelan. Mbah Warni hanya tersenyum, lalu memeluk cucunya erat. Di dapur kecil itu, dua generasi bertemu dalam satu mangkuk bubur.

Bagi Mbah Warni, bubur sumsum adalah warisan yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun. "Kalau saya sudah tidak ada, jangan sampai bubur ini hilang. Bukan resepnya yang penting, tapi caranya. Cara mengaduk, cara menunggu, cara mencintai," pesannya dengan suara bergetar.

Kisah bubur sumsum mengajarkan bahwa makanan sederhana bisa menjadi medium paling jujur untuk menyampaikan cinta. Ia tidak perlu mewah, tidak perlu viral. Ia hanya perlu hadir, hangat, dan lembut di lidah, seperti kelembutan tangan seorang ibu yang mengaduknya di pagi hari. Di tengah dunia yang bergerak cepat, bubur sumsum adalah pengingat untuk berhenti sejenak, menikmati setiap sendok, dan mengingat siapa yang pernah mengajarkan kita tentang rasa rumah.

Dari dapur Mbah Warni hingga kafe Ardi, bubur sumsum terus berjalan, membawa cerita, air mata, dan harapan. Mungkin, di suatu sore nanti, kita akan menemukannya lagi di meja makan keluarga, dalam mangkuk kecil yang sederhana, dengan aroma pandan yang membangkitkan kenangan. Dan saat itu, kita akan menyadari bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi soal siapa yang pernah hadir dalam hidup kita.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User