Sep 19, 2026
Nasional

Bos Instagram Sebut Tampilan Feed Kronologis Jauh Lebih Buruk

Bagi sebagian besar pengguna media sosial lawas, linimasa yang tersusun rapi berdasarkan urutan waktu atau chronological feed kerap dirindukan. Namun, bos

Bos Instagram Sebut Tampilan Feed Kronologis Jauh Lebih Buruk

Bagi sebagian besar pengguna media sosial lawas, linimasa yang tersusun rapi berdasarkan urutan waktu atau chronological feed kerap dirindukan. Namun, bos Instagram, Adam Mosseri, justru memiliki pandangan yang bertolak belakang. Pria yang memimpin platform berbagi foto dan video milik Meta tersebut secara blak-blakan menyebutkan bahwa pengalaman menggunakan feed kronologis sebenarnya jauh lebih buruk bagi pengguna dibandingkan sistem kurasi berbasis algoritma.

Pernyataan bernada defensif ini mencuat tepat ketika sejumlah regulator global, termasuk pemerintah Australia, tengah menyusun rancangan undang-undang baru. Regulasi tersebut bertujuan memberi wewenang penuh kepada pengguna internet untuk memilih keluar (opt-out) dari jeratan algoritma rekomendasi media sosial yang dinilai memicu adiksi.

Argumen Algoritma vs Kronologis

Menurut Mosseri, alasan utama di balik beralihnya Instagram dari urutan waktu ke algoritma personalisasi sejak bertahun-tahun lalu adalah efektivitas konten. Dalam sistem kronologis murni, pengguna berisiko tinggi melewatkan unggahan penting dari keluarga, sahabat terdekat, maupun kreator favorit hanya karena mereka tidak membuka aplikasi pada jam postingan tersebut diunggah.

"Ketika Anda beralih ke feed kronologis murni, pengalaman berselancar di platform justru terasa jauh lebih buruk. Pengguna akan melewatkan banyak hal yang sebenarnya paling mereka pedulikan," ungkap Adam Mosseri saat menanggapi perdebatan mengenai algoritma platform.

Mosseri menegaskan bahwa algoritma Instagram dirancang bukan semata-mata untuk memaksakan konten viral, melainkan menyaring ribuan postingan harian agar sesuai dengan minat spesifik tiap individu. Kendati demikian, banyak pengamat teknologi menilai pembelaan ini tidak lepas dari kepentingan bisnis Meta dalam menjaga screen time dan impresi iklan tetap tinggi.

Tekanan Regulasi dari Australia

Sikap keras kepala Instagram terhadap algoritma kian teruji menyusul langkah agresif parlemen Australia. Negeri Kanguru tersebut kian gencar memperketat aturan main bagi raksasa teknologi global demi melindungi kesehatan mental pengguna, khususnya kalangan remaja dan anak-anak.

Beberapa poin krusial yang menjadi sorotan dalam perdebatan regulasi ini meliputi:

  • Hak Memilih Bebas Algoritma: Regulasi baru mengusulkan agar pengguna memiliki tombol bawaan yang mudah diakses untuk mematikan algoritma personalisasi tanpa manipulasi antarmuka.
  • Transparansi Kurasi Konten: Platform diwajibkan membuka cara kerja sistem rekomendasi yang sering dituding menjebak audiens dalam filter bubble.
  • Kekhawatiran Kesehatan Mental: Umpan berbasis rekomendasi kecerdasan buatan dianggap memicu ketergantungan digital dan paparan konten yang tidak sehat secara berulang.

Dilema Kontrol di Tangan Pengguna

Meskipun Instagram saat ini telah menyediakan opsi tampilan Following dan Favorites yang berjalan secara kronologis, fitur tersebut dinilai sengaja disembunyikan di balik menu dropdown dan tidak bisa diatur sebagai tampilan beranda permanen. Setiap kali pengguna menutup dan membuka kembali aplikasi, antarmuka otomatis kembali ke mode algoritma.

Perdebatan ini mencerminkan benturan nyata antara keinginan pengguna untuk memegang kendali atas apa yang mereka lihat, dengan model bisnis platform raksasa yang sangat bergantung pada kecerdasan algoritma untuk mempertahankan atensi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User