Di sudut sebuah studio kecil yang lampunya temaram, seorang perempuan duduk bersila di atas sofa panjang. Rambutnya ditata sederhana, tanpa riasan tebal yang dulu selalu menempel saat ia berdiri di atas panggung. Bora, mantan personel grup idola SISTAR, menatap kamera dengan senyum tipis yang seolah menyimpan banyak cerita. Di hadapan penggemarnya, perempuan yang kini berusia kepala tiga itu membuka satu bab yang jarang ia bicarakan: soal cinta.
Bukan gosip, bukan pengakuan sensasional. Yang ia bagikan justru semacam renungan perjalanan. Ia mengisahkan bagaimana dulu ia selalu membayangkan cinta sebagai sesuatu yang harus sempurna, terencana, dan sesuai jadwal. Di usia muda, ketika karier menuntut segalanya, ia sempat merasa hubungan asmara adalah kemewahan yang tak bisa ia nikmati. "Dulu aku pikir semuanya harus rapi dan terukur," ujarnya dalam unggahan yang ia bagikan lewat akun media sosialnya, @borabora_sugar. "Sekarang aku sadar, cinta tidak bekerja seperti itu."
Di Balik Lampu Panggung yang Mulai Redup
Bagi banyak orang, nama Bora identik dengan euforia SISTAR: lagu-lagu musim panas, koreografi enerjik, dan sorotan kamera yang tak pernah berhenti. Namun di balik gemerlap itu, ia mengaku menyimpan ruang kosong yang jarang tersentuh. Masa-masa sibuk sebagai idola membuatnya terbiasa menunda perasaan pribadi. Latihan, jadwal padat, dan tuntutan citra menjadi tameng yang membuatnya sulit membuka hati.
"Aku belajar bahwa cinta bukan tentang menemukan orang yang sempurna, tapi tentang bertahan bersama saat keduanya tidak sempurna."
Kalimat itu ia ucapkan dengan nada pelan, hampir seperti bisikan. Ada getar kecil di suaranya, seolah mengingat kembali masa-masa ketika ia harus memilih antara mimpi panggung dan mimpi tentang seseorang yang menunggu di rumah. Ia tidak menyebut nama, tidak membuka detail siapa pun. Yang ia bagikan hanya pelajaran: bahwa kehilangan dan penantian adalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan.
Setelah SISTAR bubar pada 2017, Bora menempuh jalan yang berbeda. Ia mencoba dunia akting, membangun karier sebagai kreator konten, dan perlahan menemukan ritme hidup yang lebih tenang. Di masa itulah ia mulai berdamai dengan dirinya sendiri, termasuk soal perasaan yang dulu ia kubur dalam-dalam.
Bertemu Cinta Ketika Tak Lagi Mencari
Ada satu momen yang ia kenang dengan sangat mengharukan. Bukan momen dramatis di atas panggung, melainkan percakapan sederhana di meja makan. Ia bercerita tentang seseorang yang menerima dirinya apa adanya, tanpa perlu penjelasan panjang tentang masa lalunya sebagai idola. "Orang itu tidak pernah bertanya kenapa aku dulu begini dan begitu. Dia hanya bertanya, apa aku sudah makan hari ini," kenangnya sambil tertawa kecil.
Bagi Bora, cinta yang dewasa bukan lagi tentang kejutan besar atau kecemburuan yang membara. Ia justru menemukan ketenangan dalam hal-hal kecil: ditemani saat lelah, didengarkan saat bingung, dan diberi ruang untuk tetap menjadi dirinya. Ia menyebut fase ini sebagai momen bangkit dari cara pandang lama. "Aku tidak lagi buru-buru. Kalau memang jodoh, dia tidak akan lari hanya karena aku butuh waktu," ujarnya.
Pernyataan itu menyentuh banyak penggemarnya. Kolom komentar di unggahannya dipenuhi cerita serupa dari mereka yang juga sedang belajar mencintai tanpa tekanan. Ada yang menulis bahwa kata-kata Bora membuat mereka merasa tidak sendiri. Ada pula yang mengaku akhirnya berani memaafkan diri sendiri karena hubungan yang gagal di masa lalu.
Pelajaran dari Perempuan yang Pernah Berdiri di Puncak
Bora kini tidak lagi ingin menjadi pusat perhatian dalam urusan cinta. Ia memilih menjalani semuanya dengan tenang, jauh dari sorotan yang dulu selalu mengikutinya. Namun justru dari ketenangan itu, ia menemukan kekuatan baru. Ia menyadari bahwa menjadi idola selama bertahun-tahun membuatnya terbiasa dilihat, tetapi tidak selalu didengar. Dan cinta, menurutnya, adalah tempat di mana ia akhirnya merasa benar-benar didengar.
Kisah Bora adalah pengingat sederhana: di balik setiap panggung yang gemerlap, selalu ada manusia yang berjuang dengan perasaannya sendiri. Ia pernah berada di puncak popularitas, namun tetap harus belajar hal paling dasar tentang hati. Dan mungkin, itulah yang membuat ceritanya terasa begitu dekat. Bukan karena ia selebriti, melainkan karena ia juga pernah ragu, terluka, dan akhirnya bangkit.
"Kalau ada yang bertanya kapan waktu yang tepat untuk mencintai, jawabannya mungkin tidak ada," tutupnya. "Yang ada hanya keberanian untuk mencoba, dan kesabaran untuk menunggu." Di layar, senyumnya kembali mengembang. Kali ini bukan senyum untuk kamera, melainkan senyum seorang perempuan yang telah menemukan kedamaian dalam perjalanannya sendiri.
Comments (0)