Halo pembaca Beritaseputar.com! Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius pemerintah. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menegaskan bahwa pihaknya kini mengutamakan peran Satuan Tugas (Satgas) Darat sebagai garda terdepan dalam memadamkan titik api di berbagai wilayah rawan bencana. Langkah strategis ini diambil guna memastikan pemadaman dilakukan secara tuntas hingga ke akar tanah, terutama pada karakteristik lahan gambut yang kerap menyimpan bara di bawah permukaan.
Meskipun helikopter pemadam (water bombing) tetap disiagakan di area strategis, operasional tim darat dinilai jauh lebih efisien dan memiliki tingkat akurasi tinggi. Kehadiran personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, serta Satuan Masyarakat Peduli Api (MPA) di lokasi kejadian menjadi penentu utama agar api tidak meluas secara massif.
Alasan Utama Penguatan Operasi Satgas Darat
Penanganan bencana karhutla di Indonesia memiliki tingkat kompleksitas tersendiri, khususnya di provinsi rawan seperti Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Menurut Suharyanto, pemadaman lewat udara kerap memiliki keterbatasan teknis saat berhadapan dengan pengasapan pekat atau vegetasi bawah tanah yang rapat.
"Satgas Darat adalah kunci utama penanggulangan karhutla. Bom air dari udara memang membantu menurunkan intensitas api permukaan, namun personel daratlah yang memastikan bara di dalam lahan gambut benar-benar padam total," ujar Suharyanto, Kepala BNPB.
Operasi darat difokuskan pada upaya penanganan dini melalui patroli berkala di area yang berpotensi tinggi mengalami kekeringan. Ketika sensor satelit mendeteksi adanya kenaikan suhu atau titik panas (hotspot), tim darat terdekat langsung diterjunkan untuk melakukan verifikasi lapangan (ground check) dan pemadaman langsung sebelum api membesar.
Analisis Efektivitas: Satgas Darat vs Satgas Udara
Evaluasi BNPB menunjukkan bahwa kombinasi strategi penanggulangan karhutla harus memprioritaskan alokasi sumber daya secara terukur. Berikut adalah perbandingan operasional antara pemadaman darat dan pemadaman udara:
| Indikator | Satgas Darat | Satgas Udara (Water Bombing) |
|---|---|---|
| Akurasi Pemadaman | Sangat Tinggi (dapat menjangkau titik gambut dalam) | Sedang (terhalang tajuk pohon rapat) |
| Ketersediaan Personel | Lebih dari 15.000 personel gabungan | Terbatas pada armada helikopter yang disewa |
| Beban Biaya Operasional | Relatif efisien & berkesinambungan | Sangat tinggi per jam terbang |
| Ketergantungan Cuaca | Dapat beroperasi dalam jarak pandang terbatas | Sangat tergantung pada jarak pandang dan angin |
Berdasarkan data perbandingan tersebut, penyiapan lebih dari 15.000 personel gabungan di seluruh kawasan rawan menjadi investasi yang paling logis. Pakar manajemen bencana lingkungan, Dr. Bambang Hero Saharjo, menyebutkan bahwa "Pemadaman lahan gambut tanpa penyiraman dan pembalikan tanah secara manual oleh tim darat hampir pasti menyisakan bara api yang sewaktu-waktu bisa memicu kebakaran kembali saat diterpa angin kencang."
Tahapan Penanganan Karhutla Berbasis Tim Darat
BNPB telah menyusun standar operasional prosedur (SOP) baku yang dilaksanakan oleh Satgas Darat di setiap daerah prioritas. Kronologi tata kelola pemadaman di lapangan dibagi menjadi beberapa langkah teknis:
- Deteksi Dini dan Verifikasi Lapangan: Tim patroli bergerak cepat memverifikasi data hotspot yang dirilis oleh BMKG atau BRIN di peta spasial.
- Mobilisasi Cepat (Quick Response): Pasokan personel terdekat diluncurkan ke lokasi titik api dalam kurun waktu kurang dari 1x24 jam sejak terdeteksi.
- Lokalisasi Area Kebakaran: Personel membuat sekat bakar (firebreak) atau parit isolasi untuk mencegah jilatan api meluas ke vegetasi kering sekitarnya.
- Pemadaman dan Penggenangan (Mopping Up): Petugas menyemprotkan air bercampur bahan pembasah dan membalikkan struktur tanah gambut hingga suhu tanah kembali normal.
- Pemantauan Pasca-Pemadaman: Menempatkan pos tinjau selama minimal 48 jam untuk memastikan tidak ada pengasapan ulang (re-ignition).
Tantangan Aksesibilitas dan Solusi Berkelanjutan
Meski diprioritaskan, operasional Satgas Darat bukannya tanpa kendala. Tantangan tersulit yang kerap dihadapi personel di lapangan adalah keterbatasan sumber air di area terpencil serta sulitnya akses transportasi menembus hutan lebat. Untuk mengatasi hal ini, BNPB bersama BPBD daerah terus memperbanyak sumur bor, embung buatan, serta armada mesin pompa portabel bertekanan tinggi yang mudah digendong menembus medan berat.
Di samping itu, strategi penguatan Satgas Darat juga diimbangi dengan koordinasi Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menyemai awan hujan di wilayah yang pasokan airnya mulai menipis. Langkah komprehensif ini diharapkan mampu menekan total luas kebakaran hutan dan lahan pada tahun ini hingga di bawah 100.000 hektar di seluruh Indonesia, sekaligus menjaga emisi karbon nasional tetap terkendali.
Comments (0)