Aug 25, 2026
entertainment

Berlari Lagi di Lomba 17-an: Kisah Sari dan Hijab Instannya

Pukul tujuh pagi, kabut tipis masih menggantung di atas lapangan kecil di bilangan Depok ketika Sari berdiri di depan cermin. Di luar sana, janur kuning sudah melengkung di gerbang gang, bendera merah...

Berlari Lagi di Lomba 17-an: Kisah Sari dan Hijab Instannya

Pukul tujuh pagi, kabut tipis masih menggantung di atas lapangan kecil di bilangan Depok ketika Sari berdiri di depan cermin. Di luar sana, janur kuning sudah melengkung di gerbang gang, bendera merah putih berkibar tertiup angin, dan anak-anak berlarian sambil tertawa. Tangannya bergerak ringkas: satu tarikan, satu rapatan kecil di bawah dagu, dan hijab instannya langsung duduk sempurna. Tanpa peniti, tanpa jarum pentul, tanpa rasa cemas.

"Tahun lalu saya cuma berani jadi penonton," ucap perempuan 36 tahun itu lirih. Ia mengisahkan momen ketika dirinya hanya bisa bertepuk tangan dari pinggir lapangan, menyaksikan ibu-ibu lain berlomba makan kerupuk dan balap karung. Bukan karena tak ingin ikut—melainkan karena takut hijabnya berantakan di tengah gerakan-gerakan heboh yang membuat seluruh lapangan tertawa.

Kerinduan yang Dipendam Bertahun-tahun

Sebelum berhijab, Sari adalah bintang lomba 17-an di kampungnya. Balap karung, tarik tambang, hingga lomba bakiak bersama tim ibu-ibu—semua pernah ia jajal. Namun setelah memutuskan berhijab delapan tahun silam, ada satu kerinduan kecil yang ia pendam: merasakan lagi euforia Agustusan tanpa ribet memikirkan kain yang bergeser.

"Saya kangen tertawa lepas sambil lomba. Tapi tiap mau ikut, kepikiran terus—nanti hijabnya miring gimana? Penitinya lepas gimana? Akhirnya mundur lagi, mundur lagi," tuturnya, matanya berkaca-kaca mengenang.

Perjalanan itu berubah ketika seorang tetangga memperkenalkannya pada hijab instan berbahan jersey. Awalnya Sari ragu. Di benaknya, hijab instan identik dengan kesan kaku dan gerah. Namun satu kali mencoba, keraguannya luruh. Bahannya jatuh, menyerap keringat, dan—yang paling penting baginya—tetap rapi meski ia melompat-lompat kegirangan.

Sahabat Baru di Balik Semangat Agustusan

Di balik layar kesibukan panitia 17-an, hijab instan memang diam-diam menjadi andalan banyak perempuan. Modelnya yang langsung pakai memangkas waktu bersiap di pagi yang sudah penuh urusan: menyiapkan sarapan, mendandani anak untuk lomba mewarnai, hingga menyetor kue untuk bazar warga. Bahan jersey dan kaos rayon yang lentur menjadi favorit karena adem di kulit dan tidak mudah kusut saat dipakai bergerak aktif.

Menurut Sari, ada tiga hal sederhana yang membuat hijab instan layak dipakai berlomba. Pertama, pilih bahan yang menyerap keringat seperti jersey premium atau katun, bukan satin yang licin dan mudah bergeser. Kedua, pastikan ukurannya pas di wajah—tidak terlalu ketat hingga membuat pusing, tidak pula longgar hingga gampang melorot saat menunduk. Ketiga, perhatikan bagian pet atau bantalan dahi; pet yang empuk dengan jahitan rapi akan membuat hijab tetap stabil meski dipakai balap karung sekalipun.

Ia juga menyarankan warna-warna cerah bernuansa merah dan putih agar selaras dengan semangat kemerdekaan. "Lumayan, bisa sekalian ikut lomba kostum terbaik," selorohnya sambil tertawa.

Momen Mengharukan di Garis Finis

Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Sari mengantre di barisan peserta lomba makan kerupuk. Tangannya terikat di belakang, kerupuk menggantung di depan wajahnya, dan sorak anak-anak bergema di sekelilingnya. Ketika peluit ditiup, ia menggigit, terkekeh, hampir tersedak—dan hijabnya tidak bergeser sedikit pun.

"Waktu saya sadar hijabnya masih rapi, rasanya lega banget. Saya bisa ketawa sepuasnya. Anak saya teriak, 'Ibu menang!' Padahal saya kalah. Tapi buat saya, hari itu saya menang," ucapnya, air mata menetes pelan di sela senyumnya.

Kemenangan Sari memang bukan piala. Ia pulang dengan tangan kosong dari perlombaan, tetapi membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga: keberanian untuk hadir sepenuhnya di tengah komunitasnya, tanpa rasa was-was. Di lapangan kecil itu, di balik selembar hijab instan yang sederhana, seorang perempuan menemukan kembali kegembiraan masa mudanya—dan mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa keterbatasan sering kali hanya butuh solusi kecil untuk ditaklukkan.

Senja turun, bendera-bendera kecil mulai diturunkan dari talinya. Sari berjalan pulang menggandeng tangan putrinya, hijabnya masih rapi seperti pagi tadi. "Tahun depan," katanya mantap, "saya mau ikut tarik tambang."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User