Bekasi Dilanda Kekeringan, Jakarta Timur Luncurkan Biopori Jumbo
Musim kemarau tahun 2026 mulai memakan korban. Sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi kini resmi dilanda kekeringan. Ribuan kepala keluarga (KK) terdampak da
Musim kemarau tahun 2026 mulai memakan korban. Sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi kini resmi dilanda kekeringan. Ribuan kepala keluarga (KK) terdampak dan mulai merasakan sulitnya akses air bersih. Sementara itu, di ujung lain Jabodetabek, tepatnya di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, sebuah inisiatif lingkungan justru mencuri perhatian: pembagian 63 tong sampah pilah yang diubah menjadi lubang biopori jumbo. Dua peristiwa ini seperti dua sisi mata uang perubahan iklim; satu wilayah krisis air, wilayah lain bersiap menyambut air dengan strategi resapan modern.
Kekeringan Menggigit: Ribuan KK di Bekasi Terdampak
Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta laporan Antara, kekeringan di Kabupaten Bekasi telah meluas. Musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang dari tahun sebelumnya membuat sejumlah desa dan kecamatan mengalami penurunan drastis muka air tanah. Sumur-sumur warga mengering; aliran sungai dan irigasi kecil menyusut menjadi genangan lumpur.
“Kami sudah tiga minggu terakhir hanya mengandalkan bantuan air bersih dari tangki pemerintah. Sumur di rumah benar-benar kosong, bahkan untuk mandi dan mencuci saja susah,” keluh Jamal (47), warga Desa Sukamaju, Kecamatan Tambelang, saat ditemui di posko air bersih, Kamis (16/7/2026).
Kondisi ini memaksa warga untuk antre berjam-jam demi mendapatkan beberapa jeriken air bersih. Para ibu rumah tangga harus pintar mengelola air untuk kebutuhan memasak, minum, dan sanitasi dasar. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan fisik—risiko penyakit kulit dan diare meningkat—tetapi juga pada ekonomi keluarga, terutama bagi petani tadah hujan yang kini gagal panen.
Data sementara menyebutkan lebih dari 3.200 KK di sembilan desa di Kabupaten Bekasi telah resmi berstatus terdampak kekeringan. Pemerintah daerah sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan mengalokasikan anggaran untuk distribusi air bersih. Namun, solusi jangka panjang tetap menjadi pertanyaan besar.
Inovasi Biopori Jumbo: Jakarta Timur Jadi Contoh
Berjarak kurang lebih 50 kilometer dari Bekasi, suasana di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, justru diwarnai semangat konservasi air. Pada Kamis, 16 Juli 2026, pemerintah kelurahan setempat membagikan 63 tong sampah pilah berukuran besar kepada warga. Tong-tong ini bukan sekadar tempat sampah, melainkan lubang biopori jumbo: instalasi resapan air vertikal yang mampu menampung dan meresapkan air hujan dalam jumlah besar ke dalam tanah.
Lurah Susukan, Ahmad Fikri, menjelaskan bahwa program ini didesain untuk menjawab dua masalah klasik perkotaan sekaligus: banjir saat hujan deras dan menipisnya air tanah saat kemarau. Dengan biopori jumbo, air hujan tidak serta-merta terbuang ke selokan dan sungai, melainkan diserap langsung ke lapisan akuifer. Tanah pun tetap lembap, dan sumur-sumur warga di sekitarnya memiliki resapan yang lebih stabil.
“Kita ingin mengubah pola pikir warga dari membuang air menjadi menyimpan air. Biopori jumbo ini adalah langkah awal. Dalam satu titik, kita bisa meresapkan puluhan liter air hanya dalam hitungan menit. Kalau semua RW punya, Insyaallah air tanah kita aman,” ujar Fikri saat serah terima simbolis tong biopori kepada perwakilan warga.
Setiap tong biopori jumbo dibuat dari drum plastik bekas yang telah dimodifikasi. Bagian dasar dan dindingnya dilubangi, lalu di dalamnya diisi material organik seperti potongan ranting, daun kering, dan kompos. Selain berfungsi sebagai resapan, material organik ini juga akan menjadi habitat cacing dan mikroorganisme pengurai yang berperan menyehatkan tanah. Tong ditanam hingga kedalaman sekitar satu meter di titik-titik strategis: dekat talang air hujan, halaman rumah, atau taman lingkungan.
Dari Krisis ke Kesadaran Kolektif
Inisiatif Susukan sejatinya bukan hal baru. Konsep biopori diperkenalkan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak awal 2000-an, tetapi varian jumbo dengan wadah tong bekas ini adalah adaptasi urban yang murah dan mudah direplikasi. Warga bahkan bisa membuatnya sendiri dengan panduan dari kader lingkungan. Bahkan, bahan-bahannya pun dari sampah yang selama ini menjadi masalah di Jakarta.
Menariknya, semangat Susukan ini memberikan secercah harapan bagi wilayah seperti Bekasi yang tengah kering kerontang. Penerapan biopori jumbo secara masif di daerah langganan kekeringan bisa menjadi benteng alami untuk menjaga ketersediaan air tanah saat musim kemarau tiba. Para aktivis lingkungan mendorong agar program serupa segera direplikasi di daerah-daerah dengan potensi kekeringan tinggi.
Dalam konteks perubahan iklim yang menyebabkan cuaca semakin ekstrem—kemarau lebih panjang, hujan lebih deras—pendekatan adaptif seperti biopori jumbo bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat perlu bergerak bersama memperbanyak titik resapan. Krisis kekeringan di Bekasi adalah alarm bagi Jabodetabek dan seluruh Indonesia untuk mulai ‘menabung air’ dari sekarang.
Dari 63 tong di Susukan, bisa jadi sebuah gerakan nasional dimulai. Dari keluhan ribuan KK di Bekasi, bisa jadi lahir kebijakan konservasi air yang lebih radikal. Alam sudah memberi sinyal; tinggal bagaimana manusia merespons.
[SOCIAL_TWEET]: Ribuan KK di Bekasi terdampak kekeringan, sementara Jakarta Timur justru membagikan 63 biopori jumbo. Dua wajah kemarau: krisis dan solusi. Apakah biopori bisa jadi jawaban jangka panjang? #KekeringanBekasi #BioporiJumbo #KonservasiAir[SOCIAL_TG]: 💧 Kekeringan landa Bekasi, 3.200 KK terdampak. Di saat bersamaan, Jakarta Timur justru pasang 63 biopori jumbo untuk ‘menabung’ air hujan. Inovasi tong bekas resapkan air sepuluh kali lebih cepat — mencegah banjir dan kekeringan sekaligus. Bisakah ini menjadi model untuk wilayah krisis air?
Comments (0)