Sep 19, 2026
Nasional

BEIJING — Atlet HYROX Joanna Wietrzyk Mengalami Kejadian Tak Terduga Saat Berlomba

Dunia olahraga ketahanan fisik kembali dihebohkan oleh insiden tak terduga yang dialami oleh seorang atlet HYROX, Joanna Wietrzyk, dalam ajang kompetisi be

BEIJING — Atlet HYROX Joanna Wietrzyk Mengalami Kejadian Tak Terduga Saat Berlomba

Dunia olahraga ketahanan fisik kembali dihebohkan oleh insiden tak terduga yang dialami oleh seorang atlet HYROX, Joanna Wietrzyk, dalam ajang kompetisi bergengsi di Beijing, Tiongkok. Di tengah perjuangan menguras tenaga untuk menyelesaikan deretan tantangan fisik yang amat berat, Joanna harus menghadapi momen canggung saat tubuhnya tidak lagi mampu menahan dorongan alami dari sistem pencernaan. Kejadian tersebut menjadi viral di media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram @shanghaidaily dan langsung memicu perbincangan hangat di kalangan pecinta kebugaran dunia.

HYROX sendiri dikenal sebagai perlombaan kebugaran hibrida yang sangat menyiksa fisik, mengombinasikan lari dengan total jarak tempuh 8 kilometer dan delapan jenis latihan fungsional intensitas tinggi seperti sled push, burpee broad jumps, hingga wall balls. Dalam kondisi fisik yang terdorong hingga batas maksimal, fenomena ketidakmampuan menahan buang air besar (BAB) atau yang awam disebut 'cepirit' sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya asing di dunia olahraga ekstrem.

Mengapa Olahraga Ekstrem Bisa Memicu Masalah Pencernaan?

Secara medis, fenomena ini kerap dikenal dengan istilah runner's diarrhea atau gangguan gastrointestinal akibat dorongan fisik yang ekstrem. Para ahli medis menjelaskan bahwa ketika seseorang melakukan aktivitas fisik berintensitas sangat tinggi, sistem saraf simpatis akan mengambil alih secara penuh. Tubuh secara otomatis mengalihkan aliran darah dari organ dalam, termasuk saluran pencernaan, menuju ke otot-otot rangka yang membutuhkan pasokan oksigen secara mendesak.

Proses pengalihan aliran darah ini dapat mengurangi suplai oksigen ke usus hingga 80 persen. Dampaknya, pergerakan usus menjadi tidak teratur dan lapisan dinding usus dapat mengalami iritasi sementara. Hal inilah yang memicu rasa mulas mendadak yang sangat sulit dikontrol oleh para atlet saat berlaga di arena.

"Saat tubuh berada dalam kondisi stres fisik yang sangat tinggi, kontrol otot sfingter anal dapat melemah secara signifikan. Kombinasi antara peningkatan tekanan di dalam perut dan berkurangnya aliran darah ke usus membuat refleks menahan buang air besar menjadi jauh lebih sulit," ungkap seorang pakar kedokteran olahraga.

Tekanan Intra-Abdomen dan Otot Dasar Panggul

Selain masalah berkurangnya aliran darah, gerakan-gerakan dalam ajang HYROX seperti mengangkat beban berat dan melakukan gerakan melompat secara terus-menerus memicu peningkatan tekanan intra-abdomen (tekanan di dalam rongga perut). Tekanan yang luar biasa ini memberikan beban ekstra pada otot dasar panggul yang bertugas menahan organ-organ pencernaan.

Berikut adalah gambaran bagaimana intensitas olahraga dapat memengaruhi fungsi sistem pencernaan dan kontrol tubuh manusia:

Jenis Aktivitas Olahraga Aliran Darah ke Usus Risiko Gangguan BAB
Jalan Santai / Yoga Normal (100%) Sangat Rendah
Lari Maraton Sedang Berkurang 40-50% Sedang
HYROX / Olahraga Ekstrem Berkurang hingga 80% Sangat Tinggi

Langkah Pencegahan Bagi Para Pegiat Kebugaran

Bagi Anda yang gemar berolahraga intensitas tinggi, insiden yang dialami Joanna Wietrzyk memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya persiapan sistem pencernaan sebelum bertanding. Persiapan fisik yang matang harus diimbangi dengan manajemen nutrisi yang tepat. Berikut beberapa saran dari pakar medis:

  • Atur Pola Makan Pre-Workout: Hindari konsumsi makanan tinggi serat, berlemak, atau terlalu pedas minimal 24 jam sebelum perlombaan.
  • Batasi Kafein dan Pemanis Buatan: Zat-zat ini dapat merangsang pergerakan usus secara lebih cepat.
  • Beri Waktu Kosong bagi Usus: Usahakan untuk menyelesaikan proses buang air besar setidaknya 2 hingga 3 jam sebelum perlombaan dimulai.
  • Melatih Otot Dasar Panggul: Latihan otot panggul secara rutin dapat membantu memperkuat kontrol sfingter saat terjadi tekanan perut yang tinggi.

Meskipun terkesan canggung, fenomena yang dialami Joanna di Beijing membuktikan betapa dahsyatnya reaksi biologis manusia saat dipaksa menembus batas kemampuan fisik. Kejadian ini menjadi pengingat ramah bahwa di balik performa spektakuler para atlet di panggung dunia, tubuh manusia tetap memiliki mekanisme alami yang kadang tak terelakkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User