Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap lima jurnalis yang dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda akhirnya resmi ditutup. Tim SAR gabungan memutuskan menyudahi penyisiran setelah mengerahkan seluruh armada laut dan udara selama sepekan penuh tanpa menemukan petunjuk signifikan terkait keberadaan para korban.
Keputusan berat ini diambil menyusul habisnya masa tanggap darurat standar operasi pencarian sesuai regulasi yang berlaku. Di samping itu, kondisi perairan yang kian memburuk menjadi pertimbangan utama demi keselamatan tim penolong di lapangan.
Kronologi Insiden Hilangnya Rombongan Jurnalis
Insiden bermula ketika kapal motor yang ditumpangi rombongan jurnalis tersebut tengah berlayar untuk melakukan peliputan khusus di kawasan kepulauan sekitar Selat Sunda. Berikut adalah garis waktu peristiwa sejak kontak pertama terputus:
- Hari ke-1: Kapal motor dilaporkan hilang kontak setelah dihantam gelombang tinggi di sekitar perairan gugusan pulau Selat Sunda pada sore hari. Sinyal darurat sempat terpancar sebelum akhirnya padam total.
- Hari ke-2 hingga ke-4: Basarnas bersama TNI AL, Polairud, dan relawan nelayan menyisir area seluas 250 mil laut persegi menggunakan helikopter penyelamat dan puluhan kapal patroli. Sejumlah serpihan kayu dan perlengkapan kapal ditemukan mengapung, namun tidak ada tanda-tanda korban.
- Hari ke-5 hingga ke-6: Radius pencarian diperluas hingga ke pesisir selatan Lampung dan pantai barat Banten. Gelombang laut setinggi 3 hingga 4 meter menyulitkan penyelaman dan manuver perahu karet.
- Hari ke-7: Rapat koordinasi lintas instansi digelar bersama perwakilan keluarga korban untuk mengevaluasi seluruh hasil operasi penyisiran.
Faktor Cuaca Ekstrem dan Batas Waktu SOP Operasi
Pihak berwenang menegaskan bahwa penghentian operasi pencarian telah mempertimbangkan berbagai faktor teknis dan keselamatan personel. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, batas standar pelaksanaan operasi SAR adalah tujuh hari kerja.
"Seluruh potensi dan sumber daya telah kami kerahkan secara maksimal selama tujuh hari. Evaluasi komprehensif menunjukkan tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan korban di sektor pencarian, sementara risiko cuaca ekstrem di perairan Selat Sunda semakin membahayakan keselamatan personel," ujar Koordinator Misi SAR dalam konferensi pers resminya.
Faktor hidrometeorologi di Selat Sunda dalam beberapa hari terakhir memang terpantau sangat tidak bersahabat. Arus bawah laut yang kuat serta visibility dasar laut yang nol membuat teknik pencarian sonar maupun penyelaman tidak lagi efektif.
Peralihan ke Pemantauan Pasif
Kendati operasi pencarian aktif telah ditutup, Basarnas menegaskan bahwa status pencarian kini beralih menjadi operasi pemantauan pasif. Tim penyelamat tetap menyiagakan posko pemantauan dan menyebarkan maklumat pelayaran kepada kapal-kapal niaga maupun nelayan tradisional yang melintasi jalur tersebut.
Jika di kemudian hari ditemukan indikasi kuat atau laporan valid mengenai penemuan tanda-tanda keberadaan korban, operasi SAR gabungan dapat langsung dibuka kembali sewaktu-waktu.
Comments (0)