Di tengah gemerlap ruang pameran Plaza Senayan, seorang perempuan berdiri diam di depan vitrine kaca. Matanya menyapu setiap inci permukaan jam tangan yang dipajang, seolah mencari jejak perjalanan panjang yang terkubur dalam balutan baja dan kaca safir. Di sana, Bar Indices, karya terbaru milik Miho Wada, Design Director of Credor Team, tidak sekadar menunjukkan angka dan jarum. Ia mengisahkan perjuangan seorang perancang yang memilih untuk berbisik dalam dunia yang terbiasa berteriak. Pameran SEIKO Power Design Project 2026, yang menghuni lantai galeri Jakarta mulai 20 Juli hingga 1 Agustus 2026, menjadi panggung di mana kesederhanaan berbicara paling keras dan menyentuh hati ribuan pengunjung yang berhenti sejenak untuk mendengarkan.
Mimpi yang Terukir dalam Indeks Sederhana
Perjalanan Miho Wada di dunia horologi tidak dimulai dari kemegahan, melainkan dari rasa ingin tahu yang ia bawa sejak muda. Bergabung dengan tim Credor, ia bukan hanya merancang jam tangan, tetapi merajut hubungan personal antara manusia dan waktu yang terus berlalu. Bar Indices lahir dari keinginan dalam hatinya untuk menghapus keangkuhan. Tidak ada angka-angka rumit yang menghiasi dial, hanya batang-batang indeks minimalis yang berdiri tegak seperti prajurit diam penjaga momen-momen berharga. "Saya ingin pemakai merasa tenang, bukan tertekan oleh waktu yang terus berlari," ucapnya dalam sebuah momen mengharukan saat ia membuka diri tentang proses kreatif di balik karya ini.
Bagi Miho, setiap garis yang digambar di atas kertas sketsa adalah air mata dan tawa yang bercampur menjadi satu. Ia berjuang meyakinkan bahwa keindahan tidak selalu memerlukan ornamen berlebihan. Kadang, yang paling menginspirasi justru datang dari keberanian untuk membuang dan merelakan. Filosofi itulah yang mengalir dalam desain Bar Indices, di mana kesederhanaan bukanlah akhir dari pemikiran, melainkan bentuk keberanian tersendiri untuk menampilkan jati diri.
Di Balik Layar Taller Credor
Di balik layar bengkel Credor, sunyi sering kali menjadi penyambung ide-ide liar. Miho menghabiskan berbulan-bulan hanya untuk memutuskan proporsi batang indeks yang tepat. Terlalu tipis, jam itu terlihat rapuh dan tidak berjiwa. Terlalu tebal, karakternya menjadi agresif dan kehilangan kelembutan. "Saya ingin setiap batang itu bernapas, seolah hidup bersama pemakainya," katanya, menekankan betapa desain ini adalah perpanjangan dari perasaan manusiawi yang sering terlupakan. Proses tersebut bukan tanpa rintangan. Ada kalanya ia menatap prototipe yang gagal dengan perasaan campur aduk, meragukan apakah dunianya yang sederhana ini bisa diterima. Namun dari situlah ia bangkit, memahami bahwa kerapuhan adalah bagian dari inspirasi yang sesungguhnya.
"Saya tidak menciptakan jam tangan. Saya mencoba menangkap bisikan waktu agar bisa dipegang, dirasakan, dan dikenang oleh seseorang yang mungkin sedang menjalani harinya dengan berat."
Kutipan itu terlontar lirih, namun cukup kuat untuk menggambarkan bagaimana setiap keputusan desain diambil dengan hati. Dari pemilihan material hingga sentuhan akhir pada permukaan dial, semuanya adalah persembahan untuk mereka yang percaya bahwa waktu adalah milik pribadi, bukan milik angka-angka yang mengejar.
Jakarta, Panggung Perjumpaan dan Harapan Baru
Membawa karya ini ke Jakarta bukan sekadar agenda pameran rutin. Bagi Miho, Indonesia adalah tempat di mana kehangatan manusiawi terasa paling nyata. Selama dua pekan di Plaza Senayan, ia menyaksikan sendiri bagaimana pengunjung dari berbagai latar belakang berhenti, menatap, dan tersenyum saat melihat Bar Indices. Ada air mata seorang pria paruh baya yang mengatakan bahwa desain jam itu mengingatkannya pada jam tangan ayahnya yang sederhana. Ada pula seorang perempuan muda yang berkata bahwa ia akhirnya merasa "dimengerti" oleh sebuah benda mati. Momen-momen itulah yang menjadi bukti bahwa sebuah karya bisa melampaui fungsinya dan menjadi bagian dari kisah hidup orang lain.
Sebelum tirai pameran SEIKO Power Design Project 2026 ditutup pada 1 Agustus 2026, Miho Wada meninggalkan sebuah jejak yang tidak akan hilang begitu saja. Ia membuktikan bahwa di balik setiap jarum yang bergerak, ada mimpi seseorang yang berani tampil apa adanya. Bar Indices bukan hanya arloji di pergelangan tangan. Ia adalah teman diam yang mengingatkan kita untuk bernapas, berjuang, dan terus melangkah—satu detik sederhana pada satu waktu.
Comments (0)